Sabtu, 05 Des 2020,


pengelola-wisata-memperketat-pengunjung-tidak-bermaskerPelatihan Pengelola Wisata. Badan Otorita Borobudur melaksanakan pelatihan pengelola wisata di Lembah Ngingrong, Kalurahan Mulo, Wonosari, Senin (19/10/2020). (sutaryono/koranbernas.id)


Sutaryono

Pengelola Wisata Memperketat Pengunjung Tidak Bermasker


SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL -- Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Indah Juanita berharap, pada para pengelola wisata untuk memperketat pengunjung yang tidak mematuhi protokol kesehatan, termasuk tidak memakai masker.

“Pada masa pandemi, pelaksanaan uji coba wisata diatur dengan aturan yang ketat. Salah satunya harus memakai masker, mematuhi protokol kesehatan serta adanya pembatasan jumlah pengunjung di setiap destinasi,” kata Indah Juanita, ketika membuka Sosialisasi Pelatihan dan Pendampingan Daya Tarik Wisata di Lembah Ngingrong, Kalurahan Mulo, Wonosari, Senin (19/10/2020).


Baca Lainnya :

Ditambahkan, hal ini dilakukan agar mata rantai penyebaran virus Corona bisa diputus. Ia pun berharap, pemakaian masker pada setiap pengunjung, bisa dipatuhi pengelola agar pelaksanaan wisata bisa berjalan dengan aman lancar serta sehat jauh dari ancaman penyebaran virus.

“Semua harus mematuhi, dan ini menjadi salah satu fokus dalam pelatihan,” kata Indah.


Baca Lainnya :

Menurut dia, dalam pelatihan ini juga diberikan sosialisasi aturan dalam adaptasi kebiasaan baru. Selain itu juga digelar penghitungan jumlah wisatawan yang aman untuk kunjungan, alur wisatawan, pemetaan zonasi wisatawan, visitor management, layanan prima dan sapta pesona. “Pelatian digelar juga sebagai penyusunan SOP dalam pelaksanaan kepariwisataan,” tambahnya.

Diakui, SOP yang dibentuk tidak sama di setiap destinasi, karena didasarkan pada karakteristik masing-masing obyek.

“Jadi antara Ngingrong dengan destinasi lain akan beda karena SOP disusun berdasarkan karakter masing-masing,” tuturnya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Direktur Industri dan Kelembagaan, Badan Otorita Borobudur, Bisma Jatmika. Menurut dia, sesuai dengan cakupan wilayah kewenangan, Badan Otorita Borobudur mengampu untuk kawasan Jateng-DIY.

“Untuk Ngingrong merupakan percontohan di Gunungkidul. Tapi, kegiatan yang sama juga sudah kami selenggarakan di beberapa wilayah lain seperti Sleman dan Boyolali,” katanya.

Ia berharap dengan sosialisasi ini bisa meningkatkan pengetahuan sumber daya manusia terkat dengan tata aturan adaptasi kebiasaan baru di sektor kepariwisataan.

“Ada 20 peserta dari pengelola wisata Ngingrong yang ikut pelatihan,” ucapnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukomono mengatakan, selama uji coba pembukaan destinasi wisata, pihaknya sudah melakukan evaluasi terkait dengan penyelenggaraan. Adapun hasilnya masih ada beberapa catatan yang harus diperbaiki, terutama menyangkut masalah protokol kesehatan. “Memang ada yang belum tertib dan ini menjadi catatan kami,” pungkasnya. (*)

 

 



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini