atas1

Di Tangan Anak-anak, Sumber Masalah Jadi Barang Menarik

Minggu, 27 Jan 2019 | 20:47:21 WIB, Dilihat 761 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Di Tangan Anak-anak, Sumber Masalah Jadi Barang Menarik Para Edukator Lab School Rumah Citta Njathil bareng anak-anak saat pembukaan pameran bertajuk “Aku Bisa Buat Karya dari Sampah Plastik” di Yogyatorium Gedongkuning Yogyakarta, Sabtu (26/1/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Cerita Cinta Sekar Pembayun Bikin Penasaran


KORANBERNAS.ID -- Sampah plastik selama ini acapkali jadi biang masalah karena mencemari lingkungan. Namun di tangan anak-anak kreatif sumber masalah itu bisa jadi barang yang beralih fungsi. Selain menjadi mainan, dapat pula menjadi pajangan yang menarik setelah disulap melalui daur ulang.

Puluhan karya olahan sampah plastik itu dipamerkan para siswa Pra-TK, TK dan Pra-SD Labs School Rumah Citta dan Early Childhood Care and Development Resource Center (ECCD-RC) Yogyakarta di Yogyatorium Jalan Gedongkuning hingga Senin (28/1/2019).

Berbagai karya berbentuk unik ini murni dibuat oleh anak-anak dengan pendampingan orang tua masing-masing. Ada bangku, rak sepatu, lampu berputar, pot bunga, roket, pesawat mainan, hingga miniatur Tugu Khatulistiwa.

Wujudnya berupa susunan balok ramah lingkungan atau populer disebut ecobrick, akhir-akhir ini. Ecobrick atau Ekobrik adalah satu di antara teknik daur ulang sampah dengan cara sangat sederhana bahkan bisa dilakukan oleh anak-anak dengan keluarganya. Cukup dengan menyiapkan botol plastik bekas dan sampah kemasan plastik sebagai isiannya.

Sebelum dimasukkan botol plastik, sampah plastik dipotong kecil-kecil, kemudian masukkan ke botol dengan cara ditekan dengan tongkat kayu agar padat dan botol menjadi keras.

Jika dipadatkan dengan baik, ekobrik akan menjadi kuat yang mampu menopang beban berat, bahkan karena sifatnya yang kuat dan padat bisa dimanfaatkan untuk membuat dinding.

Ruri selaku koordinator divisi training dan media kampanye ECCD-RC menerangkan, pameran ini rutin dilakukan ECCD-RC setiap tahun. Ini merupakan pameran ketiga yang digelar di luar lingkungan sekolah.

ECCD-RC mengangkat tema solusi sampah plastik dalam keluarga, yaitu membuat Ekobrik. Bagaimana pun keluarga menyumbang sampah plastik cukup besar bagi lingkungan.

“Dalam proses pembuatan ekobrik, anak-anak didampingi orang tua, mereka diharapkan bisa menggambarkan budaya yang ada dalam keluarga ke karya ekobrik. Selain itu juga dipamerkan foto yang dilengkapi cerita anak-anak tentang budaya yang ada dalam keluarga,” papar Ruri.

Labs School Rumah Citta sebagai tempat belajar usia dini yang sangat konsisten menanamkan nilai ramah lingkungan, Ekobrik salah satunya. Tema yang baru ramai dibicarakan aktivis lingkungan hidup lima tahun terakhir ini juga dikenalkan pada anak-anak.

Ruri mengakui baru sebatas mengenalkan kepada anak-anak, karena ekobrik itu bayangannya bikin brick yang banyak dan susah.

Goal-nya buat anak-anak cukup sebatas membuat satu brick saja, cukup sebenarnya, entah itu untuk dibuat mainan atau apa saja. Tapi kalau mereka bisa membuat banyak, mereka boleh membuat benda berfungsi lain, seperti kursi atau rak sepatu.

Anak-anak mengamati karya teman-teman mereka di pameran “Aku Bisa Buat Karya dari Sampah Plastik” di Yogyatorium Gedongkuning Yogyakarta, Sabtu (26/1/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Dinamika yang terjadi saat pengumpulan sampah plastik dalam keluarga cukup unik. Ternyata cukup susah mengumpulkan sampah plastik yang cukup banyak untuk isian botol ekobrik.

Ada keluarga yang rela membeli makanan berkemasan plastik dalam jumlah cukup banyak demi untuk diambil bungkusnya. Bahkan Rayyi (7), murid Pra-SD ini bertutur mengumpulkan sampah plastik hingga di pasar malam Sekaten.

“Sebenarnya untuk mengisi satu brick butuh waktu sangat lama, justru gak apa-apa. dengan demikian berarti kita gak punya sampah plastik lagi di rumah,” kata Ruri.

Fansisca Ana Rukma Dewi selaku kepala sekolah Labs School Rumah Citta dan ECCD-RC menambahkankan, setiap pameran Labs School Rumah Citta selalu menggunakan limbah/sampah untuk membuat karya.

Kebetulan masih dalam rangkaian pekan lingkungan kali ini sekolah mengajak anak-anak untuk memahami bahaya sampah plastik.

“Sebenarnya pemanfaatan ulang sampah dengan cara mendaur ulang atau mengkreasi ke bentuk lain sudah dilakukan sekolah sejak lama. tapi dengan masivnya media sekarang memberitakan tentang ekobrik membuat seolah-olah kami melu-melu, padahal ya enggak,” terang Ana.

“Sebenarnya dalam pameran kali ini ada dua nilai yang ingin disampaikan, selain tentang pemanfaatan sampah plastik juga pengenalan tentang budaya di keluarga masing-masing,” tutupnya.

Pameran dibuka Lusi Margiyani, Pendiri ECCD RC sekaligus sebagai Pembina. Dalam upaya menanamkan budaya kearifan lokal kepada anak-anak, pameran dimeriahkan pentas jathilan oleh para edukator Lab School Rumah Citta. Disiapkan pula jaranan kecil buat anak-anak agar ikut memainkan jathilan dengan gaya bebas mereka. (sol)



Sabtu, 26 Jan 2019, 20:47:21 WIB Oleh : Nila Jalasutra 872 View
Cerita Cinta Sekar Pembayun Bikin Penasaran
Sabtu, 26 Jan 2019, 20:47:21 WIB Oleh : Sholihul Hadi 1205 View
Program S3 Jangan Hanya di Awang-awang
Jumat, 25 Jan 2019, 20:47:21 WIB Oleh : Sari Wijaya 525 View
Bantul Jadi Malioboro Kedua

Tuliskan Komentar