atas1

Mengasah Kemampuan Menulis selama Karantina

Rabu, 24 Jun 2020 | 00:05:37 WIB, Dilihat 221 Kali
Penulis : John de Santo
Redaktur

SHARE


Mengasah Kemampuan Menulis selama Karantina John de Santo

Baca Juga : Diangkut 17 Bus, Santri Kembali ke Pondok


ADA banyak cara untuk melepaskan diri dari tekanan mental selama masa karantina untuk mencegah penularan Covid-19. Selain menekuni pekerjaan yang memang bisa dilakukan dari rumah, mendampingi anak belajar di rumah dan beribadah dari rumah, tak sedikit orang yang menggunakan waktunya untuk mengasah keterampilan tertentu.  

Ada yang berlatih menguasai alat musik. Ada yang kembali menekuni hobi membuat panganan, menyulam,  memelihara tanaman hidroponik, menulis buku, membaca atau mempelajari strategi pemasaran online. Penulis memilih mengasah kemampuan menulis opini, sesuatu yang sudah lama ditinggalkan karena berbagai kesibukan. Memang sebagai  pengajar di perguruan tinggi, menulis  adalah tuntutan tri-dharma. Tapi memiliki kesempatan seluas masa karantina, adalah sebuah kemewahan, bagi para pekerja seperti saya.

Enam Langkah  

Tanpa sengaja penulis  berhasil mengembangkan enam langkah sederhana untuk menulis opini. Mungkin pengalaman ini berguna, terutama bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuan yang sama. Keenam langkah tersebut adalah: Pertama, memilih topik. Pemilihan topik penulis lakukan dengan mencermati berita di media cetak dan media elektronik. Berbagai wahana media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp,atau Twitter dapat menjadi saluran informasi dengan kecepatan yang dapat diandalkan dalam hal trending topic. Namun akurasinya perlu diverifikasi melalui media cetak mainstream.  Selama masa karantina, yang selalu menjadi topik utama ialah wabah Covid-19. Topik ini dapat didekati dari berbagai sudut pandang, misalnya ekonomi, kesehatan, pendidikan, psikologi, budaya, agama, dst. Penulis mengambil salah satu sudut pandang.

Kedua, riset. Setelah menentukan topik dan sudut pandang. Penulis mulai serius mengumpulkan data dan informasi dari berbagai sumber seperti yang disebutkan di atas,  termasuk dari You Tube, kliping koran, radio, televisi, seminar, hasil diskusi dengan teman, dll. Ini ibaratnya, seorang chef yang ingin membuat masakan tertentu harus pandai memilih bahan mentahnya. Sumber data harus dicermati dan diteliti dengan hati-hati, agar berita dan informasi yang nantinya digunakan itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai riset menunjukan, 60 persen berita dan informasi yang beredar itu palsu alias hoaks.

Ketiga, menulis. Setelah mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan, proses penulisan dimulai. Bagi penulis, caranya tak langsung keypad komputer, melainkan dengan menggunakan ballpoint dan keras folio bergaris. Selain untuk mengurangi terpaan sinar biru dari layar komputer yang mampu menembus bola mata, menulis tangan memberi sensasi tersendiri. Proses melahirkan tulisan lebih terasa bagaimana-nya menulis  (how) ketimbang apa-nya menulis (what). Hasil tulisan tangan itu kemudian dibiarkan. Sebelum kembali ke tulisan itu, penulis mengalihkan perhatian pada hal lain yang tak ada hubungannya dengan proses kreatif, misalnya dengan menyapu lantai, mencuci piring, mengikuti webinar, mengajar online, atau mengeksplorasi topik tulisan berikutnya.

Keempat, mengetik. Setelah seharian tulisan membiarkan tulisan itu menginkubasi, baru pengetikan dengan komputer dilakukan. Menurut pengalaman, alur tulisan sering berubah setelah dialihkan ke komputer. Proses revisi awal terutama menyangkut hal-hal redaksional bisa langsung dibuat, ketika sedang melakukan pengetikan naskah tulisan di komputer. Setelah itu tulisan disimpan di hard disk sesuai topik dan judul.    

Kelima, mengedit. Setelah beberapa lama, bisa saja sehari kemudian, penulis mulai melakukan revisi terhadap tulisan opini tersebut. Kali ini, revisi dilakukan berdasarkan tiga spektrum, yakni spektrum penulis sendiri, spektrum pembaca biasa, dan spektrum pembaca kritis. Dengan menggunakan ketiga pendekatan ini, penulis dapat menyimpulkan sendiri, kualitas tulisan tersebut berada pada kategori, lumayan, bagus dan bagus sekali. Dengan menggunakan spektrum pembaca kritis, artinya penulis siap membuka diri terhadap penolakan, kritikan, masukan, atau bahkan kecaman orang lain. Kasarnya, penulis harus siap dengan risiko dipermalukan karena mau menelanjangi diri sendiri.    

Keenam, mengirim tulisan. Setelah melakukan proses revisi secara berulang kali, naskah siap dikirim, dengan menggunakan email. Sebelumnya, penulis perlu mengetahui terlebih dahulu karakter media yang berpeluang menampung tulisan tersebut. Karakter media dapat dipelajari dengan membaca secara mendalam tulisan yang dianggap mewakili media tersebut serta ketentuan dari redaksi media bersangkutan. Biasanya ada surat pengantar yang menjelaskan latar belakang penulisan artikel tersebut, dan harapan untuk dimuat pada rubrik opini. Tak lupa, penulis juga menentukan deadline, jika naskah tidak dipublikasikan hingga hari/tanggal tertentu, penulis akan menarik kembali naskah tersebut.

Kesimpulan

Seperti halnya keterampilan lain, kemampuan menulis opini diperoleh melalui proses rutin. Artinya, kegiatan yang sengaja dijadwal dan bahkan menjadi semacam ritual. Dengan menggunakan jadwal maka penulis tak lagi mengenal yang namanya hambatan menulis (writing block) atau mood. Dua hal yang biasanya menjadi momok setiap penulis.

Selain itu, menulis adalah sebuah kegiatan yang pribadi. Hanya Anda yang paling peduli dengan tulisan Anda, dengan mencermati setiap kata dan kalimat yang digunakan untuk menuangkan gagasan Anda. Jangan terlalu berharap orang lain peduli dengan apa yang sedang Anda lakukan. Banyak orang takut menulis, karena menulis adalah proses memasuki relung hati dan pikiran sendiri untuk bergumul sebuah gagasan dalam kesendirian.

Hal terpenting yang perlu diingat dalam proses menulis adalah, bahwa apa yang Anda tulis tak pernah otentik. Karena bahkan bahasa, data, dan informasi, anda peroleh dari sumber lain. Otentitisitas sebuah tulisan justru terletak pada cara bagaimana Anda menuangkan gagasan dengan menggunakan semua bahan yang sudah Anda kumpulkan itu.   

Jadi, keunikan sekaligus subyektivitas Anda justru terletak pada proses penulisan. Hanya dengan cara itu pula Anda mengaktulisasikan potensi diri Anda sebagai seorang  individu yang pernah hidup di suatu masa dan tempat tertentu dan mewariskan cara pandang Anda terhadap sebuah permasalahan hidup tertentu.

Inilah alasan, mengapa setiap tulisan yang jujur boleh dikatakan sebagai anak kandung sendiri. Bernar pula peribahasa Latin ini, verba volant, scripta manent. Kata-kata menguap, tulisan yang mengabadi. Termasuk tulisan sederhana ini. *

John de Santo

Staf pengajar ASMI Santa Maria Yogyakarta; Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka.

 



Selasa, 23 Jun 2020, 00:05:37 WIB Oleh : Nanang WH 241 View
Diangkut 17 Bus, Santri Kembali ke Pondok
Selasa, 23 Jun 2020, 00:05:37 WIB Oleh : Nanang WH 200 View
Ini Istimewanya Kelapa Genjah Entog
Selasa, 23 Jun 2020, 00:05:37 WIB Oleh : Sari Wijaya 169 View
Bantul Gelar Swab Test Massal Pertama di DIY

Tuliskan Komentar