covid19-teguran-keras-alam-kepada-manusiaJohn de Santo


John-de-santos

Covid-19, Teguran Keras Alam kepada Manusia

SHARE

SELAIN manusia, tak ada makhluk lain di planet bumi yang dengan sengaja merusak habitatnya. Kadang bukan untuk memenuhi kebutuhannya, tapi untuk sekadar memuaskan keinginannya. Daya pikirnya yang istimewa, tak hanya ia gunakan untuk merekayasa banyak hal untuk memudahkan hidupnya,  tetapi juga sekaligus mengeksploitasi sumber daya alam dan mengganggu  keseimbangan ekologis.  Mungkinkah melalui Covid-19, alam sedang memberi teguran keras kepada manusia?

Kemandirian Palsu


Baca Lainnya :

Wabah Covid-19 merusak seluruh tatanan  ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan hanya dalam hitungan bulan.  Krisis ini seyogianya menyentak kesadaran manusia bahwa dirinya bukan pemilik tunggal planet ini. 

Selama ini manusia telah bertindak seperti ‘majikan’ dan menuntut alam melayani semua kebutuhan dan keinginannya, tanpa berpikir, bahwa alam juga memiliki keterbatasan. Dengan penuh percaya diri, manusia dengan membangun kemandian palsu dan mengklaim diri sebagai pusat alam semesta. 


Baca Lainnya :

Padahal sesungguhnya, secara fisik manusia tak mungkin berjarak dengan lingkungan biologisnya. Bahkan dirinya, tak bisa lepas dari mikro organisme seperti virus dan bakteri yang  dalam banyak hal telah menolongnya. 

Maka bukan mustahil, datangnya Covid-19 menjadi pratanda yang mendahului datangnya bencana lain yang lebih masif dan mengerikan”, ungkap Noam Chomsky dalam sebuah wawancara virtual belum lama ini.  Para ahli dari Universitas Columbia mengatakan, bahwa tahun 2019 adalah tahun terpanas sepanjang sejarah dan emisi gas beracun mencapai tingkat tertinggi selama 3 juta tahun terakhir.  

Kesepakatan Paris  yang  ditandatangani oleh sebagian besar negara di dunia pada 2015 untuk mengatasi perubahan iklim dan dampak negatifnya, tidak dijalankan secara konsisten.  AS keluar dari Kesepakatan Paris sejak 2017 karena menganggap perjanjian tersebut merugikan ekonomi AS. Prinsip ‘Me First’ seperti ini tentu mencederai solidaritas antarbangsa, dan isu pemanasan global kembali menjauh.  

Padahal pemanasan global bukan lagi isapan jempol. Kita semua bisa merasakannya sekarang. Negara Kepulauan Salomon di wilayah Pasifik Selatan, sudah  kehilangan lahan seluas 100 juta ha dalam waktu dua dekade. Hutan tropis dengan pantai tempat penyu bersarang sudah ditelan samudera. Jika manusia  tidak mengambil langkah-langkah konkrit untuk menanggulangi pemanasan global, dipastikan dalam waktu dekat ini,  ribuan pulau lain juga akan hilang tak berbekas.

Peringatan Keras

Covid-19 seolah memberi peringatan keras  kepada manusia, bahwa dirinya akan sangat rapuh bila ia tidak menghiraukan keseimbangan ekologis dan menggunakan seperlunya untuk kebutuhan mempertahankan hidup. Nelson Mandela pernah berkata, dunia ini cukup melayani semua orang, tetapi ia tak mampu melayani keinginan segelintir orang serakah.

Resesi ekonomi dunia akibat Covid-19  sedang terjadi. Semua industri terpukul.  Jalan-jalan yang tadinya bising dan ramai oleh berbagai moda transportasi mendadak sepi. Pabrik-pabrik tutup, ribuan penerbangan batal, pusat-pusat perbelanjaan sepi, tempat-tempat pariwisata lengang. Wajah bumi seketika berubah, sebuah pemandangan yang  tak lazim.

Citra satelit memperlihatkan penguragan polusi udara yang  signifikan sejak Covid-19 merebak di China. Para ilmuawan Universitas Colombia AS melaporkan emisi gas CO2 berkurang  5-10 persen, selama tiga minggu terakhir.

Siaran tivi Gravitas menayangkan beberapa ekor penyu naik hingga tangga Merlion Park  Singapura yang biasanya dijubeli wisatawan. Di bandar udara Telaviv sepasang itik bersama beberapa anaknya, dengan santai melintasi ‘forbidden area’. Di pantai Utara Italia, terlihat beberapa ekor ikan lumba-lumba muncul di dermaga, yang  puluhan tahun lalu menjadi tempat mereka bermain,  sebelum dipenuhi gendola dan wisatawan.   

Alam seolah  sedang menagih manusia untuk mengembalikan  ruang hidup yang sudah ia rampas dari makhluk lain. Saatnya, manusia berpikir untuk hidup saling berbagi. Ia harus kembali menyadari, bahwa Tuhan telah menjadikan dirinya sebagai bagian dari mata rantai kehidupan di planet ini.

Mungkin setelah berlalunya badai ini, seluruh umat manusia perlu mempertimbangkan rehat sejagat (global break) seperti sekarang ini untuk memberikan ruang hidup bagi makhluk lain sekaligus melegakan planet bumi ini. ***

 

Penulis dosen Prodi Public Relations, ASMI Santa Maria Yogyakarta; Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka.

 

 

 


TAGS: covid19 virus corona 

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini