kisah-zaenab-yang-sempat-terkucil-gegara-coronaZaenab dan putri sulungnya, Lies Marni, di rumahnya Sorosutan Yogyakarta. (arie giyarto/koran bernas.id)


arie-giyarto

Kisah Zaenab yang Sempat Terkucil Gegara Corona

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Kisah ini terjadi beberapa bulan silam tatkala virus Corona atau Covid-19 mulai menyebar dari Wuhan China kemudian menggemparkan dunia. Banyak orang menjadi “korban” karena panik dan cemas.

Akibat wabah yang berkepanjangan hampir setiap orang menyimpan gambar-gambar ketakutan di kepalanya. Setidaknya, kenangan kurang mengenakkan itu pernah dialami Zaenab saat dirinya terkucil gegara Corona. Namun demikian dia pun memakluminya.


Baca Lainnya :

Pangkal persoalannya waktu itu, warga Jetis RT 29 RW 08 Kelurahan Sorosutan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta ini baru saja pulang dari ibadah umrah.

Beberapa hari setelah tiba di rumah, dia terkena batuk, pilek dan demam. Tenggorokannya terasa sakit. Demikian pula kedua kakinya terasa sakit bila disentuh.


Baca Lainnya :

Warga mulai gelisah. Mereka khawatir Mbah Nab, begitu dia sering disapa, terpapar virus Corona. Warga mulai membatasi diri berinteraksi dengan wanita lanjut usia itu. Sebaliknya, Mbah Nab juga “tahu diri” tidak sering keluar rumah bertemu warga.

Mbah Nab sendiri tidak cemas meski menderita batuk, pilek dan demam. “Saya pikir hanya kecapekan saja karena ibadah fisik di tanah suci memang cukup berat. Apalagi jarak hotel dan masjid lumayan jauh,” katanya kepada koranbernas.id di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Untuk memastikan kondisinya, Zaenab periksa kesehatan ke dokter Nurlaily. Seingat dia dua kali periksa karena pada pemeriksaan pertama tenggorokannya terasa belum lega. Dokter langganannya menyatakan sakit itu hanya akibat kelelahan. Zaenab pun merasa plong atau lega.

Didampingi putri sulungnya, Lies Marni, Mbah Nab menjelaskan keputusan untuk menarik diri dari berbagai kegiatan di luar rumah kala itu semata-mata untuk pemulihan kesehatan.

“Saya serahkan semua pada Allah karena hidup, mati dan seluruh kehidupan manusia itu Allah lah yang mengatur,” kata Mbah Nab.

Zaenab berangkat bersama 83 jamaah. Dia mengaku baru mengetahui ada virus Corona setelah sampai Yogyakarta. Saat di Mekkah memang sempat terdengar kabar ada rombongan jamaah sudah berada di Bir Ali tempat menjatuhkan niat umrah ternyata ditolak tidak boleh masuk kota suci.

Dia dan rekan-rekannya tidak mengetahui sebabnya kecuali bisa merasakan suasana Masjidil Haram tidak seramai biasanya, jamaah umrah yang tawaf berkurang.

Yang pasti Zaenab sangat bersyukur bisa berangkat umrah melalui rezeki dari Hj Rini dan H Nur, pemilik RM Rata-rata lantaran dinilai lansia paling rajin dan serius mengaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Masjid Baiturrohim Jalan Sidokabul.

Beruntung pula jadwal umrah maju. “Awalnya Mamak diberangkatkan 3 Maret kemudian berubah lagi tanggal 7 Maret akhirnya diajukan 22 Februari 2020,” kenang Lies.

Kalau saja tidak ada perubahan jadwal keberangkatan, wanita itu pasti batal bertolak ke Mekkah memenuhi panggilan Allah SWT lantaran Arab Saudi telah menghentikan umrah.

Sepulang dari umrah Zaenab mengisi hari-harinya dengan meningkatkan ibadah, baca Al Quran, salat tahajud, zikir, wiridan. Sebelum ada pandemi Covid-19, Mbah Nab juga dikenal rajin ke masjid maupun mengikuti senam lansia setiap Selasa, Kamis dan Sabtu. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini