Minggu, 01 Agu 2021,


tamasya-ke-dieng-berujung-petaka-covid19-di-desa-brenggongMaryono salah satu pasien positif Covid-19, warga Rt 3 Rw 2 Desa Brenggong Kecamatan Kabupaten Purworejo.(w asmani/koranbernas.id)


Wahyu Nur Asmani EW
Tamasya ke Dieng Berujung Petaka Covid-19 di Desa Brenggong

SHARE

KORANBERNAS.ID,PURWOREJO-- Munculnya klaster baru penularan Covid-19 di Desa Brenggong Kecamatan/Kabupaten Purworejo Jawa Tengah harus dijadikan pelajaran untuk daerah lain. Bilamana tidak, gara-gara warga desa tersebut bertamasya ke Dieng Kabupaten Wonosobo,sebanyak 79 warga desa tersebut terpapar Covid-19. Bahkan tiga orang diantaranya meninggal dunia dan 35 orang menunggu hasil swab PCR.


Kasus di Desa Brenggong menjadi buah bibir dan memprihatikan. Sebab dari 79 warga yang terpapar virus ternyata diantaranya merupakan kepala desa dan 8 perangkat lainnya. Akibatnya Kantor Desa Brenggong terpaksa sementara ditutup sampai Kades dan perangkat dinyatakan sembuh.


Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Purworejo, sekaligus Camat Purworejo Sudaryono mengaku cukup terkejut dengan kejadian tersebut. Dia tidak menyangka tambahan kasus positif bisa meningkat signifikan dari desa Brenggong.

"Selama pandemi Covid-19, Desa Brenggong cukup tenang, kalaupun ada warga yang positif Covid-19 hanya beberapa orang. Kepala Desa terkenal cukup patuh serta disiplin terhadap protokol kesehatan," ujarnya.


Namun kali ini kejadian cukup mengejutkan. Menurutnya Kades dan para perangkat kemungkinan jenuh sehingga nekat memutuskan tamasya.

Dengan munculnya kasus tersebut, warga desa pun harus melakukann isolasi mandiri. Menolak diisolasi secara terpusa, warga memilih isolasi mandiri di desa. Akibatnya desa tersebut nampak lengang. Hanya nampak beberapa sepeda motor berlalulalang.

Maryono, salah satu pasien positif Covid-19, warga RT 3 RW 2 desa tersebut mengatakan penyebab terpaparnya positif Covid-19 bukan semata-mata karena tamasya. Sebelum dirinya dan perangkat lainnya piknik ke Dieng Wonosobo, ada sripah (meninggalnya tetangga-red) yaitu mbah Yoso yang sepuh (tua-red) sekitar 25-26 Mei 2021 lalu. Maryono yang juga sebagai Kaur Kesra atau bagi warga desa menyebutnya Pak Kaum (tokoh agama) selalu mengurusi kematian warganya pun melayat ke almarhum mbah Yoso. Penularan dimungkinkan terjadi saat anak-anak Mbah Yoso dari Bekasi dan Jakarta datang sempat membesuk orangtuanya yang sempat sakit. 

"Awal peristiwa kalau saya runut, keluarga termasuk anak-anak Mbah Yoso warga RT 2 RW 2 Dusun Ngawang-awang datang membezuk karena mbah Yoso sakit. Setelah mereka pulang, lewat dua hari, sekira tanggal 25 atau 26 Mei, Mbah Yoso meninggal dunia. Ada dua anaknya yang pulang kembali dari Jakarta, kami warga juga ikut takziyah," terang Maryono.

Bahkan keluarga pun menggelar tahlilan, hari keempat tahlilan, Maryono mengaku tidak ikut karena akan berangkat piknik.

"Saya pada hari ke 4 ijin tidak bisa turut membacakan Yasin tahlil untuk mbah Yoso karena persiapan pergi ke Dieng,"

Maryono beserta rombongan yang terdiri dari Kades, perangkat beserta keluarga melakukan perjalanan tamasya ke Dieng Kabupaten Wonosobo dengan menggunakan 1 bis kecil dan 1 mobil, Sabtu (29/6/2021).

"Peserta piknik sekitar 36 orang, kami saat duduk tidak membuat jarak," ujarnya.

Dalam tamasya, salah seorang peserta piknik yakni Kaur Perencanaan Kusriyanto sudah merasakan sakit. Setelah dari Dieng, dua orang perangkat yang ketahuan positif corona. Sehingga kemudian semua ditracing, hasilnya sungguh membuat  tercengang karena 79 warga terkonfirmasi positif.

"Saat itu Pak Kusri tetap ikut piknik. Kami tidak melarang karena hanya kami kira flu biasa," jelas Maryono.

Maryono mengatakan dirinya beserta istri dan dua anaknya yang juga terpapar corona, menjalani isolasi mandiri sejak tanggal 8 Juni lalu. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah dan warga sekitar. Maryono beserta keluarga akan selesai menjalani isoman 22 Juni 2021

"Alhamdulillah, kami tidak ada keluhan. Saya memang ikut piknik ke Dieng tanggal 29 Mei lalu. Sempat batuk panas, kemudian karena ada warga yang positif, kami ikut swab di balai desa tanggal 8 Juni, hasilnya positif," jelas Maryono saat diwawancara di halaman rumahnya.

Saat ini warga yang menjalani isolasi mandiri tinggal recovery (pemulihan). Mereka pun beraktivitas seperti biasa karena tidak diberlakukan pembatasan kegiatan. 

"Untuk teman-teman warga yang lain saya minta jauhi kerumunan dan jaga kesehatan," ajak Maryono.  

Sementara Ketua Dusun 2 Ngawang-awang Sukoyo yang turut takziyah almarhum mbah Yoso dan tamasya ke Dieng mengakunegatif Covid-19. Sukoyo merasa sangat prihatin dengan tingginya jumlah pasien positif Covid-19 di desanya. Sebagai pamong yang sehat (negatif Covid-19) dirinya siap membantu warga yang sedang melakukan isolasi mandiri.

Sukoyo memastikan semua warga yang sedang menjalani isolasi mandiri tercukupi kebutuhan pangannya. Sebab logistik bantuan dari Pemkab sudah datang dan bantuan dari relawan lainnya, seperti PMI, Komunitas Sedekah Sehari Seribu (S3), Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan lainnya juga berdatangan.

"Dan, mulai hari ini Satgas Covid-19 Kabupaten Purworejo membuka dapur umum. Kebutuhan makan 3 kali dalam sehari sudah disiapkan," terang Sukoyo.

Selain itu Aribowo Ketua RT 02 RW 03 mengaku prihatin dengan tingginya jumlah pasien positif Covid-19 di Desa Brenggong. Sebab ada satu warga di Rt nya yang meninggal dunia. Dirinya turut menghimbau bagi warga Brenggong untuk patuhi protokol kesehatan. Jangan duduk berdampingan.

"Selama pandemi Covid-19 desa saya sangat aman. Namun tiba-tiba jumlahnya pasien positif Covid-19 tinggi," sebutnya.(*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini