atas1

Asu-asuan, Kritik Sri Krishna buat NKRI

Jumat, 08 Mar 2019 | 15:39:36 WIB, Dilihat 1123 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Asu-asuan, Kritik Sri Krishna buat NKRI Aksi Gitar Toto Tewel, Iwank Sambo dan Sri Krishna saat Konser Kidung Nusantara Sri Krishna Celeng Dhegleng di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (7/4/2019) malam. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Jalan Bersama Ini Wujudkan Keguyubrukunan


KORANBERNAS.ID -- Sri Krishna akhirnya menggelar konsernya. Menyajikan lagu-lagu dalam albumnya "Celeng Degleng", dalam setengah perjalanan konser Sri Krishna di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (7/3/2019) malam, penyanyi itu masih terus membius penonton. 800 kursi penuh terisi, seribuan jika ditambah penonton yang berdiri dibelakang barisan kursi pertunjukan.

Riuh kekacauan yang dilantunkan paduan suara mahasiswa Universitas Gajah  Mada (PSM UGM), ketukan perkusi Endy Barqah dan Denny Dumbo menguatkan suasana 'Chaos' yang dibangun Sri Krishna dalam pertunjukannya. Betotan bas Yabes sengaja ditahan hingga terdengar lamat-lamat saja. Lengking petikan gitar khas Toto Tewel tiba-tiba masuk memperkuat suasana.

Sri Krishna saat membawakan lagu celeng dhegleng dengan iringan gitar Toto Tewel saat Konser Kidung Nusantara Sri Krishna - Celeng Dhegleng di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (7/4/2019) malam. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Pria yang pernah dinobatkan sebagai gitaris rock terbaik Tanah Air versi Festival Rock Log Zhelebour Indonesia 1984, 1985, 1986 ini memasuki panggung konser dengan wajah ditutupi balaklava hitam dan rompi oranye bertuliskan Tahanan KPK.  Tak berlama-lama, kolaborasi epic lagu celeng dhegleng berdurasi 7 menit ciamik dibawakan Ncik (panggilan akrab Sri Krishna-red) diiringi lengkingan gitar Toto Tewel.

Persis seperti diakui Ncik Krishna sebelumnya kepada koranbernas.id saat mempersiapkan konser. Bahwa karakter gitaran Toto Tewel dirasa Ncik cocok dengan beberapa lagu dalam pertunjukannya, dan terbukti. Pria kelahiran malang ini tetap tidak menjadi dominan meski sangat piawai memainkan gitarnya. Terlihat beberapa kali Toto Tewel memberikan ruang kepada Iwank Sambo gitaris utama yang mengiringi Sri Krishna. 

Ganjar Pranowo hadir dalam konser Kidung Nusantara Sri Krishna - Celeng Dhegleng di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (7/4/2019) malam. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Asu-asuan adalah lagu yang paling banyak ditirukan penonton concert hall Taman Budaya malam itu. Meski tak sedikit yang malu-malu saat Ncik mengajak menyanyikan bagian reffrainnya. Lagu yang penuh umpat kekesalan ini sebenarnya menyampaikan kritik karena kecintaan Ncik kepada NKRI. Tentang sengkuni yang menghasut sana-sini, bermuka dua, jilat sana-sini dan korupsi.

Asu, asu-asuan (Anjing, anjing-anjingan-red) identik dengan umpatan kesal kepada siapapun. Bahasa ini populer dikalangan anak muda Jawa, khususnya Jogja dan Jawa tengah. 

"Mesakke asune," cerita Ganjar Pranowo yang naik panggung selepas lagu tersebut. Gimana nek misal diganti 'Enchik' mungkin? Celoteh Ganjar disambut tawa Ncik dan para penonton. Ganjar yang mengenakan kaos merah bergambar celeng malam itu menceritakan kedekatannya dengan Ncik sejak tahun 80an. Hal itu ditegaskan Ncik Krishna. 

"Saya akhirnya jadi musisi seperti ini, dan beliau jadi orang hebat yang sejak dulu memang cerdas" kenang Ncik.

Butet Kartaredjasa membacakan puisi K.H Ahmad Mustofa Bisri dalam konser Kidung Nusantara Sri Krishna - Celeng Dhegleng di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (7/4/2019) malam. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Selain Ganjar Pranowo, turut naik keatas panggung Budayawan Butet Kartaredjasa. Butet membacakan puisi yang menyentil karya Gus Mus. Selain Butet dibarisan penonton tampak Seniman dan Budayawan lain ikut hadir menyaksikan Konser Kidung Nusantara Sri Krishna. Nasirun, Djoko Pekik, Djaduk Feriyanto, Ong Hari Wahyu, Oei Hon Djien serta Gusti Prabukusuma adalah salah satunya.

Secara keseluruhan konser Sri Krishna ini sangat memuaskan, totalitas Ncik dan musisi pendukung, pantas diacungi jempol. Begitupun tata  panggung dan penataan cahaya. Terlepas dari suara Sound System Concert Hall Taman Budaya yang memang kurang. Ada satu hal lagi, closingnya kurang klimaks. Ada keragu-raguan yang ditangkap penonton, apakah selesai, atau lanjut. (yve)

 


Jumat, 08 Mar 2019, 15:39:36 WIB Oleh : Nila Jalasutra 312 View
Jalan Bersama Ini Wujudkan Keguyubrukunan
Kamis, 07 Mar 2019, 15:39:36 WIB Oleh : Redaktur 599 View
Futsal Polbangtan Yo-Ma Lolos 16 Besar CEC
Kamis, 07 Mar 2019, 15:39:36 WIB Oleh : Sholihul Hadi 630 View
Gajah Umur 37 Tahun Peroleh Kado Saat Ulang Tahun

Tuliskan Komentar