Orang Tua Malu, Hambatan Utama Olahraga Disabilitas
Undang-undang No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menjamin kesetaraan yang sama.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA - Stigma dan rasa malu orang tua terhadap anak penyandang disabilitas masih menjadi hambatan utama dalam membangun kebiasaan berolahraga di kalangan anak-anak berkebutuhan khusus.
Hal ini terungkap dalam Seminar Olahraga Disabilitas yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Selasa (15/10/2024), di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta.
Ketua Bidang Pembinaan Prestasi NPC DIY, Dr Rumpis Agus Sudarko MS, mengungkapkan fakta mengejutkan ini saat menyampaikan materi di hadapan peserta seminar.
"Banyak orang tua yang hingga kini masih malu mengakui keberadaan anaknya yang penyandang disabilitas. Ini salah satu tantangan terbesar kita," ujarnya.
Komitmen pemerintah
Seminar bertajuk Tantangan Membangun Kebiasaan Berolahraga pada Anak Penyandang Disabilitas ini digelar secara hybrid, menandai komitmen pemerintah mendukung inklusivitas olahraga.
Asisten Deputi Olahraga Penyandang Disabilitas Kemenpora, Dr Ibnu Hasan M Pd, menegaskan undang-undang telah menjamin kesetaraan bagi penyandang disabilitas termasuk dalam kesempatan berolahraga.
"Undang-undang No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menjamin penyandang disabilitas mendapatkan perlakuan dan kesetaraan yang sama. Tidak boleh lagi ada stigma negatif," tegasnya.
Namun realita di lapangan masih jauh dari ideal. Risvani, orang tua Muhammad Rafi Zulfandi, atlet badminton penyandang disabilitas intelektual, berbagi pengalaman panjang menemukan bakat anaknya.
Akhirnya cocok
"Proses Rafi menemukan bakatnya sangat panjang. Sempat saya ikutkan taekwondo, renang, basket, bola tangan, atletik, hingga akhirnya cocok di badminton," ceritanya menggambarkan perjuangan dan kegigihan itu.
Rumpis menekankan berbagai manfaat olahraga bagi penyandang disabilitas, mulai dari kesehatan fisik hingga inklusi sosial. "Olahraga akan menjadikan penyandang disabilitas sehat, meningkatkan daya tahan tubuh, dan kebugaran. Dari sisi sosial, olahraga membantu inklusi sosial karena akan mengurangi stigma," jelasnya.
Kepala Dinas Dikpora DIY, Didik Wardaya, menyoroti pentingnya membangun budaya inklusif di sekolah-sekolah. "Kita harapkan hal ini bisa menjadi pemicu semangat kita memberikan kesetaraan kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali," ujarnya.
Wardaya juga mengutip filosofi pendidikan kuno Non scholae sed vitae discimus yang berarti kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup.
Semua anak
Menurut dia, pendidikan termasuk olahraga harus mempersiapkan semua anak, termasuk penyandang disabilitas untuk kehidupan mereka di masa depan.
Seminar diikuti atlet penyandang disabilitas berprestasi, Muhammad Rafi Zulfandi dan Syifa Nur Arrafah, sebagai bukti nyata dengan dukungan yang tepat anak-anak penyandang disabilitas mampu mencapai prestasi tinggi di bidang olahraga.
Meski tantangan masih besar, seminar ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran dan mendorong aksi nyata untuk inklusivitas olahraga bagi penyandang disabilitas.
Sebagaimana disampaikan Wardaya dalam penutupan seminar, “Untuk bisa mengerti, kita tidak harus mengalami. Untuk bisa memahami, kita tidak harus ikut menderita."
Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, media dan masyarakat, diharapkan stigma terhadap penyandang disabilitas dapat dihapuskan, membuka jalan bagi partisipasi yang lebih luas dalam dunia olahraga dan kehidupan sosial secara umum. (*)