atas

Ingin Pakai Hak Pilih? Tak Perlu Pulang Kampung

Kamis, 13 Des 2018 | 01:19:32 WIB, Dilihat 293 Kali - Oleh W Asmani

SHARE


Ingin Pakai Hak Pilih? Tak Perlu Pulang Kampung Diskusi Komunikasi Politik, 'Pemilu dalam perspektif Milenial dan Kelompok Marginal' di UAJY, Selasa (11/22/2018). (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Ganja dan Pil Koplo Marak Sepanjang Tahun 2018


KORANBERNAS.ID -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) DIY membuat terobosan bagi sekitar 300.000 mahasiswa di Yogyakarta. Mahasiswa yang berasal dari luar kota Yogyakarta bisa menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 17 April mendatang tanpa harus harus pulang kampung atau kembali ke asalnya.

Mahasiswa bisa mengikuti proses pemilihan di DIY. KPU DIY bekerjasama dengan enam universitas, baik negeri maupun swasta di Yogyakarta dengan cara membuka posko pojok pemilih di kampus tersebut.

Ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan disela acara Diskusi Komunikasi Politik, 'Pemilu dalam perspektif Milenial dan Kelompok Marginal' di Universitas Atma Jaya (UAJY), Selasa (11/22/2018) menjelaskan, keenam kampus tersebut yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeei (UIN), Universitas Islam Indonesia (UII), Unibersitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan UAJY.

"Kami akan mendirikan pelayanan hak pilih dengan nama posko pojok pemilih di kampus-kampus tersebut," ujar Hamdan.

Menurut Hamdan, nantinya akan di lihat keberadaan kampus berada di kabupaten/kota. Jika kampus berada di wilayah kabupaten Sleman, maka yang akan memberikan pelayanan pada mahasiswa adalah KPUD Sleman. Mahasiswa cukup menunjukkan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).

"Kami akan mencocokkan nomer induk kependudukan data pemilih online," jelasnya.

Dicontohkan Hamdan, data mahasiswa asal Maluku yang ingin memilih di Yogyakarta akan disinkronkan dengan KPU Maluku. Sehingga KPU di Maluku bisa mencoret data agar tidak dobel.

Posko pojok pemilih tersebut rencananya dibuka akhir Desember 2018 sampai Januari 2019. Namun ada pihak kampus yang meminta pembukaan posko dilaksanakan bertepatan dengan pengisian kartu rencana semester (KRS) pada bulan februari mendatang.

"Kebijakan itu diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya," ungkapnya.

Sementara itu, anggota LSM Ciqal Yogyakarta, Ida Ayu Sudhiartini sebagai seorang difabel mengatakan awalnya tidak tahu aturan tentang pemilu. Setiap ada pemilu lima tahun sekali dia justru mengalami ketakutan.
"Setau saya yang tidak mengikuti pemilu akan dihukum," ujar Ida.

Namun, setelah keterlibatannnya kedalam organisasi masyarakat, Ciqal membuka wawasannya. Dia mendapatkan wawasan yang luas terkait pesta demokrasi tersebut.

"Saya berharap, kaum disabilitas bisa dilibatkan dalam kegiatan apapun," harapnya.

Lukas Ispandriarno, Dosen Komunikasi UAJY sekaligus moderator dalam acara tersebut menyebutkan, mahasiswa melakukan riset terkait pemilu. Mahasiswa menyampaikan hasil riset sebagai bahan kajian.(yve)



Rabu, 12 Des 2018, 01:19:32 WIB Oleh : Rosihan Anwar 284 View
Ganja dan Pil Koplo Marak Sepanjang Tahun 2018
Rabu, 12 Des 2018, 01:19:32 WIB Oleh : Rosihan Anwar 374 View
Lawan Jerawat dengan Terapi IPL
Rabu, 12 Des 2018, 01:19:32 WIB Oleh : Nila Jalasutra 110 View
Kurikulum Belum Akomodasi Pemberdayaan Anak Didik

Tuliskan Komentar