atas1

Ingin Menikmati Hidangan Priyayi Sambil Lihat Tugu Jogja ? Kesini Saja

Senin, 06 Mei 2019 | 00:44:22 WIB, Dilihat 3752 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Ingin Menikmati Hidangan Priyayi Sambil Lihat Tugu Jogja ? Kesini Saja Sejumlah tamu menikmati makan malam di balkon Honje Resto. Spot ini merupakan andalan pengunjung, karena view eksotis Tugu Jogja. (istimewa)

Baca Juga : Wisuda Adalah Jembatan, Kok Bisa ?


KORANBERNAS.ID -- Tugu Yogyakarta atau yang juga dikenal dengan sebutan Tugu Pal Putih adalah sebuah monumen yang sering dipakai sebagai simbol atau lambang dari kota Yogyakarta. Menurut sejarah Tugu Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755.

Pada awalnya, tugu ini berbentuk Golong-Gilig dan mempunyai tinggi mencapai 25 meter, dimana tiang dari tugu ini berbentuk Gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk Golong (bulat), sehingga pada masa itu tugu ini disebut dengan nama Tugu Golong-Gilig.

Pada awal dibangunnya tugu ini mempunyai makna Manunggaling Kawula Gusti yang menggambarkan semangat persatuan antara rakyat dan penguasa dalam melawan penjajah. Namun di sisi lain juga bisa bermakna sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Menurut catatan sejarah, pasca gempa besar yang terjadi pada 1867 tugu Golong Gilig runtuh. Pada tahun 1889, pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu dengan bentuk yang benar-benar berbeda seperti yang kita lihat sekarang. Sementara replika tugu Golong Gilig yang asli kini bisa kita amati di pojok selatan kawasan tugu.

View Tugu Jogja yang ikonik tampak dari balkon Honje Resto. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Selain syarat dengan sejarah, tugu Yogyakarta yang ikonik serta eksotis ini memang menjadi sasaran wisatawan baik lokal maupun internasional untuk berfoto. Namun sayang sekali hal tersebut terkendala dengan letak Tugu yang tepat di tengah perempatan ruas jalan yang padat. Hal ini akan mengganggu pengguna jalan jika wisatawan memaksakan diri untuk mengambil gambar atau berswafoto.

Adalah Honje Restaurant, sebuah resto yang konsisten dengan menu jamuan makan para priyayi serta bangsawan. Sebagai salah satu restoran yang memiliki spot foto yang pas dengan ikon kota Jogja, Honje berinovasi dengan konsep yang baru berbagai macam program kuliner dengan menu yang tidak biasa, berangkat dari konsep Heritage Jawa Belanda, konsep ini langsung dapat dinikmati ketika memasuki bangunan Honje.

Honje (Etlingera elatior) yang berarti kecombrang, kantan, adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Tak sekedar nama, Honje yang dibudidayakan di kebun organik milik sendiri ini memang menjadi ke-khasan Resto ini.

Kebun organik yang berlokasi 7 km dari pusat kota Jogja ini khusus menanam kecombrang untuk kebutuhan Honje Resto. Warna merah yang tidak terlalu mencolok jadi pembeda antara kecombrang produksi sendiri dengan yang ada dipasaran.

Diakui Andhika Yopi kepada koranbernas.id bahwa kecombrang hasil kebun organik yang ditanam di dowa bag factory warnanya sedikit lebih soft daripada yang ada dipasar. Pria yang juga pemilik Honje Resto ini cukup yakin bahwa kebun organik mereka mencukupi kebutuhan supply kecombrang untuk resto-nya.

Salah satu menu andalan Honje Resto. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Bulan Ramadhan ini Honje Resto meluncurkan paket buka puasa “Kulineran Ramadhan” dengan konsep All You Can Eat, yang bisa dinikmati seluruh pengunjung mulai pukul 17.30 – 20.00. Sekarang buka puasa Ala Priyayi dan Bangsawan bisa dinikmati di Honje Resto, Karena menu yg disediakan di Honje Resto adalah menu yang kerap disajikan untuk kalangan bangsawan, priyayi, ataupun menu yang juga di sajikan untuk menyambut tamu-tamu kerajaan.

Dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 60.000/nett pengunjung sudah bisa menikmati hidangan All You Can Eat sepuasnya berlaku khusus selama bulan ramadhan. Tak hanya itu, pengunjung juga berhak mendapatkan free 1 paket all you can eat, dengan minimal pembelian 5 paket.

Menu yang ditawarkan tiap minggunya pun bervariasi. Mengawali minggu pertama ramadhan, Honje Resto menghadirkan menu western. Minggu kedua, dengan menu Indonesia. Minggu ketiga menu Indonesia “Jadoel”, dan minggu terakhir di bulan puasa, restoran Belanda ini hadir dengan menu fusion ala Honje.

Jadi menghabiskan waktu menjelang buka puasa (ngabuburit) dengan nuansa Tugu yang eksotis saat menjelang matahari tenggelam, bukan sesuatu yang mustahil lagi. Mengingat lokasi Honje tepat berada di Selatan Tugu Pal Putih Jogja.

Paket buka puasa ini juga hadir sebagai solusi bagi instansi yang hendak mengadakan acara kantor dan memilih venue di tengah kota, menghindari ada yang protes karena jarak tempat berbuka puasa dengan rumah terlalu jauh.(yve)



Senin, 06 Mei 2019, 00:44:22 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 680 View
Wisuda Adalah Jembatan, Kok Bisa ?
Minggu, 05 Mei 2019, 00:44:22 WIB Oleh : Prasetiyo 5246 View
Nikmatnya Kuliner ala Desa di Pasar Kampung Duku Purbalingga
Minggu, 05 Mei 2019, 00:44:22 WIB Oleh : Sholihul Hadi 973 View
Kru Bus Wisata Jangan Andalkan Google Maps

Tuliskan Komentar