isak-tangis-ortu-mengiringi-siswa-korban-tenggelam-di-gabusan-bantulUpacara pelepasan jenasah Wirajati Sentika (w asmani/koranbernas.id)


Wahyu Nur Asmani EW
Isak Tangis Ortu Mengiringi Siswa Korban Tenggelam di Gabusan Bantul

SHARE

KORANBERNAS.ID,PURWOREJO -- Suasana haru mengiringi kepergian jenasah Wirajati Sentika (12) siswa kelas 6 SDN Pangenjurutengah 2 Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Rojat (sapaannya) tewas akibat tenggelam saat mengikuti study tour yang diadakan sekolah tersebut pada Selasa (20/9/2022).


Saat upacara pemberangkatkan jenasa alm Rojat, Suwaldi (57) ayah korban tampak matanya merah berkaca-kaca menahan tangis dan  Sutirah (47) ibu korban tampak sangat berduka kehilangan anak semata wayangnya.


Dari keterangan beberapa pihak termasuk biro travel Berkah disebutkan, musibah berawal ketika anak-anak berenang di kolam renang Puri Indah Park, Gabusan, Bantul setelah dari Kasongan dan Taman Pintar. Saat itu semua anak-anak terpantau berenang di kolam yang dangkal.

Selesai berenang, anak-anak kemudian mandi bilas. Pada saat itulah diketahui Rojat kembali lagi ke lokasi kolam renang. Kepada temannya Rojat mengatakan ada barang yang tertinggal.


Setelah semua selesai mandi, siswa beserta guru menuju bis berkemas untuk pulang. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Purworejo pihak biro perjalanan mengabsen peserta study tour dan diketahui bahwa Rojat belum terlihat. Untuk itu ada seorang guru turun dari bus dan kembali ke kolam renang tersebut. Setelah semua sudut di cari dan diketahui bahwa Rojat terlihat tenggelam di kolam renang sedalam 1,5 meter.
Rojat ditemukan pada Selasa (20/9/2022) pukul 16.45 WIB.


Pada saat dikeluarkan dari kolam renang, kondisi Rojat masih hidup dan sempat diberikan pertolongan pertama oleh pihak pengelola kolam renang. Namun sayang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Panembahan yang berjarak sekitar 4,5 KM dari lokasi kejadian, nyawa Rojat tak tertolong.

Suwaldi ayah korban menuturkan pihaknya memang merasa sudah ada firasat sebelum anaknya pergi untuk selamanya.

"Biarlah firasat yang saya rasakan hanya untuk saya saja. Saya memilih diam sambil menata hati," ujarnya.

Saat di tanya kronologi kejadian Suwaldi enggan memberi keterangan.

"Saya tidak tahu kronologi kejadian kematian anak saya, karena saya tidak ikut rombongan," ujarnya sambil menitikkan air mata.

Sementara itu, Kabid SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Paryono mengucapkan terimakasih atas dukungan moril dan materil dari semua pihak.

Dia menambahkan bahwa pada Selasa (20/9/2022) malam pihaknya sudah mengadakan perundingan dengan pihak-pihak terkait dan diketahui bahwa keluarga korban sudah menerima kejadian tersebut.

"Seperti sudah dijelaskan pak kyai pada saat pelepasan jenasah, diharapkan paska ini tidak ada informasi yang menimbulkan fitnah. Tadi malam dari pihak keluarga,  Polsek Sewon Bantul, Managemen water park, Biro perjalanan, pihak sekolah dan saya bersama Kepala Dindikbud sudah mengadakan musyawarah, hasilnya keluarga menerima musibah ini," jelas Kabid SD tersebut.

Paryono berjanji kejadian naas yang menimpa alm Rojat akan menjadi evaluasi dan mengingatkan sekolah atas kejadian tersebut.

"Study tour dalam upaya memberikan pengalaman di luar dan di dalam kelas, namun saya mengingatkan, pihak sekolah harus ada perencanaan matang, sehingga tidak menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan," sebutnya.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini