Inovasi Dokter UGM, Deteksi Dini Retinopati Diabetika dengan Kamera Smartphone
Sederhana dan fleksibel. Bisa digunakan dengan berbagai jenis smartphone, cocok untuk puskesmas atau posyandu.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Retinopati diabetika, komplikasi diabetes yang menjadi penyebab utama kebutaan permanen, kini dapat dideteksi lebih dini dengan inovasi alat sederhana yang dikembangkan oleh Prof Dr Muhammad Bayu Sasongko Ph D M Epid Sp M, seorang dokter spesialis mata konsultan vitreoretina dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dengan memanfaatkan kamera smartphone, alat ini menawarkan solusi murah dan portabel untuk mencegah kebutaan akibat diabetes, yang telah menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.
Data terbaru menunjukkan Indonesia memiliki 11-15 juta penderita diabetes, di mana 40 persen atau sekitar 6,5 juta orang mengalami retinopati diabetika. Dari jumlah tersebut, sekitar 3 juta mengalami gangguan penglihatan, dan 1-1,5 juta orang sudah menderita kebutaan.
“Kebutaan akibat retinopati diabetika bersifat permanen. Jika pasien sudah mengeluhkan penglihatan buram atau menurun, biasanya kerusakan pada retina sudah tidak bisa diperbaiki,” ujar Prof Bayu, Selasa (19/11/2024).
Sederhana
Inovasi ini berupa perangkat tambahan yang dipasang pada kamera smartphone, memungkinkan siapa saja, bahkan kader kesehatan, untuk mengambil foto retina dengan mudah.
“Alat ini dirancang agar sederhana dan fleksibel. Bisa digunakan dengan berbagai jenis smartphone, sehingga cocok untuk screening massal di tingkat puskesmas atau posyandu,” jelasnya.
Cara kerjanya pun sederhana. Alat dipasang pada kamera smartphone, lalu diarahkan ke mata pasien untuk mengambil foto retina. Hasil foto dapat langsung dianalisis atau dikirim ke tenaga medis melalui platform konsultasi jarak jauh.
Meskipun tidak sepenuhnya menggantikan alat canggih seperti fundus kamera rumah sakit yang harganya mencapai Rp 700 juta, akurasi alat ini mencapai 85 persen dan cukup efektif mendeteksi kelainan retina tahap awal.
Lebih murah
Menurut Prof Bayu, alat ini dibuat dari keprihatinan terhadap banyaknya pasien diabetes yang tidak terdeteksi retinopati-nya hingga akhirnya menjadi buta.
Selama ini, pemeriksaan retina memerlukan perangkat canggih yang harganya mahal dan hanya tersedia di rumah sakit besar. Akibatnya, banyak penderita diabetes di daerah terpencil tidak mendapatkan pemeriksaan dini.
Dengan inovasi ini, biaya screening dapat ditekan signifikan. “Kami mengusulkan agar alat ini menjadi salah satu topik prioritas teknologi kesehatan di Kementerian Kesehatan. Estimasi harga alat ini di bawah Rp 20 juta, jauh lebih murah dibandingkan perangkat canggih lainnya. Ini menjadikannya solusi yang sangat ideal untuk puskesmas dan komunitas,” kata Prof Bayu.
Proses pengembangan alat tersebut memakan waktu enam tahun sejak prototipe pertama dirancang pada 2018. Tantangan terbesar adalah memastikan alat kompatibel dengan berbagai ukuran bola mata, panjang fokus kamera, dan jarak lensa ke retina. Setelah melalui banyak revisi, prototipe final kini siap digunakan untuk semua jenis smartphone.
Usia diabetes
Selain itu, tren penderita diabetes yang semakin muda juga menambah urgensi penggunaan alat ini.
“Dulu kebutaan akibat diabetes banyak terjadi di usia 45-50 tahun. Sekarang, ada pasien yang mengalami kebutaan di usia 35 tahun akibat diabetes yang tidak terkontrol. Hal ini harus dicegah dengan deteksi dini,” ungkapnya.
Retinopati diabetika sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga pasien cenderung tidak menyadarinya hingga kondisi sudah parah.
Prof Bayu menekankan pentingnya pemeriksaan rutin bagi penderita diabetes, bahkan jika penglihatan masih normal.
“Screening idealnya dilakukan setiap enam bulan hingga setahun sekali. Dengan alat ini, kondisi retina dapat dipantau secara berkala, sehingga jika ditemukan tanda-tanda retinopati, langkah penanganan dapat segera dilakukan sebelum penglihatan terganggu,” ujarnya.
Izin edar
Alat ini diharapkan dapat segera mendapatkan izin edar dan didistribusikan secara luas, terutama ke fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan posyandu.
Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi dengan berbagai pihak, alat ini memiliki potensi besar untuk mengubah pendekatan deteksi dini penyakit retina di Indonesia.
“Inovasi ini tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang menyelamatkan penglihatan jutaan orang. Jika deteksi dini dilakukan, kita bisa mencegah kebutaan permanen dan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes,” ujarnya.
Dengan retinopati diabetika yang menjadi ancaman nyata, alat ini memberikan harapan baru bagi masyarakat Indonesia untuk mencegah kebutaan dan menghadirkan solusi kesehatan yang lebih terjangkau dan efektif. (*)