atas1

Satu-satunya Suara Kritis Tinggal Tersisa di Kampus

Sabtu, 29 Des 2018 | 14:28:02 WIB, Dilihat 585 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Satu-satunya Suara Kritis Tinggal Tersisa di Kampus Gathering dan Refleksi Akhir Tahun 2018  & Outlook 2019 Program Pascasarjana UMY "Sebuah Catatan Perjalanan Bangsa", Sabtu (29/12/2018), di Ruang Sidang Pascasarjana UMY. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Ratusan Anggota Pramuka Jalan Kaki 53 Kilometer


KORANBERNAS.ID – Mengkritisi kebijakan pemerintah yang salah merupakan kewajiban seluruh warga negara. Persoalannya, suara kritis itu kini hanya tinggal tersisa dari kalangan kampus. Aktivis pergerakan maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) serta media kini sudah banyak yang masuk pemerintahan.

Ini terungkap ketika digelar Gathering dan Refleksi Akhir Tahun 2018  & Outlook 2019 Program Pascasarjana UMY; Sebuah Catatan Perjalanan Bangsa, Sabtu (29/12/2018), di Ruang Sidang Pascasarjana UMY.

Adapun narasumber Prof Dr Tulus Warsito yang membahas mengenai politik dan kebudayaan. Tulus Warsito mengungkapkan revolusi industri yang diakibatkan teknologi selalu berdampak pada kepentingan politik. Seperti halnya yang terjadi pada revolusi industri 4.0 ini. Perubahan luar bisanya dalam bidang ekonomi, politik, politik luar negeri karena teknologi pun akhirnya memunculkan kelas menengah baru.

"Teknologi jadi alat untuk menaikkan status ekonomi pada saat revolusi industri sehingga memunculkan kelas menengah baru," ujarnya.

Di dunia, termasuk di Indonesia booming kelas menengah saat ini. Sebanyak 130 juta orang memiliki pengeluaran 20 $ per hari. Diperkirakan jumlah ini akan terus bertambah sekitar 8 juta orang per tahunnya.

Di Jogja misalnya, semakin banyaknya kelas menengah bisa dilihat dari makin macetnya jalanan dengan kendaraan pribadi, hotel yang selalu penuh meski jumlahnya terus bertambah, mall yang selalu dipenuhi pengunjung dan lainnya.

Kemudian, Sri Atmaja P Rosyidi PhD terkait dengan perspektif kebencanaan dan kemasyarakatan, Eko Prasetya SH dari perspektif penegakan hukum serta Dr Lilies Setiartiti SE dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY.

Di hadapan peserta, Lilies Setiartiti secara blak-blakan memaparkan fakta perekonomian bangsa ini yang timpang, diperparah dengan jumlah penduduk miskin dan rentan miskin mencapai angka 100 juta.

Ditambah lagi, neraca perdagangan dari Januari sampai November 2018 berwarna merah, anjloknya angka kebahagiaan menjadi peringkat 96 dari 156 negara, 9 juta anak mengalami stunting dan masih banyak lagi persoalan lain yang perlu dibenahi termasuk sektor pendidikan kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0.

Demikian pula kebijakan impor, mulai dari garam hingga ketela. Banyak petani menangis. “Pemerintah impor garam dengan alasan garam petani tidak berkualitas. Itu bukan solusi, mestinya petani garam diberikan edukasi,” katanya  mencontohkan.

Sedangkan dari  kacamata hukum, Eka Prasetya mengungkapkan, proses liberalisasi ekonomi saat ini sudah memasuki taraf berbahaya, apabila pemilik modal mampu membeli apa saja dan bersekutu dengan siapa saja yang berkuasa.

Sementara LSM yang dulu bisa diandalkan kini tidak lagi memiliki pengaruh. “Dulu bekerja di LSM itu kerja sampingan,  sekarang menjadi pekerjaan utama dan bisa makmur,” ujarnya berkelakar.

Dia juga melihat pola gerakan sosial saat ini sudah mengarah profesionalisasi. Lebih berbahaya lagi ternyata kaum aktivis ramai-ramai hijrah ke lingkar kekuasaan.

“Jika aktivis sudah hijrah ke dalam, rumit sekali. Sudah banyak kepentingan. Konfliknya luar biasa dan bisa berhadapan dengan teman sendiri,” terangnya.

Menurut Eka Prasetya, proses berpikir logis sepertinya sudah hilang. Proses ini dimulai dari sebagian masyarakat tidak lagi percaya data maupun para ahli, tetapi lebih percaya kepada mereka yang punya massa.

Contoh paling gampang di media jejaring sosial. Mereka lebih percaya kepada yang memiliki banyak followers.

Namun dia optimistis, selama kampus-kampus masih independen maka ada semacam jaminan suara-suara kritis itu tidak mati.

“Terminal paling akhir itu dunia kampus sebagai pusat pendidikan anak muda. Jangan semua hijrah ke kekuasaan. Yang tidak bisa diubah oleh Revolusi Industri 4.0 adalah profesi guru dan dosen,” tambahnya.

Dia yakin, pikiran kreatif hanya akan muncul apabila ada kebebasan. Persoalannya, sekarang ini kebebasan akademik pun mulai terancam.

Berbicara mengenai kebencanaan, Sri Atmaja P Rosyidi merasa heran pembangunan infrastruktur bisa menghabiskan dana triliunan rupiah tetapi untuk membangun mitigasi bencana tidak bisa.

“Pengurangan risiko bencana mestinya menjadi prioritas 2019. Yang lebih penting lagi adalah mengurangi korban dan dampak bencana,” ungkap Direktur Program Pascasarjana UMY ini.

Menurut dia, menyikapi bencana tidak bisa lepas dari sejarah masa lalu. Masyarakat perlu diberikan pemahaman untuk mengenali bumi yang ditinggali.

”Kita harus menyadari bumi itu bergerak. Bumi semakin ke dalam semakin cair. Bumi perlu energi untuk berputar dan energi perlu disalurkan agar tidak meledak. Lempeng bumi adalah ciptaan Allah SWT, yang bergerak untuk melepaskan energi,” paparnya.

Hampir tidak ada pulau di Indonesia tak punya sesar. Semuanya bergerak. Hal ini juga tidak lepas dari keberadaan 140 gunung api aktif di Indonesia. Artinya, masyarakat harus sadar hidup di bawah ancaman gempa bumi. “Kalimantan siapa bilang aman dari gempa?” kata dia.

Berkaca dari terjadinya bencana di Indonesia selama kurun waktu beberapa tahun terakhir, menurut Sri Atmaja P Rosyidi, masyarakat perlu diberikan pemahaman supaya jangan menyalahkan early warning system.

Faktanya, gempa Lombok selain mengangkat pulau 40-50 sentimeter juga cukup memusingkan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika).

Secara teori, gempa utama lebih besar dari gempa susulan. Sebaliknya yang terjadi di Lombok justru gempa kedua dan berikutnya lebih besar.

Dia sepakat, mitigasi mutlak diperlukan. Di sinilah pentingnya penyadaran tentang bencana alam secara nasional bahkan harus dimulai sejak TK hingga SMA. (sol)



Jumat, 28 Des 2018, 14:28:02 WIB Oleh : Nila Jalasutra 528 View
Ratusan Anggota Pramuka Jalan Kaki 53 Kilometer
Jumat, 28 Des 2018, 14:28:02 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 688 View
Berkat Camilan Sehat Peroleh Hadiah Rp 1 Miliar
Jumat, 28 Des 2018, 14:28:02 WIB Oleh : Arie Giyarto 625 View
Menikmati Eksotisme Puncak Becici

Tuliskan Komentar