atas1

Usianya 75 Tahun, Gigi Penjual Jeruk Nipis Ini Masih Utuh

Selasa, 18 Jun 2019 | 04:29:48 WIB, Dilihat 425 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Usianya 75 Tahun, Gigi Penjual Jeruk Nipis Ini Masih Utuh Mbah Narto Sarmi tetap nginang sejak remaja hingga kini. Usianya  75 tahun tapi gigi aslinya masih banyak. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Ratusan Warga Saksikan Rekonstruksi Penganiayaan Berat


KORANBERNAS.ID -- Usianya 75 tahun. Tetapi gigi aslinya masih utuh dan cukup banyak. Warnanya kecokelatan lantaran kebiasaan nginang  atau mengunyah sirih, gambir dan injet sejak remaja. Itulah kearifan lokal masyarakat tempo doeloe dalam menjaga kesehatan gigi.

Nek sak niki pun arang-arang wong nginang (sekarang sudah jarang orang makan sirih),” kata Mbah Narto Sarmi sambil menggosokkan susur (tembakau) memutari giginya.

Boleh percaya atau tidak, wanita penduduk Kemudo Kecamatan Prambanan Klaten ini lebih dari 60 tahun menggantungkan hidupnya dari jeruk nipis.

Dia berdagang di Pasar Beringharjo Yogyakarta sejak usia 10 tahun. Kata mbah Narto waktu itu sebagian pasar masih berujud hutan Bering. Setiap hari dari Kemudo Klaten, gadis cilik ini naik andong.

"Wah sudah tidak ingat lagi berapa ongkos andongnya. Juga harga jeruk nipis waktu itu," kata Mbah Narto dalam bahasa Jawa.

Karena rentang waktu sudah sedemikian lama dan dia tidak mengingatnya. Dia mengaku orang bodoh dan tidak berpendidikan, berjualan jeruk nipis menjadi sebuah rutinitas yang menggelinding begitu saja.

Selain jeruk nipis, dulu Mbah Narto juga jualan daun sirih. Pembeli cukup banyak saat itu. Tetapi karena jumlah pembeli kian menurun akhirnya belakangan ini hanya fokus pada jeruk nipis.

Sejalan dengan perkembangan zaman, sudah lama Mbah Narto bisa menikmati transportasi  bus. Lebih cepat dan praktis. Biayanya, menurut ibu tiga anak dan nenek enam cucu itu, Rp 9.000 sekali jalan.

Jeruk nipis, lebih dari 60 tahun menjadi tempat bergantung harapan Mbah Narto Sarmi. (arie giyarto/koranbernas.id)

Dulu untung

Mbah Narto merasakan berdagang zaman dulu lebih menguntungkan. Karena penjualnya masih jarang.

"Sekarang banyak sekali penjual jeruk. Itu di lantai dua penuh dengan penjual jeruk nipis," kata dia.

Tempat mereka lebih strategis. Sedang Mbah Narto tersembunyi di antara los penjual jamu. Beruntung dia sudah punya beberapa pelanggan.

Dahulu kala, secara berkala Mbah Narto kulakan jeruk ke Surabaya. Pergi naik bus dan pulangnya naik truk membawa dagangan dengan teman-temannya.

Saat itu kulakan ke Surabaya memang menguntungkan. Kemudian pernah dari rumah ke Pasar Taji Prambanan untuk kulakan.

Kini dagangannya disetor oleh juragan di lapaknya. Segera diantar setelah persediaan menipis atau bahkan sudah habis.

Anehnya Mbah Narto juga tidak paham nama juragan penyetor dagangannya maupun dari daerah mana jeruk itu berasal.

Baginya yang penting punya dagangan yang bisa dijual. Saat ini harga jeruk nipis dalam kisaran Rp 6.000 sampai Rp 10.000 per kilogramnya. Tergantung kualitas, tua mudanya jeruk dan kandungan airnya.

Selain salah satu komponen untuk jamu, minuman, pelengkap berbagai hidangan seperti soto, jeruk nipis juga berkhasiat untuk menanak nasi.

Air jeruk nipis yang ditambahkan dalam proses menanak nasi, maka nasi akan lebih awet. Bisa tahan dua hari dan tampilan nasi lebih cantik, lebih putih.

Belum 1.000 hari, suaminya meninggal sehingga di rumah dia sendirian. Ketiga anaknya sudah tinggal terpisah rumah.

Apabila badan merasa tidak enak saja, wanita yang setiap hari berkain dan kebaya itu memanggil anaknya untuk menemani. Tetapi itu sangat jarang.

Yang jelas dia sangat bersyukur dikaruniai kesehatan. Berangkat dan pulang dari pasar ditentukan sendiri. Rata-rata meninggalkan rumah pukul 07:00 dan pulang tergantung situasi.

Jika mengantuk di pasar, dengan nyaman saja dia tidur beralaskan selembar tikar cenderung lusuh.

Dari kerja kerasnya itu  bersama suaminya yang hanya buruh tani bisa mengantarkan anak sulungnya lulus SMA. Sedang anak kedua sampai SMP. Si bungsu, satu-satunya anak wanita dari tiga bersaudara itu disebut sebagai terburu nikah.

Meski rumahnya hancur digoyang gempa hebat lebih sepuluh tahun lalu, namun tidak mengendorkan semangat hidupnya. Dia pasrah pada Allah yang mengatur segalanya.

Barangkali orang lain melihat dengan rasa kasihan, namun Mbah Narto tidak sayang untuk berbagi. "Nyoh, nggawa jeruk. Di nggo wedangan (Ini bawa jeruk buat minuman)" kata dia pada Ana, putri Bu Titien, pemilik kios jamu di depan lapak Mbah Narto.

Sekantung jeruk pun diberikan melalui karyawati Bu Titin, Mbah Narto menolak dibayar.

"Ora sah (tidak usah),” kata dia.

Rasa ikhlas berbagi itu mungkin menjadi salah satu penyebab panjang umur. Hidupnya semeleh dan itu merupakan bentuk kerukunan antar pedagang.

Rasa bahagia dirasakan Mbah Narto saat lebaran Idul Fitri yang lalu karena bisa salat Idul Fitri di lapangan Kemudo.

Berangkat bersama anak, menantu dan cucu. Pulang penuh canda tawa meski hanya dengan semangkuk bakso kesukaan mereka. Selain bakso yang dibeli, nenek yang masih sigap itu juga memasak hidangan lebaran.

Ternyata bahagia itu ada di mana saja dan tidak harus dalam kemewahan. Tergantung bagaimana orang mensyukuri nikmat Allah SWT. (sol)



Senin, 17 Jun 2019, 04:29:48 WIB Oleh : Nanang WH 253 View
Ratusan Warga Saksikan Rekonstruksi Penganiayaan Berat
Senin, 17 Jun 2019, 04:29:48 WIB Oleh : Arie Giyarto 339 View
Para Penyair Membaca Puisi Gunung Api
Senin, 17 Jun 2019, 04:29:48 WIB Oleh : Masal Gurusinga 327 View
Sudah Bayar Lunas Air Belum Mengalir

Tuliskan Komentar