atas1

Setengah Mati Bertarung Melawan Dinginnya Dieng

Jumat, 14 Jun 2019 | 22:49:45 WIB, Dilihat 4779 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Setengah Mati Bertarung Melawan Dinginnya Dieng Pemandangan saat matahari terbit di Puncak Sikunir. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Para Pecatur Dunia Berebut Gelar Master di Yogyakarta


KORANBERNAS.ID -- Lebaran Idul Fitri menjadi harapan semua orang. Bahkan sejak Ramadan orang berburu rezeki. Penjual makanan buka puasa muncul di mana-mana. Banyak pengusaha katering menerima pesanan lantaran kebiasaan yang berubah. Pesan selain lebih praktis, juga jaminan rasa dan tampilan lebih oke dibanding masak sendiri. Mereka pun bisa meraup jutaan rupiah.

Lebaran 1440 H tahun ini juga memberi berkah berlimpah. Utamanya di daerah wisata yang dibanjiri wisatawan. Salah satu di antaranya daerah pegunungan Dieng Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah.

Mulai hotel, hostel backpacker bahkan home stay habis dibooking jauh-jauh hari. Bagi yang datang mendadak tak akan kebagian tempat.

Keluarga Yuyuk dari Kulonprogo, misalnya, dia dan ibunya terpaksa tidur di mobil. Sedang anak sulungnya bersama dua kemenakannya yang sama-sama pria mendirikan tenda yang sudah dipersiapkan.

Dengan peralatan itu mereka bertarung melawan suhu yang dingin. "Dinginnya setengah mati. Untuk mengusir dingin anak-anak membuat api unggun," kata Miatun, sang nenek kepada koranbernas.id, Jumat (13/6/2019).

Di lokasi ini banyak penjual kayu bakar. Seikat Rp 10.000. Padahal hari biasa Rp 5.000 saja sudah untung. Itu pun jarang pembeli. Meski harus kedinginan mereka bisa ikut hepi di hari raya Fitri.

Hostel atau hotel untuk back packer bisa diperoleh dengan harga relatif murah. Hostel Tani Jiwa yang terletak di pertigaan Jalan Raya Dieng mematok harga Rp 200.000 per orang.

Kendaraan pikap terbuka menjadi salah satu angkutan umum di Dieng. (arie giyarto/koranbernas.id)

Serunya satu kamar relatif agak besar bisa diisi dengan 13 orang pria dan wanita.Tempat tidurnya bertingkat. Masing-masing hanya dipisahkan dengan tirai kain seperti di rumah sakit. Penghuni keluar masuk bebas sesuai kepentingannya.

Kalau ada yang bicara meski sudah pelan-pelan semua akan dengar. Jangan omong mengenai privasi. Ada yang pergi atau pulang lewat tengah malam pun tak boleh protes. Semua sudah disampaikan aturan dan tata tertibnya oleh resepsionis.

Wartawan koranbernas.id yang belum pernah menginap di hostel awalnya agak jengah. Tapi cepat juga menyesuaikan dan merupakan pengalaman seru. Yang penting dapat kasur empuk dan selimut tebal pengusir udara super dingin yang di malam hari bisa di bawah 10 derajat Celcius.

Beruntung tersedia toilet dan kamar mandi mini yang bersih serta sarapan dengan dua pilihan: Nasi goreng atau roti dengan selai dan meisyes plus kopi atau teh panas.

Tempat makan berada di atas sehingga dari balik kaca bisa melihat begitu padatnya lalu lintas di bawah sana. Hampir sepanjang malam tak pernah hilang deru mobil dan motor yang melintas.

Masyarakat setempat biasa menggunakan pikap untuk angkutan umum. Meski medan terjal berbelok-belok mereka tidak khawatir.

Mikrobus mengangkut puluhan penumpang. Bayangkan rasanya. (arie giyarto/koranbernas.id)

Ada pula mikro bus dari kawasan Kecamatan Batur berhenti di pertigaan depan Hostel. Koranbernas terbelalak ketika ada puluhan penumpang turun dari dalam dengan keringat bercucuran. Bisa dibayangkan betapa tidak nyamannya. Bernafas pun barangkali agak susah.

“Ya seperti ini kalau mau ke Wonosobo," kata seorang wanita penumpang bus yang akan menikmati suasana lebaran di kota. Dari sana penumpang masih harus ganti bus menuju Wonosobo.

Puncak Sikunir

Ada tiga titik wisatawan yang ingin menyaksikan indahnya  matahari terbit. Salah satunya adalah Puncak Sikunir. Berbalut jaket super tebal karena harus berangkat dari hostel atau tempat penginapan lain sekitar pukul 03:00 dinihari dengan udara dingin menggigit tulang.

Di tempat parkir ternyata sudah ada puluhan kendaraan pribadi baik mobil maupun motor dan ratusan wisatawan berjubel. Tiba-tiba seorang wanita pingsan dan dengan cekatan diangkat petugas SAR sambil berlari dengan medan naik turun.

Tubuhnya dibawa ambulans yang segera meninggalkan tempat dengan suara meraung-raung. Ternyata Dieng sudah begitu rapi menyiapkan pelayanan bagi wisatawan.

"Mungkin kena serangan jantung. Saya nggak bisa membayangkan sulitnya. Tetapi karena terlatih, petugas tidak kelihatan ribet membopongnya sambil berlari," kata Titisari,  seorang wisatawan kepada koranbernas.id.

Tapi ada juga wisatawan, Sekar, yang sedikit kecewa karena dirinya tak bisa menyaksikan matahari terbit. "Ya karena saking banyaknya orang. Saya tertutup dengan mereka yang datang duluan," kata dia.

Suasana tempat parkir Puncak Sikunir. (arie giyarto/koranbernas.id)
 

Villa Sandiaga

Dari Dieng, safari wisata dilanjutkan ke MesaStilla & Spa Resort yang ada di Dusun Losari. Secara administratif masuk wilayah Kabupaten Magelang meskipun lokasinya hanya beberapa ratus meter di bawah Kopi Eva, Bedono Ambarawa.

Semuanya berbeda dengan hostel. Di kompleks hutan alami yang sangat luas itu terdapat 23 villa. Bangunannya berarsitektur Jawa didominasi kayu.

Meski tidak lengkap tapi bisa mewakili adanya pringgitan, senthong besar dengan tempat tidur berkelambu lengkap dengan kamar mandi, tempat baca dan fasilitas hotel lainnya. Di lantai bawah juga ada tempat tidur plus kelengkapannya dengan ukuran lebih kecil dibanding di atas.

Villa itu lebih dikenal milik Sandiaga Uno itu meskipun dari sumber koranbernas.id dia hanya punya saham 20 persen. Selebihnya saham dimiliki Rusta Perkasa Ruslan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat.

Namun nama Sandiaga mungkin lebih menjual. Ketika Sandi kampanye di wilayah Magelang dan sekitarnya juga menginap di sana. "Tapi hanya sebentar-sebentar," kata salah seorang resepsionis.

Selain sejuk di tengah suasana hutan dengan kabut di pagi hari, tamu  juga disiapkan berbagai program. Di antaranya yoga, tur kebun kopi, naik kuda, merangkai janur dan sebagainya.

Villa itu juga dilengkapi berbagai bangunan zaman Belanda yang masih dipelihara dengan rapi karena awalnya perkebunan itu memang milik orang Belanda. Beberapa kali take over akhirnya jadi milik orang Indonesia.

Tanaman kopi Robusta, kopi Jawa dan dua jenis kopi lainnya sedang  berbuah lebat tetapi belum siap dipetik. Warnanya masih hijau. Kebutuhan kopi untuk menjamu tamu terpenuhi dari kebun sendiri.

Demikian juga aneka sayuran seperti selada, lombok, kobis, seledri yang ditanam secara organik. Juga berbagai empon-empon seperti jahe, kencur, kunyit dan lainnya.

Pohon-pohon besar merindangi MesaStilla. Di bawahnya warna hijau aneka tanaman menghadirkan suasana sejuk. (arie giyarto/koranbernas.id)

Setiap hari tamu disediakan aneka jamu seperti paitan, kunir asem, beras kencur. Gula arennya pun asli diolah dari nira pohon aren yang ditanam di sana. Jamu direbus dengan kuali dan kayu bakar. Jadi setiap hari jamunya fresh.

Meski ada jamu, tetapi menu makannya standar hotel internasional. Memang untuk bisa menikmati semua ini tamu harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk setiap villa.

"Ya memang harus dibayar mahal karena servis yang bagus dan suasana yang nyaman;" kata Ari Wuryono, salah seorang tamu dari Jakarta yang setiap hari disibukkan dengan kerja keras di belantara beton yang gersang.

Google map

Perjalanan ke obyek-obyek wisata sangat terbantu dengan adanya google map. Apalagi ke Dieng, wisatawan datang hampir sepanjang malam. Lokasi berbukit-bukit dalam suasana gelap, dengan mudah dipandu sampai lokasi.

Bisa dibayangkan tanpa aplikasi itu bagaimana wisatawan bisa sampai tujuan dengan tepat dan cepat. Mau bertanya pada siapa, karena jarak yang jauh kadang tanpa penghuni. Gelap lagi. Inilah nikmatnya kemajuan teknologi dalam genggaman tangan. (sol)



Jumat, 14 Jun 2019, 22:49:45 WIB Oleh : Rosihan Anwar 448 View
Para Pecatur Dunia Berebut Gelar Master di Yogyakarta
Kamis, 13 Jun 2019, 22:49:45 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 968 View
Tiap Selasa Wage Ditutup, Malioboro Istirahat
Kamis, 13 Jun 2019, 22:49:45 WIB Oleh : Rosihan Anwar 475 View
Diprediksi Aman, DIY Tak Respons Berlebihan Sidang MK

Tuliskan Komentar