TNI-stipram

Terjadi Kekerasan Seksual, Mahasiswa UGM Pukul Kentongan

Jumat, 09 Nov 2018 | 00:24:45 WIB, Dilihat 192 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Terjadi Kekerasan Seksual, Mahasiswa UGM Pukul Kentongan Ratusan mahasiswa UGM melakukan aksi pukul kentongan dan menandatangani petisi yang berisi sembilan tuntutan untuk UGM sebagai wujud dukungan kasus kekerasan seksual yang menimpa salah satu mahasiswi UGM di Taman Sansiro Fisipol UGM, Kamis (8/11/2018). (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Setengah Abad Membaca Abjad


KORANBERNAS.ID -- Ratusan mahasiswa UGM melakukan aksi pukul kentongan dan menandatangani petisi yang berisi sembilan tuntutan untuk UGM sebagai wujud dukungan kasus kekerasan seksual yang menimpa salah satu mahasiswi UGM di Taman Sansiro Fisipol UGM, Kamis (8/11/2018). Aksi yang diberi nama Gerakan Kita Agni atau UGM Darurat Kekerasan Seksual tersebut sebagai momentum awal mahasiswa dalam meminta ketegasan UGM dalam menuntaskan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus tersebut.

Seperti diketahui, Balairung Press mengeluarkan laporan investigasi dari penyintas yang menceritakan kejadian kasus pemerkosaan yang dialaminya saat KKN. Agni merupakan mahasiswi Fisipol UGM yang menjadi korban dan terduga pelaku berinial HS berasal dari Fakultas Teknik.

"Aksi ini dilakukan dalam merespon pihak kampus terkait rilis kronologi kejadian di balairung,  yang dilakukan oleh penyintas. Perlawanan penyintas atas ketidakadilan dalam kasus kekerasan belum berakhir sampai saat ini. Agni tidak sendirian, karena teman-teman ada untuknya," papar Nadine Kusuma, Humas Solidaritas untuk Agni disela aksi.

Menurut Nadine, sembilan tuntutan yang mereka sampaikan antara lain memberikan pernyataan publik yang mengakui tindak pelecehan dan kekerasan seksual dalam bentuk apapun sebagai bentuk pelanggaran berat. UGM diminta mengeluarkan civitas akademik UGM yang menjadi pelaku pelecehan dan kekerasan seksual.

"Kami ingin pelaku mendapat hukuman setimpal," ujar mahasiswi FIB ini.

Tazkiyah,  panitia aksi solidaritas lainnya menambahkan aksi pengumpulan tandatangan dibuka mulai pukul 09.30 WIB sampai sore hari. Selama sehari mereka sudah mendapat lebih dari seribu dukungan hingga ditutup pukul 18.00 WIB. Dukungan terbanyak dari mahasiswa UGM dengan mencantumkan nama dan nomer induk mahasiswa (NIM).

Selain tandatangan, muncul petisi online yang menuntut keadilan bagi penyintas dan penuntasan dugaan upaya pemerkosaan di UGM. Petisi ini ditujukan kepada UGM dengan tajuk "Usut tuntas kasus pemerkosaan KKN UGM" dan digagas oleh Admin Draft SMS Mahasiswa (DSM) pada Selasa (6/11/2018) sore.

Poster HS, mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang terduga melakukan aksi pemerkosaan. (w asmani/koranbernas.id)

Sementara Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani sebelumnya mengungkapkan, kasus seperti yang diberitakan di Balairungpress memang pernah terjadi. UGM melakukan tindakan dan penanganan dengan membentuk tim investigasi independen melalui surat keputusan rektor.

Tim investigasi independen terdiri dari dosen Fisipol, dosen Fakultas Teknik dan dosen Fakultas Psikologi. Tim independen tersebut bertugas melakukan investigasi langsung ke lapangan dan memberikan rekomendasi-rekomendasi yang juga sudah dijalankan oleh UGM.

"Tim memberikan pendampingan berkelanjutan kepada korban. Sanksi pelaku waktu itu juga langsung ditarik dari KKN," jelasnya.

Iva menambahka, rektorat menindaklanjuti keluhan penyintas yang di sampaikan dalam pemberitaan BPPM Balairung. Selain itu mengambil langkah-langkah demi memberikan keadilan kepada korban, diantaranya menemui korban dan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

"Kita percayakan proses ini kepada yang berwenang," imbuhnya.(yve)



Kamis, 08 Nov 2018, 00:24:45 WIB Oleh : Arie Giyarto 112 View
Setengah Abad Membaca Abjad
Kamis, 01 Nov 2018, 00:24:45 WIB Oleh : W Asmani 121 View
Dari 33 Museum di DIY Hanya Separonya Rutin Dikunjungi Wisatawan
Selasa, 30 Okt 2018, 00:24:45 WIB Oleh : Sholihul Hadi 64 View
Cendekiawan dari Tiga Negara Bertemu di Yogyakarta Bahas Media

Tuliskan Komentar