Kisah Nizar Bawazier Anak Temanggung yang Menempa Besi Jadi Mimpi
Dia merintis merek sendiri yang kelak dikenal sebagai Importa, singkatan dari Indonesia Modern Part of Asia.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di sebuah sudut Temanggung, pada tahun 2003, seorang anak muda bernama Nizar Bawazier baru saja lulus SMA. Pada usia ketika banyak teman sebayanya sibuk menyiapkan kuliah, Nizar justru dihadapkan pada dua pilihan, melanjutkan pendidikan atau bekerja.
Pilihan keduanya tak populer, apalagi di keluarga yang hidup sederhana. Namun dia tahu tentang keberanian memulai. “Kalau mau kerja, tak silihi toko neng Temanggung. Tapi ya minjemi, bukan ngasih,” ujar Nizar mengenang ayahnya, Jumat (10/10/2025).
Yang dia peroleh bukan warisan bisnis lengkap dengan modal, tapi kepercayaan dan ruang kecil, sebuah toko mebel sederhana di kawasan MT Haryono, hanya berukuran 8 x 12 meter. Dari tempat inilah semuanya dimulai.
Tahun 2004, toko itu resmi dibuka. Tanpa modal, Nizar mengandalkan sistem konsinyasi, barang dititipkan, dibayar setelah laku. Keuntungan kecil tapi cukup untuk bertahan.
Gudang kecil
Saat melihat potensi sofa, dia memutuskan memproduksi sendiri, meski belum punya modal untuk membeli bahan baku. Nizar meminjam Rp 15 juta dari sang kakak, digunakan untuk menyewa gudang kecil dan mulai merakit sofa sederhana.
Setiap hari, ia berkeliling membawa 4-5 set sofa di atas mobil pikap, ke toko-toko di Jogja dan Semarang. Dia menjadi pengemudi, sales, sekaligus pengantar barang. Pernah suatu hari seluruh sofa yang dibawa habis terjual hanya dalam sehari. “Jadi sales juga. Semua dikerjain sendiri,” ujarnya.
Peruntungan datang tak lama setelah itu. Akhir 2004, seorang Event Organizer (EO) menawarinya ruang kecil di Galeria Mall Yogyakarta untuk mengikuti pameran furniture. Ukurannya 10 x 10 meter, sewanya Rp 5 juta. Bagi Nizar, angka itu besar tapi dia nekat mengambil risiko.
Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya. Produk sofanya laku keras. Dari sana, dia mulai memperluas jalur penjualan, tak hanya lewat toko dan keliling, tapi juga melalui pameran di mal besar seperti Ambarrukmo Plaza, Solo Square hingga Java Mall Semarang. “Lambat laun channel kemitraan mulai jalan. Malah sebagian besar omzet justru datang dari luar toko,” ujarnya.
Modal berani
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2009, Nizar mengambil langkah lebih besar. Dia berangkat ke China untuk melihat pameran furniture terbesar di dunia. Tanpa banyak modal, tanpa relasi, hanya dengan tekad untuk belajar. “Yang penting berangkat dulu. Cah SMA modal wani wae (berani saja),” katanya.
Dari perjalanan itu diperoleh pelajaran tentang sistem produksi massal, efisiensi bahan, hingga desain modular. Sepulang dari sana, dia mulai merintis merek sendiri yang kelak dikenal sebagai Importa, singkatan dari “Indonesia Modern Part of Asia”.
Pasar furniture menengah bawah Indonesia kala itu didominasi produk partikel board mudah jamuran, rapuh, dan sering dimakan rayap. Nizar tahu, ada celah di situ. Tahun 2017, dia memperkenalkan lemari pakaian berbahan besi.
Langkahnya tak mudah. Banyak yang menertawakan. “Lemari besi? Untuk pakaian? Siapa yang mau beli?” begitu komentar orang-orang.
Serupa kayu
Namun Nizar tak gentar. Dia percaya besi bisa ditempa menjadi sesuatu yang elegan dan fungsional. Untuk mewujudkan mimpinya itu, dia mulai mencetak motif (printing pattern) pada permukaan lemari agar tampilannya menyerupai kayu.
Hasilnya? Pasar menyambut positif. Produk anti-rayap dan anti-jamur itu mulai booming. “Aku bilang, ini lemari masa depan. Awalnya pelan, tapi lama-lama laku juga,” ujar CEO Importa itu.
Kini, lemari besi Importa dikenal luas sebagai solusi rumah tangga yang awet, terjangkau dan modern. Target pasarnya jelas yaitu kelas B dan C yang mendambakan kualitas tanpa harga tinggi.
Dua dekade sejak toko kecil di Temanggung itu dibuka, Importa tumbuh menjadi jejaring besar lebih dari 4.500 mitra toko mebel di seluruh Indonesia, dengan sekitar 3.500 di antaranya aktif melakukan repeat order. Tapi bagi Nizar, angka bukanlah tujuan akhir.
Margin sehat
Dia membangun sistem kemitraan berbasis pemberdayaan berupa pelatihan bisnis, pendampingan digital marketing dan manajemen stok untuk toko-toko kecil di berbagai daerah. “Kami ingin toko-toko kecil bisa naik kelas. Bisa jual produk berkualitas dengan margin sehat,” kata Nizar.
Baginya, Importa bukan hanya perusahaan, tapi ekosistem tumbuh bersama. Dirinya percaya, bisnis yang kuat adalah bisnis yang memberi manfaat ke banyak pihak.
Setelah menguasai pasar nasional, Nizar menatap keluar negeri. Tahun depan, targetnya ekspansi ke Filipina, negara yang menurutnya masih seperti Indonesia sepuluh tahun lalu pasarnya besar, tapi produk furniturenya masih didominasi partikel board.
“Mereka masih dominan partikel. Jadi kami ingin jadi pelopor lemari pakaian berbahan besi di sana,” ujarnya.
Mampu bersaing
Ambisinya bukan hanya soal ekspor, tapi membawa inovasi Indonesia ke kancah Asia Tenggara. Dia ingin Importa menjadi representasi bahwa produk lokal mampu bersaing di level regional.
Bagi Nizar, kunci kesuksesan bukan pada modal besar atau koneksi luas, melainkan konsistensi dan integritas. Selama 20 tahun berbisnis, dia mengaku tak pernah menunggak pembayaran pada supplier. Semua transaksi diselesaikan tepat waktu.
“Saya nggak pernah mblenjani janji. Itu yang saya jaga. Kalau orang sudah percaya, peluang akan datang sendiri,” ucapnya.
Nilai itu ditanamkan ke seluruh jajaran perusahaan melalui filosofi “BESI” singkatan dari Brave, Enthusiast, Synergy, Integrity. Filosofi itu bukan sekadar akronim, tapi juga cerminan perjalanan hidupnya yang ditempa dari bawah, tahan banting, tapi tetap lentur menghadapi perubahan.
Meraih award
Kini, Importa telah menjadi market leader kategori lemari besi dan dua kali meraih Top Brand Award. Dalam sebulan, mereka bisa menjual hampir 40 ribu unit lemari pakaian. Dari toko pinjaman orang tua seluas 8 x 12 meter, kini Nizar memimpin perusahaan nasional dengan ratusan karyawan dan ribuan mitra.
Di balik semua itu dia tetap menatap sederhana. “Saya yakin pasar kita besar. Tapi yang penting itu konsisten. Kalau nggak konsisten, nggak akan dapat momentum,” ungkapnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
