Selasa, 27 Okt 2020,


tak-lazim-selain-album-perdana-grup-dangdut-asal-jogja-luncurkan-bukuSuasana peluncuran album perdana OM Wawes, Rabu (19/8/2020) siang. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Ms

Tak Lazim. Selain Album Perdana, Grup Dangdut Asal Jogja Luncurkan Buku


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- OM Wawes, grup dangdut nyentrik asal Yogyakarta yang malang melintang di dunia orkes melayu sejak 2012, meluncurkan abum pertama mereka. Album bertajuk RESTU ini diperkenalkan band yang digawangi Dhyen Gaseng (Vokal), Louis David (Kendang), Tony Kurniawan (Drum) dan Bayu Garninda (Gitar) kepada khalayak pada Rabu (20/8/2020).

Pandemi Covid-19 mau tidak mau menjadi sebab mudurnya peluncuran album perdana OM Wawes ini. Sejatinya album yang dipersiapkan sejak 2019 silam ini akan diluncurkan April 2020. Pandemi pula yang mengubah konsep peluncuran album mereka yang sebelumnya dijual dengan konsep boxset menjadi lebih sederhana.

"Bukan tanpa alasan, pandemi berkepanjangan membuat daya beli menurun. Awalnya album RESTU akan dikemas dalam bentuk boxset, namun agar bisa terjangkau di tahun pandemi ini, akhirnya disederhanakan dan lebih ekonomis dengan berisi sebuah t-shirt, buku, dan CD yang dikemas dalam totebag," papar Dyen Ganjar Prabowo, vokalis OM Wawes, saat launching abum Rabu, (19/8/2020) di Frog Shelter, Sleman, Yogyakarta.

Album RESTU ini adalah impian OM Wawes sebagai band dangdut. Mereka sengaja ingin membuat album untuk melengkapi perjalanan karir di genre musik dangdut. Album ini juga sekaligus ingin menstimulus grup dangdut lainnya yang belum berpikir untuk membuat album penuh.

“Bagi kami, punya album adalah kewajiban bagi sebuah band. Di musik dangdut, dari dulu pendengar sudah dimanjakan oleh single-single yang dirilis secara cuma-cuma di Youtube dan platform musik digital lainnya," kata Dyen.

“Nah ini waktunya bagaimana kita sekaligus mengedukasi pendengar dangdut agar bisa menikmati karya eksklusif dan mengapresiasi sebuah karya dengan membeli album fisik,” tambahnya.

Musikalitas OM Wawes sudah tak usah lagi dipungkiri. Musik dangdut yang segar acap mereka kolaborasikan dengan berbagai genre lain. Misal, beberapa kali OM Wawes berkolaborasi dengan YK Brass Ensemble. Hal ini tentu sesuatu yang baru dan berbeda dalam ranah musik dangdut di Indonesia.

Buku OM Wawes

Selain album musik yang didistribusikan ke dalam bentuk cakram padat, hal tak lazim lain adalah dalam paket penjualan album perdana OM Wawes disertakannya sebuah buku Om Wawes: Babat Alas Dangdut Anyar yang ditulis oleh Michael HB Raditya dan Om Wawes. Buku setebal 276 halaman ini berisikan inisiatif OM Wawes untuk mencatat kerja mereka selama mengarungi dunia dangdut di Yogyakarta.

Inisiatif dan kesadaran yang tidak lazim dilakukan oleh musisi dangdut, baik di skema dangdut nasional ataupun lokal. Alih-alih berisikan biodata personal, buku ini justru mengartikulasikan konstelasi dangdut di Yogyakarta sebelum dan sesudah mereka hadir.

Pada bagian awal, pembaca akan dibawa pada masa dangdut era 1960 hingga 1990, masa Boneka Indianya Ellya Khadam dan hits Rhoma Irama santer diputar di radio berfrekuensi pendek hingga panggung Aneka Ria Safari di TVRI pada 1980-an.

Kegigihan musik dangdut hingga perseteruan Rhoma Irama dengan Benny Soebardja, gitaris grup rock The Giant Step, disampaikan dalam tulisan dan ilustrasi yang bagus karya Iwank HS. Baru setelah 2010, buku ini menceritakan perjalanan OM Wawes, mulai dari format penyanyi solo, electone, hingga band.

Lebih lanjut, buku ini menceritakan perjalanan OM Wawes dengan pelbagai lika-likunya. Pasalnya tidak dapat dipungkiri jika mereka telah mengawali karier dangdut sejak 2012 yang tentu keadaan musik dangdut sangat berbeda dengan apa yang kita rasakan sekarang. Saat ini penonton muda dan perempuan kece tidak lagi malu untuk menyaksikan dan bergoyang dangdut secara langsung.

Perjalanan berliku mulai dari pemilihan biduanita, cara lagu disajikan, hingga kiblat musikal mereka membuat OM Wawes “jatuh bangun” menapaki karier di jagad musik dangdut. Buku ini juga mengurai apa yang mereka arungi dan mereka ubah, mulai dari gender dari biduan (biduan lelaki-red), konsep musikal, tema lirik, hingga performativitas mereka. Dampaknya adalah terjalinnya perubahan pada ruang pertunjukan, penonton, hingga citra yang melekat pada dangdut.

Alhasil, buku ini tidak hanya dapat menuturkan sejarah masa lalu dangdut di Yogyakarta, tetapi juga mengurai dangdut masa kini, dan menerka bagaimana masa depan dangdut di Yogyakarta ataupun nasional. (eru)


Baca Lainnya :


Baca Lainnya :



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini