atas1

Maestro Lukis Srihadi Angkat Paradoks Negeri Lumbung Padi

Senin, 16 Mar 2020 | 23:50:46 WIB, Dilihat 149 Kali
Penulis : Sari Wijaya
Redaktur

SHARE


Maestro Lukis Srihadi Angkat Paradoks Negeri Lumbung Padi Maestro lukis Srihadi Soerdarsono menyerahkan litografi kepada Menteri BUMN RI Erick Thohir. (istimewa)

Baca Juga : Dana Kelurahan Bermanfaat Ciptakan Lapangan Kerja


KORANBERNAS.ID, JAKARTA -- Pameran Tunggal dan Peluncuran Buku Srihadi Soedarsono - Man x Universe di Galeri Nasional Indonesia  dibuka Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir. Sejumlah 44 karya ditampilkan hingga 9 April mendatang.

Lukisan bentang alam (landscape) karya maestro lukis Prof Kanjeng Pangeran Srihadi Soerdarsono Adhikoesoemo MA itu diproduksi rentang tahun 2016-2020.

Melaluji rilis ke koranbernas.id, Senin (16/3/2020), kurator pameran ini Dr A Rikrik Kusmara MSn mengelompokkan karya Srihadi dalam empat rumpun besar yakni Social Critics (Papua Series, Bandung Series dan Field of Salt), Dynamic (Jatiluwih Series dan Energy of Waves), Human & Nature (Mountain Series, Tanah Lot Series, Gunung Kawi Series), Contemplation (Horizon Series dan Borobudur Series).

Adapun karya yang dipamerkan antara lain Horizon - The Golden Harvest (2018), Borobudur Drawing 1948, Borobudur - The Energy of Nature (2017), Mt Bromo - The Mystical Earth (2017), Papua - The Energy of Golden River (2017), The Mystical Borobudur (2019) dan Jakarta Megapolitan - Patung Pembebasan Banjir (2020).

 “Seri lukisan lanskap merupakan salah satu ciri khas karya Srihadi. Lukisan ini memiliki struktur bentang alam, daratan (bumi), langit, dan unsur-unsur di antaranya,” kata Rikrik.

Srihadi Soedarsono - Man x Universe menginterpretasikan keindahan lanskap Indonesia sebagai semangat spiritual atas rasa kemerdekaan dan kebanggaan berbangsa, bukan sekadar lukisan pemandangan yang menghipnotis orang asing untuk datang berkunjung.

Rikrik menyebut pameran ini adalah pendekatan baru Srihadi mengekspresikan lanskap sebab menampilkan metafora dan simbol yang cukup kompleks. Proses artistik tersebut tak lepas dari kondisi sosial politik Indonesia yang tensinya naik sepanjang 2016-2019.

Srihadi  mengatakan melukis lanskap seperti mencatat kejadian-kejadian, merekam perubahan-perubahan sampai hari ini. Seperti tertuang dalam karya Horizon - The Golden Harvest (2018) yang memampangkan pemandangan panen padi era 1970-an. Penduduk desa bergotong royong, bergantian memanen padi. Sawah luas itu berbatas bukit landai di cakrawala.

Lumbung padi

Dia teringat waktu saya kecil diajak kakek berkeliling melihat pemandangan sawah yang luas. Sekarang sawah di belakang rumah sudah jadi rumah-rumah. “Fenomena ini menjadi paradoks bagi negeri lumbung padi dan tambak garam tapi kekurangan padi dan garam sehingga harus impor,” kata Srihadi.

Lukisan The Golden River Belong to Its People (2017) dan Papua - The Energy of Golden River (2017) adalah dua lukisan tangkapan ingatan  dirinya atas  Papua tahun 1975. Kondisinya sangat berbeda dibanding saat ini ketika tambang meluas, jalan aspal sambung bersambung dan luas hutan menyusut.

“Bayangkan Papua di tahun 1975 ketika hutan perawan masih mendominasi. Dilihat dari udara, menjelang malam, hanya hitam di bawah sana. Lalu tiba-tiba tertangkap pandangan ada yang meliuk-liuk indah berkilat-kilat dari ujung ke ujung. Sungai keemasan yang menembus pekatnya hutan Papua,” kenangnya.

Pemandangan tersebut diperoleh Srihadi saat bertugas melukis sumur pengeboran dekat Sorong Papua pada 1975. Dia tiba di kawasan pengeboran tengah hutan sore hari dengan menumpang helikopter. Akses darat nyaris mustahil sebab jalan aspal hanya sepanjang satu kilometer.

“Alam Papua bagus sekali dilihat dari atas. Hutan sudah gelap. Yang terlihat hanya sungai mengkilat keemasan terkena sinar matahari sore. Kesan ini yang saya tangkap,” kata Srihadi Soedarsono.

Akademisi seni rupa dan penulis buku Srihadi Soedarsono - Man x Universe, Dra Siti Farida Srihadi M Hum, menjelaskan sistem nilai Jawa membentuk pendekatan simbolis khasnya dari sudut bentuk maupun warna.

Budayawan Dr Jean Couteau menambahkan Srihadi mempunyai suatu kemampuan untuk merasa, selain luar biasa juga dikembangkan dan diasah oleh tradisi Jawa asalnya.

Paripurna

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, mengungkapkan Srihadi melalui karya-karyanya membuktikan dia adalah sosok seniman yang paripurna. Srihadi menghidupkan karya-karyanya, sebaliknya, karyanya pulalah yang menyemangati hidupnya hingga ia tetap sehat dan aktif berkarya di usia senja.

Pameran juga dilengkapi seminar di Galeri Nasional Indonesia pada Sabtu 28 Maret 2020. Pameran tunggal Srihadi Soedarsono merupakan hasil kerja sama antara Srihadi Studio dan Sugar Group Companies.

Srihadi Soedarsono kelahiran Solo 4 Desember 1931 sejak usia dini suka menggambar. Saat jadi pelajar, dia bergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian Pertahanan pada 1945 dengan tugas membuat poster, grafiti, menulis slogan yang mengobarkan semangat juang pada dinding-dinding besar di dalam kota dan gerbong-gerbong kereta api.

Srihadi Soedarsono pensiun sebagai PNS pada 1997 dan terus berkreasi hingga hari ini. Beberapa penghargaan pernah diperolehnya, di antaranya The American Biographical Institute 2005 Commemorative Medal Man of The Year. (sol)



Senin, 16 Mar 2020, 23:50:46 WIB Oleh : Sholihul Hadi 118 View
Dana Kelurahan Bermanfaat Ciptakan Lapangan Kerja
Senin, 16 Mar 2020, 23:50:46 WIB Oleh : Masal Gurusinga 292 View
Semua Perangkat UNBK Terpaksa Disimpan Lagi
Minggu, 15 Mar 2020, 23:50:46 WIB Oleh : Sholihul Hadi 177 View
Antrean Operasi Katarak Sangat Panjang

Tuliskan Komentar