atas1

Ritual Mengundang Ruh Jadi Tontonan di Malioboro
Mulanira Malyabhara Pre-event Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019

Senin, 17 Jun 2019 | 00:49:49 WIB, Dilihat 3743 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Ritual Mengundang Ruh Jadi Tontonan di Malioboro Aksi kelompok kesenian tradisional Kudho Asmoro dalam pre-event FKY2019 di pintu barat kompleks Kepatihan Yogyakarta, Sabtu (14/6/2019) petang. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Eker Eker Golek Menir Gelar Syawalan


KORANBERNAS.ID -- Pre-event Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 (FKY2019) kembali digelar. Setelah sukses menciptakan keramaian 1 Juni lalu dengan mengarak  Freak Show Man dengan iringan Drummer Guyub YK dari pertigaan Pasar Kembang hingga perempatan Pajeksan, kali ini pada pre-event kedua FKY2019 menampilkan kesenian tradisional yang syarat dengan ritual yaitu jathilan. Jathilan Kudho Asmoro asal Sleman dipilih untuk menghibur pejalan kaki dan pengunjung Malioboro selama lebih dari dua jam pada Sabtu (14/6/2019) petang. 

Pintu sebelah barat Kompleks Kepatihan Yogyakarta dipilih sebagai venue kelompok Kudho Asmoro menampilkan kemampuannya. Jika sebelumnya pre-event FKY2019 ini menghias lampu-lampu serta sign system sepanjang Malioboro dengan untai bunga-bunga yang rekreatif. Kali ini beberapa penjor janur dipasang menjulang disekitar venue menguatkan seni tradisi jathilan yang memiliki ritual khas dan mistis.

Tidak banyak komunitas jathilan yang mau menampilkan ritual memanggil ruh diawal pertunjukan, apalagi dilakukan di atas panggung. Berbagai kepercayaan membuat hal ini menjadi tidak dipertontonkan kepada khalayak. Khusus FKY2019 kelompok jathilan Kudho Asmoro membawa ritual tersebut diatas panggung dan dilakukan diawal sebelum pertunjukan. Hal ini merupakan kesempatan langka yang jarang bisa disaksikan masyarakat umum.

Tabuhan gamelan yang khas tentu mengundang pengunjung Malioboro yang melintas. Tak butuh waktu lama untuk membuat kerumunan penonton menjadi padat dan berdesakan memenuhi venue pertunjukan pre-event FKY2019. Belum genap satu jam pertunjukan dimulai, satu persatu penjathil (Penari Jathilan-red) mulai ndadi (Kerasukan-red). Beberapa penjathil bahkan ditarik mundur untuk disadarkan oleh pawang yang siaga di belakang venue pertunjukan. Hal ini dilakukan karena penjathil sudah trance berlebihan dan bisa membahayakan dirinya.

Hal-hal tak lumrah seperti memakan arang panas dan bunga justru membuat pengunjung malioboro semakin khusuk dan malas beranjak dari venue. Apalagi ditambah dengan atraksi penjathil yang kebal terhadap banda-benda tajam dan tahan terhadap cambukan. Penampilan luar biasa ini tak hanya mengundang perhatian wisatawan domestik namun juga beberapa wisatawan asing mengabadikan momen ini kedalam kamera mereka.

Muryani, salah satu penonton yang jauh-jauh dari Wates, Kulonprogo mengaku sangat senang dengan penampilan jathilan sebagai salah satu cara melestarikan budaya Jawa. “Anak kedua saya juga ikut kelompok jathilan di desa. awalnya saya larang, tapi karena dia senang, ya lama-lama saya juga ikut senang dan bangga.” ujarnya.

Muryani melihat bahwa apresiasi terhadap kesenian jathilan saat ini lebih tinggi. Variasi tarian, kostum, dan musik membuat kesenian ini masih relevan di mata masyarakat modern. Dengan demikian, generasi muda dapat menyaksikan dan melestarikan kesenian tradisional sebagai identitas budaya mereka.

Aksi pawang menenangkan penjathil yang sudah melebihi batas aman 'ndadi' saat pertunjukan jathilan Kudho Asmoro dalam pre-event FKY2019 di pintu barat Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Sabtu (14/6/2019) sore. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Sementara itu ketua umum FKY2019 Paksi Raras Alit menyampaikan bahwa pre-event FKY2019 "Mulanira Malyabhara" ingin membaca lagi Malioboro sebagai Malyabhara yang didefinisikan sebagai jalan yang beruntaikan bunga. 

Paksi mengaku bahwa pre-event ini merupakan strategi baru setelah 30 kali festival tahunan ini digelar. "Waktu yang tepat untuk mengenalkan fky bukan lagi festival kesenian yogyakarta, tapi festival  kebudayaan yogyakarta kepada khalayak luas"paparnya.

“Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 'Mulanira' berupaya menjadi peristiwa budaya guna menunjukkan semangat dan karakter keterbukaan, keramahan dan tepa selira.” pungkas Paksi.

FKY2019 akan digelar pada 4-21 Juli 2019 mendatang di desa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Mengusung tema MULANIRA: ruang | ragam | interaksi, FKY2019 dimaknai ‘kembali ke asal mula: Apa yang sebelumnya ditetapkan, mengalami pergeseran yang menuntut kemampuan jawaban tiap generasi’.(yve)

 


Minggu, 16 Jun 2019, 00:49:49 WIB Oleh : Sari Wijaya 345 View
Eker Eker Golek Menir Gelar Syawalan
Minggu, 16 Jun 2019, 00:49:49 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 823 View
Wah Zonasi Membuat Siswa Gigit Jari
Minggu, 16 Jun 2019, 00:49:49 WIB Oleh : Nila Jalasutra 199 View
Revolusi 4.0, Kerja Harus Lebih Keras

Tuliskan Komentar