Membaca Fragmen Hierofani pada Bulan Purnama

Membaca Fragmen Hierofani pada Bulan Purnama
Dari kiri, Kris Budiman, Ida Fitri dan Savitri Damayanti. (Istimewa).

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Novel berjudul Hierofani, karya Kris Budiman yang diterbitkan Kepustakan Populer Gramedia (KPG), akan dibacakan dalam acara Sastra Bulan Purnama, Sabtu, 20 Juli 2024, pkl 15.30 di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224. (Atau di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta, atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru, atau juga sebelah selatan ban-ban  Gondolayu).

Dalam novel ini terdapat 7 bab, semua bab akan dibacakan dalam bentuk fragmen-fragmen. Kris Budiman, penulis novel, meringkas setiap bab menjadi fragmen-fragmen dan masing-masing fragmen akan dibacakan oleh 7 orang pembaca. Ana Ratri, seorang pemain teater akan membacakan fragmen 1, Nanik Indrati, membacakan fragmen 2, Meuz Prazt, seorang perupa membacakan fragmen 3, Ida Fitri, peneliti membacakan fragmen 4, Ikun Kuncoro, cerpenis membacakan fragmen 5, Savitri Damayanti, alumnus Sastra Jawa FIB UGM membacakan fragmen 6 dan Bey Saptomo, penulis sastra Jawa dan pemain ketoprak membacakan fragmen 7.

Dalam pembacaan fragmen novel berjudul Hierofani, para pembaca tidak maju satu demi satu secara bergantian untuk membaca fragmen yang sudah dipilih, melainkan para pembaca semua maju di depan, bisa dalam format duduk di  kursi yang ada meja panjangnya, dan secara berurutan, tanpa jeda pera pembaca  membacakan fragmen dengan cara dan gaya berbeda-beda, sehingga pembacaan fragmen ini terus bersambung.

“Pembacaan fragmen novel karya Kris Budiman ini dihadirkan seperti pertunjukan, yang dilakukan oleh setiap pembaca fragmen,” kata Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Sebelum pertunjukan dimulai, Yupi, seorang pelantun lagu puisi sambil memainkan keyboard, akan mengawali lagu puisi, yang sudah cukup banyak dia buat, dan nantinya, pada saat penutupan acara, Yupi kembali menyuguhkan lagu puisi.

Kris Budiman, sebagai penulis novel mengatakan, “Hierofani, demikian saya memberi judul novel ini.” Hierofani, untuk mudahnya, dapat dipahami dengan singkat sebagai pengejawantahan dari Yang Suci, manifestasi dari Yang Kudus.

“Sebagai sebuah fiksi perjalanan (travel fiction), novel ini mengisahkan perjalanan atau petualangan Toni, sang tokoh utama, mencari sebuah arca (Bagian I), tirta atau air suci (Bagian II), serta batu mustika (Bagian III). Dalam pencarian-pencarian ini dia didampingi oleh sahabat-sahabatnya: Wawan, Sartika, dan Indah,” ujar Kris Budiman.

Pada Bagian I, demikian Kris Budiman menjelaskan, perjalanan mencari arca, Toni bertualang hingga ke pelosok-pelosok Pulau Bali, Semarang, dan Lasem; menyusuri jejak para pengungsi/pemberontak Tionghoa pasca-Tragedi Berdarah di Batavia (1740).

“Sebaiknya ikuti pembacaan fragmen atau membaca bukunya, saya tidak perlu menjelaskannya di sini,” kata Kris Budiman.

Christina Udiani, pimpinan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), yang menerbitkan Hierofani menyebutkan, novel karya Kris Budiman perlu untuk dibaca dan diikuti perjalanan Kris Budiman yang dituliskan dalam bentuk novel.

“Pembacaan fragmen novel ini merupakan salah satu bentuk ajakan kepada orang lain untuk membaca novel karya Kris Budiman, bukan hanya novel Hierofani saja, melainkan novel Kris Budiman yang sudah diterbitkan.

Selama ini, demikian Ons Untoro menyampaikan, Sastra Bulan Purnama diisi pembacaan puisi dan cerpen, sesekali geguritan dan cerkak, karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Jawa, dan kali ini, novel mengisi Sastra Bulan Purnama.

“Karena telah dibuat fragmen oleh penulisnya, sehingga pembacaan novel ini tidak memerlukan waktu panjang sebagaimana kalau novel dibacakan secara utuh,” ujar Ons Untoro. (*)