Burgerkill Guncang Panggung Kustomfest 2025

Tanpa basa-basi, band metal legendaris asal Bandung itu langsung meledakkan lagu pembuka Heal the Pain.

Burgerkill Guncang Panggung Kustomfest 2025
Penampilan Burgerkill di panggung Kustomfest 2025. (anggarakzza rayyi untuk koranbernas.id)  

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Dentuman bas dan raungan gitar menyayat udara malam Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (4/10/2025). Lampu panggung menyorot siluet empat personel Burgerkill yang melangkah naik stage, disambut pekikan “Begundaaaal!” dari ribuan penonton yang sudah menunggu sejak sore.

Tanpa basa-basi, band metal legendaris asal Bandung itu langsung meledakkan lagu pembuka Heal the Pain. Dari nada pertama, atmosfer hall JEC terguncang dan mendidih -- moshpit berputar, kepala bergoyang serempak dan tangan-tangan teracung di udara.

Malam itu, Burgerkill tampil dengan formasi terbaru terdiri Ronald Alexander Radja Haba pada vokal, Agung Hellfrog (gitar), Ramdan Agustiana (bas) dan Putra Pra Ramadhan (drum).

Namun bukan hanya aksi panggung yang menarik. Di tengah dentuman musik, Ronald menyapa penonton dengan logat khasnya. “Membawakan album pertama, waktu masih belia,” ujarnya sambil tersenyum.

Tampil beda

Kalimat itu disambut sorakan riuh. Canda-canda ringan itu seolah menjadi jeda hangat di antara teriakan distorsi dan hentakan drum.

Burgerkill malam itu memang tampil berbeda. Mereka tak sekadar manggung tetapi menghidupkan kembali memori dua dekade lalu dengan membawakan seluruh lagu dari album legendaris Dua Sisi (2000).

Lagu-lagu seperti Revolt!, Sakit Jiwa hingga Tiga Titik Hitam menghantam keras, mengingatkan penonton pada masa ketika band ini masih tumbuh di skena bawah tanah Ujung Berung Bandung Timur.

“Kayaknya agak turun, kurang ambyar, kurang ancur!” teriak Ronald di tengah setlist, memancing semangat penonton yang mulai kelelahan. “Begundaaaaal!” serunya lagi, dan seketika kerumunan kembali bergemuruh.

Ujung Berung

Puncak emosi malam itu datang ketika intro lagu Homeless Crew mulai dimainkan. Ronald menatap ke arah penonton, suaranya menggema di balik kabut asap panggung.

“Lagu ini buat keluarga kami di Ujung Berung. Dari sanalah semua ini dimulai," pekiknya.

Sorak dan tepuk tangan menyatu dalam luapan nostalgia. Lagu itu bukan sekadar penutup melainkan dedikasi bagi komunitas yang membesarkan Burgerkill sejak hari-hari awal mereka manggung di gang-gang sempit dan lapangan terbuka.

Penampilan Burgerkill menjadi salah satu momen paling berkesan di Kustomfest 2025, yang tahun ini mengusung tema Madchinist.

Musik metal

Semangat para perajin mesin dan budaya kustom berpadu dengan energi liar musik metal, menjadikan malam di JEC bukan hanya tentang motor dan karya, tapi juga tentang loyalitas, sejarah dan kebersamaan.

Ketika gema Homeless Crew memudar, banyak yang masih berdiri terpaku. Di wajah mereka, tampak lelah bercampur euforia. Ini bukti bahwa Burgerkill, dua dekade lebih masih menjadi nadi dari semangat perlawanan dan persaudaraan. (*)