Banjir Konten, Ini Cara Industri Periklanan Rebut Perhatian Publik
Dengan medsos, ruang iklan semakin banyak. Tapi perhatian publik semakin terpecah.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Industri periklanan Indonesia sedang memasuki persimpangan besar akibat dua gelombang perubahan yang datang bersamaan. Ledakan sosial media dan percepatan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus terjadi.
Jika AI mengubah pola produksi konten, maka media sosial menciptakan pasar baru yang lebih luas. Bahkan memecah perhatian publik sedemikian rupa hingga strategi lama tak lagi relevan.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenparekraf/Bekraf, Agustini Rahayu, menilai problem inti periklanan saat ini bukan hanya soal efisiensi produksi, tetapi perebutan eyeballs di tengah banjir konten.
“Dengan medsos, ruang iklan semakin banyak. Tapi perhatian publik semakin terpecah. Tantangannya bukan sekadar membuat konten cepat, tapi bagaimana memastikan konten kita punya tempat di tengah kebisingan digital,” ujarnya dalam Pinasthika Creativestival XXI di GIK UGM Yogyakarta, Jumat (14/11/2025).
Ruang baru
Menurutnya, masifnya platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga layanan streaming memberikan ruang iklan baru setiap hari. Namun pertumbuhan eksponensial itu tak serta-merta menjamin efektivitas.
“Pelaku industri harus menguasai ekosistem yang makin kompleks. Ini bukan lagi soal membeli ruang iklan, tapi memahami perilaku publik secara real time,” lanjutnya.
Agustini menekankan AI tidak lagi hanya menjadi alat produksi visual, tetapi decision maker assistant yang membantu agensi membaca tren, segmentasi, serta pola konsumsi media. “AI mengubah industri, mengubah media, mengubah cara kita bekerja. Tapi ini bukan musuh. Ini akselerator,” tambahnya.
Sementara itu, Chairman Pinasthika Creativestival XII, Rizal Kasim, menggambarkan lanskap periklanan saat ini sebagai “era tanpa ruang tunggal”. Iklan tidak lagi berkutat pada TV, billboard atau media cetak karena hampir semua ruang digital adalah inventori potensial.
Cara kerja
“Hari ini iklan bisa muncul di video 6 detik, live streaming, konten UGC, mikro-influencer, bahkan dalam bentuk rekomendasi otomatis AI. Kita tidak punya pilihan selain mengubah cara kerja,” jelasnya.
Rizal menyebutkan perubahan ini menuntut pelaku kreatif untuk lebih adaptif, menguasai teknologi serta membangun kolaborasi antar-agency maupun lintas disiplin.
Festival Pinasthika tahun ini diikuti lebih dari 50 agensi, design studio hingga production house dari berbagai daerah. Event itu diharapkan menjadi arena berbagi strategi menghadapi kerumitan ekosistem iklan digital masa kini.
Dari ajang kreativitas ke laboratorium industri dengan tema Let’s Beat The Heat, dia menilai Pinasthika mencerminkan tekanan yang sedang dialami dunia periklanan.
Panasnya kompetisi
“Kita sedang berhadapan dengan panasnya kompetisi. Tapi justru ini saatnya melihat medsos dan AI sebagai ruang kolaborasi bukan pemecah industri,” ujarnya.
Festival tahun ini, lanjut Rizal, bukan sekadar ajang merayakan karya terbaik, tetapi ruang konsolidasi untuk memahami arah industri. “Kita harus mencari cara untuk bukan hanya bertahan tetapi memimpin di lanskap yang serba digital ini,” tandasnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
