atas

Tak Perlu Bermimpi Jadi PNS

Kamis, 29 Nov 2018 | 18:56:27 WIB, Dilihat 70 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Tak Perlu Bermimpi Jadi PNS Proses wisuda 149 lulusan D3, S1 dan S2 STPMD "APMD" di kampus setempat, Sabtu (24/11/2018).

Baca Juga : Ini Alasan 20 Guru Australia Tertarik ke Jogja


KORANBERNAS.ID -- Generasi milineal tidak perlu bermimpi menjadi Aparat Sipil Negara atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selain kuotanya yang terbatas, profesi lain yang menjanjikan juga banyak.

"Kami sekarang malah mendorong para lulusan STPMD “APMD” untuk hadir menjadi pegiat desa atau masuk menjadi perangkat desa, yang kelak sanggup merebut kekuasaan, baik kursi kepala desa maupun pemimpin politik daerah. Perangkat desa bukanlah profesi rendahan, tetapi profesi mulia, karena bersentuhan langsung-dekat dan bermanfaat untuk orang banyak di kampung," papar Dr. Sutoro Eko Yunanto, Ketua STPMD “APMD dalam wisuda 149 lulusan D3, S1 dan S2 di kampus setempat, Sabtu (24/11/2018).

Diceritakan Sutoro, pada tahun 2016 saat dia berkunjung ke desa Sungai Gomeh, di Pulau Rangsang, yang ditempuh dengan tiga jam perjalanan darat dari Kota Pekanbaru, disambung dengan menyebarang laut dua kali selama dua jam. Desa itu cukup maju dan menyenangkan meskipun berada di pelosok negeri, yang dipimpin seorang kepala desa visioner luluasan SMA, didampingi oleh 10 perangkat desa, yang 7 orang di antaranya berpendidikan sarjana.

berkat UU Desa, banyak sarjana yang berprofesi sebagai pegiat desa, yang kemudian berhasil menjadi perangkat desa, bahkan sukses merebut kursi kepala desa. Tentu ini adalah perkembangan positif, baik sebagai modalitas perubahan desa, maupun sebagai pintu karir lulusan kita.

"Dua hal ini tentu menjadi platform utama kampus hari ini dan hari esok," ujarnya.

Ditambahkannya, setelah wisuda para sarjana harus menempuh jalan yang lebih panjang, mengarungi dunia yang lebih rumit dan sulit, entah mencari pekerjaan, merajut keluarga, atau bergaul dengan masyarakat luas. Pekerjaan adalah dunia nyata yang harus dituju oleh sarjana. Sarjana bisa memiliki banyak pilihan atau sama sekali tidak punya pilihan tentang profesi.

PNS adalah profesi nomor wahid yang selalu dicari oleh para sarjana, baik karena karakter “negara pegawai” atau karena PNS lebih banyak menjanjikan sederet kebaikan ketimbang profesi lain. Tetapi masuk dunia PNS sungguh berat hari ini, baik karena kursi yang disediakan terbatas, maupun karena standar passing grade tes PNS besutan Kementerian PAN RB yang terlalu tinggi.

Baru-baru ini, Badan Kepegawaian Negara melansir kabar hanya 9% peserta ujian CPNS yang sanggup lolos seleksi kompetensi dasar dengan materi tes kepribadian, kebangsaan dan intelegensia. Banyak pihak, terutama dari daerah pinggiran, menyampaikan protes keras terhadap fakta kegagalan itu. Pemerintah dituding tidak melakukan afirmasi terhadap kondisi orang pinggiran.

Bahkan ada pula pihak menuding perguruan tinggi telah gagal menyiapkan sarjana yang memiliki kompetensi kuat akan intelegensia, kepribadian, dan kebangsaan. Sehingga mereka tidak sanggup menembus pintu PNS.

Hanya para sarjana yang memiliki kecerdasan mekanis-teknokratis yang sanggup lolos masuk PNS. Kecerdasan mekanis ini tentu dirancang oleh tim teknokrat Kementerian PAN RB dengan niat baik untuk menghasilkan PNS yang hebat, tentu dengan cara pandang mereka, meskipun hal ini bisa mendatangkan risiko buruk, terutama untuk pembentukan semangat kebangsaan dan keberpihakan pada kedaulatan rakyat. Sebaliknya, mengikuti ideologi Soekarno, hanya sarjana yang memiliki kecerdasan kritis dan karakter progresif yang sanggup memiliki semangat kebangsaan dan kedaulatan rakyat.

"Dengan begitu saya tidak terlalu risau. Dua puluh empat tahun silam saya juga pernah mengikuti seleksi PNS, tetapi ternyata gagal, karena saya tidak memiliki kecerdasan mekanis. Kelak, di antara para sarjana yang gagal masuk PNS, demikian juga dengan para sarjana baru Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa APMD bisa hadir menjadi pemimpin politik yang sanggup melampaui dan mengendalikan PNS," imbuhnya.(yve)



Kamis, 29 Nov 2018, 18:56:27 WIB Oleh : Sholihul Hadi 159 View
Ini Alasan 20 Guru Australia Tertarik ke Jogja
Kamis, 29 Nov 2018, 18:56:27 WIB Oleh : Sholihul Hadi 96 View
Museum Harus Cari Terobosan
Kamis, 29 Nov 2018, 18:56:27 WIB Oleh : Sari Wijaya 254 View
Guru Sejarah pun Punya Asosiasi

Tuliskan Komentar