atas

Hukum dan Totalitas Kehidupan

Kamis, 27 Des 2018 | 11:15:29 WIB, Dilihat 224 Kali - Oleh Prof. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

SHARE


Hukum dan Totalitas Kehidupan Sudjito Atmoredjo

Baca Juga : Musim Bencana


“KALAU hidup hanya sekadar hidup, kera di rimba juga hidup. Kalau kerja hanya sekadar kerja, kerbau di sawah juga bekerja”. Kata-kata bijak penuh hikmah itu datang dari ulama legendaris Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Sungguh amat bagus, kandungan maknanya diaktualisasikan pada era disruption ini.

Pertama, manusia bukan hewan, sebagaimana kera, kerbau atau lainnya. Manusia adalah makhluk istimewa. Keistimewaannya terletak pada akal. Hanya manusia saja diberi akal oleh Allah SWT. Dalam kendali hati-nurani dan dorongan nafsu, dengan bermodalkan akal, maka aktivitas kehidupan manusia menjadi kreatif dan progresif. Tidak monoton. Kemajuan kehidupan manusia ditandai dengan peradaban dan kebudayaan. Segalanya bernilai positif, selagi senantiasa berjalan di lorong kebenaran, kejujuran, keadilan, dan komitmen menggapai ridha Illahi.

Kedua, dimaksud lorong kebenaran, kejujuran dan keadilan adalah hukum. Tiadalah hukum diadakan kecuali untuk manusia agar aktivitas kehidupannya senantiasa terukur dan teratur. Hukum adalah tata kehidupan (order), dalam keutuhannya, mencakup: transcendental order, social order, dan political order (Rahardjo, 2000). Keterukuran dan keteraturan hanya ada bila hukum dipahami dan ditaati dengan sukarela, tanpa paksaan. Ketika kehidupan ternyata sarat dengan ketimpangan, ketidakadilan, dan kejahatan, itu semua merupakan indikator maraknya pelanggaran hukum.

Ketiga, kini kita hidup pada era disruption. Pada era ini, aktivitas kehidupan manusia berubah total. Perubahan bukan sekadar pada aktivitas lahiriah saja, melainkan didahului dan mencakup perubahan fundamental pada ranah rohaniahnya. Reinald Kasali (2017) memberikan contoh perihal bisnis. Dinyatakannya, bahwa disruption sejatinya mengubah bukan hanya "cara" berbisnis, melainkan juga fundamental bisnisnya. Mulai dari struktur biaya sampai ke budaya, dan bahkan ideologi industri. Misalnya, disruption terjadi akibat perubahan cara-cara berbisnis yang dulu sangat menekankan owning (kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources). Jadi kalau dulu semua perlu dimiliki sendiri, dikuasai sendiri, sekarang tidak lagi. Sekarang kalau bisa justru saling berbagi peran. Dinyatakan pula, disruption itu bukan sekadar fenomena hari ini (today), melainkan fenomena "hari esok" (the future) yang dibawa oleh para pembaharu ke saat ini, hari ini (the present).

Keempat, kehidupan manusia berlangsung dalan suatu proses tiada henti, kecuali hadirnya kematian. Proses kehidupan perlu dikelola secara total. Totalitas adalah kesemestaan. Artinya, seluruh aspek kehidupan, baik aspek masa kini maupun masa depan, aspek lahir maupun aspek batin, aspek simbolis maupun aspek maknawi, aspek duniawi maupun ukhrowi, seluruhnya wajib dikelola secara terpadu dan holistik. Tiadalah dibenarkan kehidupan hanya dikelola sekadarnya, apalagi secara parsialistik. Sebab, kalau demikian halnya, manusia tidak bedanya dengan kera kerbau, atau hewan-hewan lainnya. Martabat manusia terperosok menjadi hina, bukan lagi istimewa dan mulia.

Dalam perspektif negara hukum Pancasila, layak disadari bahwa sejatinya manusia itu lemah (dhaif). Dalam keterbatasannya, manusia gagap terhadap hari esok. Hari esok merupakan misteri. Mengapakah, kehidupan lahiriah-duniawi dikelola mati-matian, padahal kehidupan duniawi hanya penggalan dari proses kehidupan. Problema besar yang dihadapi kebanyakan manusia, ketika memperturutkan egonya. Egoisme adalah penyakit peradaban. Sungguh bodoh dan keliru, ketika manusia merasa dirinya paling pintar, paling kuasa, paling berpengaruh, sehingga merasa tidak perlu kerja sama dengan orang lain. Betapa pun era disruption telah tiba, tidak mungkin segalanya digantikan alat-alat komunikasi digital. Aspek kemanusiaan, utamanya berupa kasih-sayang, tidak mungkin tergantikan oleh apa pun, kecuali keterlibatan manusia dalam kehidupan bersama.

Dalam segala keterbatasannya, manusia perlu gotong-royong, untuk saling memberi dan melengkapi. Orang bijak senantiasa terobsesi berbuat kebajikan. Ingin lebih banyak memberi daripada dibantu pihak lain. Gotong-royong merupakan bagian dari sunnatullah, fitrahnya makhluk sosial, dan tidak mungkin digantikan alat komunikasi digital.

Pancasila sebagai sistem nilai merupakan way of life bangsa. Secara lengkap, utuh, dan menyeluruh, di dalamnya terkandung: nilai kenyataan, nilai vitalitas, nilai kerohanian (etika, moral, estetika), dan nilai ke Tuhanan (religius). Seluruhnya tersusun secara harmonis. (Notonagoro, 1971). Manusia Pancasila adalah manusia yang mampu merealisasikan nilai-nilai kehidupan secara total. Totalitasnya, mencakup: kualitas, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan sosial-kebangsaan, kehidupan dunia dan akhirat, kebermanfaatan untuk masa kini dan masa depan.

Berikut beberapa kiat yang layak dipedomani agar aktivitas kehidupan bangsa Indonesia sampai pada derajat kemuliaannya.

Pertama, senantiasa ingat batas akhir. Satu generasi akan tumbuh menggantikan generasi sebelumnya. Generasi baru, diharapkan eksis sebagai generasi unggul, mampu mengelola kehidupan jauh lebih baik daripada kehidupan sebelumnya. “Gajah mati meninggalkan gading”. Manusia mati, mestinya meninggalkan amal kebajikan. Amal kebajikan akan terus mengalirkan pahala bagi pelakunya, dan kebermanfaatan bagi generasi penerusnya. Bukan harta benda berjibun, melainkan ilmu dan keteladanan generasi pendahulu yang menggaransi lahirnya generasi baru unggul.

Kedua, senantiasa menebar kasih-sayang. Rasa cinta ada pada setiap makhluk bernyawa. Kita sayang kepada isteri, anak, dan saudara. Kita cinta kepada harta-benda, kekuasaan, jabatan, dan kedudukan. Kita pun wajib cinta kepada tanah air, bangsa, dan negara. Puncak dari segalanya adalah cinta kepada Allah SWT. Ketika ajal menjemput, tiada lagi rasa cinta, kasih-sayang, dan kebersatuan dengan siapa pun dan apa pun, kecuali kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, berkasih-sayang, hendaknya dikendalikan dengan iman, sehingga terukur, teratur, sampai pada tujuan.

Ketiga, senantiasa taat pada hukum. Secara naluriah, manusia ingin hidup bebas tanpa kendali. Ingin terbang tinggi menggapai langit ke tujuh. Ingin menguasai dunia dan seisinya. Ingin hidup seribu tahun lagi. Hukum adalah rambu-rambu kebebasan. Hukum adalah tata kehidupan. Taatilah rambu-rambu itu. Pelanggaran atas rambu-rambu berkonsekuensi ditimpakannya sanksi (hukuman). Sanksi itu penderitaan. Pasti terjadi. Kalaupun di dunia lolos, jangan harap di akhirat bisa disiasati. Dalam totalitas kehidupan, dosa dan pahala akan diperhitungkan secara adil, sesuai amal perbuatan masing-masing. Wallahu’alam. ***

Sudjito Atmoredjo

Guru besar Ilmu Hukum UGM

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 7 Desember 2018)



Kamis, 27 Des 2018, 11:15:29 WIB Oleh : Putut Wiryawan 172 View
Musim Bencana
Kamis, 27 Des 2018, 11:15:29 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 285 View
Ada Cinta Jodie yang Tertinggal di SCH
Kamis, 27 Des 2018, 11:15:29 WIB Oleh : Prasetiyo 287 View
Miris, Mayoritas Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Pelajar

Tuliskan Komentar