atas1

Hakim PN Yogyakarta Tertunduk Usai Memvonis Sembilan Terdakwa

Selasa, 16 Apr 2019 | 02:16:15 WIB, Dilihat 26524 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Hakim PN Yogyakarta Tertunduk Usai Memvonis Sembilan Terdakwa Persidangan kasus penggelapan asal usul di PN Yogyakarta, Senin (15/4/2019). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : CPNS Diminta Bersabar Setahun lagi


KORANBERNAS – Asep Permana SH, hakim Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta itu langsung menundukkan kepala, usai memvonis sembilan orang terdakwa pada persidangan di Pengadilan Negeri setempat, Senin (15/4/2019) sore.

Dari ekspresi wajahnya, Asep Permana selaku Ketua Majelis Hakim itu terlihat seperti menahan sesuatu yang teramat berat di dadanya.

Hal ini mengingat persidangan kasus penggelapan dokumen asal-usul Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun, putri Susuhunan Paku Buwono X dengan GRAj Moersoedarinah atau GKR Emas, terkait ganti rugi lahan bandara di Temon Kulonprogo sebesar Rp 701 miliar, memang tergolong rumit.

Didampingi hakim anggota P Cokro Hendro Mukti SH  dan A Suryo Hendratmoko SH, dengan nada bicara pelan Asep sempat mengucap permohonan maaf ketika salah seorang terdakwa menyampaikan uneg-uneg-nya di luar persidangan.

“Mohon maaf, pendapat pribadi tidak boleh disampaikan. Di luar sidang, bisa bicara dari hati ke hati,” ujarnya tenang sehingga terdakwa bisa menerima saran itu.

Pada persidangan yang berlangsung hingga menjelang pukul 17:00 itu, sembilan orang terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 266 junto pasal 55 ayat (1) KUHP serta menjatuhkan pidana 9 bulan hingga 1 tahun.

Sembilan terdakwa itu adalah Suwarsi, Eko Wijanarko, Dwi Mahanani Endah Prihatini, Hekso Leksmono Purnomowati E, Nugroho Budiyanto, Rangga Eko Saputro, Diah Putri Anggraini, Ida Ayuningtyas dan Prihananto.

Suwarsi sebagai terdakwa I dihukum 9 bulan tapi tidak perlu dijalani kecuali ada putusan hakim yang lain sebelum masa percobaan habis.

Asep Permana menyatakan apakah menerima, pikir-pikir ataukah banding. “Bagaimana? Mau konsultasi dulu dengan penasihat hukum, mangga,” ucap dia kemudian mempersilakan para terdakwa berkonsultasi dengan penasihat hukum yang terdiri dari sembilan advokat.

Mereka adalah Bambang Hadi Supriyanto SH, Dr Song Sip SH MH, Wahyu Winarto SH, Slamet Mulyadi SH MH, Ibnu Wisuko SH, Arlen Purba SH, Burmawi Kohar SH, Arkan Cikwan SH dan Sri Kalono SH MSi.

Akhirnya diputuskan untuk pikir-pikir sebelum nantinya mengajukan banding. Sementara terdakwa IX, Prihananto, yang divonis 1 tahun 6 bulan kepada majelis hakim langsung menyatakan akan mengajukan banding  secara terpisah.

Para terdakwa menangis usai menjalani sidang di PN Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dramatis

Jalannya persidangan berlangsung dramatis. Usai persidangan, semua terdakwa menangis sambil berangkulan dengan keluarganya masing-masing.

Terdengar tangisan histeris disertai satu dua kali teriakan protes disusul tangisan keras balita di gendongan. Sebagai cucu pahlawan, mereka merasa terzalimi.

Salah seorang terdakwa bahkan tidak kuat menahan emosinya hingga tubuhnya lunglai rebah di depan kantor pengadilan. Keluarganya kemudian menenangkan.

Arkan Cikwan SH selaku penasihat hukum menyampaikan vonis yang dijatuhkan majelis hakim berbeda dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), Suwarsi dkk melanggar pasal 277 ayat (1) jo pasal 55 KUHPidana. Dalam putusannya hakim menggunakan pasal 266 KUHPidana.

Selain heran dan diliputi pertanyaan-pertanyaan, Arkan menilai putusan itu ajaib. Menurut dia, hakim memakai dakwaan alternatif sedangkan JPU dalam surat dakwaannya menggunakan dakwaan komulatif.

Sri Kalono SH menambahkan, pertimbangan hakim telah mengesampingkan surat Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, GKR Condrokirono, putri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Adapun dasar yang digunakan hakim adalah keterangan dari Wakil Pengageng Kusumowandono Keraton Surakarta KPH Brotoadiningrat dan Penghageng Tepas Darah Dalem Keraton Ngayogyakarta KRT Harsadiningrat.

Dua lembaga itulah yang menerbitkan silsilah keluarga Munier Tjakraningrat sebagai keturunan Pembayun yang dimakamkan di Imogiri. Sedangkan Pembayun, orang tua Suwarsi, dimakamkan di Gawanan Karanganyar Surakarta. (sol)



Senin, 15 Apr 2019, 02:16:15 WIB Oleh : Endri Yarsana 718 View
CPNS Diminta Bersabar Setahun lagi
Senin, 15 Apr 2019, 02:16:15 WIB Oleh : W Asmani 614 View
Warga Binaan Lapas Siap Sukseskan Pemilu
Senin, 15 Apr 2019, 02:16:15 WIB Oleh : Arie Giyarto 641 View
Bawaslu Kewalahan, Caleg-caleg Masih Nampang

Tuliskan Komentar