atas1

Dari Prancis ke Jogja Demi Syuting Video Klip

Sabtu, 07 Mar 2020 | 12:06:41 WIB, Dilihat 988 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Dari Prancis ke Jogja Demi Syuting Video Klip Yenni Djafar Day. (istimewa)

Baca Juga : Perajin Gula Merah Keluhkan Kelangkaan Gula Rafinasi


KORANBERNAS.ID, JOGJA -- Seperempat abad lalu musik Indonesia berkembang sangat pesat. Dari segi kualitas, suara dan musikalitas, musisi pada era tersebut tak diragukan. Tidak mudahnya teknologi informasi seperti sekarang membuat masing-masing musisi memiliki orisinalitas yang bagus. Penyanyi solo maupun band memiliki karakteristik yang berbeda. Ini membuat banyak musisi pada era tersebut masih eksis hingga kini. Sebut saja Dewi Yull, Titi Dj hingga lady rocker Mel Shandy, Inka Christy dan Nicky Astria.

Yenni Djafar Day, merupakan salah satu perempuan yang pernah merekam karya-karya musiknya dalam sebuah album solo 35 tahun silam. Yenni yang masa mudanya dikenal sebagai penyanyi, model dan bintang iklan ini juga pernah ikut terlibat dalam sebuah album kompilasi 10 Senandung Terbaik Yogyakarta garapan Fariz RM dan Jockey Suryoprayoga.

Meski perempuan berdarah Bugis, Jawa dan Melayu ini tidak benar-benar masuk ke industri musik tanah air dikarenakan harus tinggal di Soligny la Trappe Normandie Prancis sejak usia 23 tahun, Yenni tetap bernyanyi di panggung-panggung musik Prancis.

Disamping bermusik, di Prancis Yenni jadi gemar bermain golf. Kegemarannya ini membuat ia beberapa kali menjadi juara. Walau demikian kemampuan berkeseniannya tak pernah hilang.

Ibu empat anak dengan satu cucu ini juga punya kemampuan dalam bidang sastra. Cerpen-cerpen Yenni beberapa kali dimuat di Surat Kabar Mingguan Yogyakarta. Ia juga menulis buku biografri Memori Istri Ekspatriat (terbit di Indonesia), dan Memoires D’Une Femme D’Expatrie (bahasa Prancis).

Kendala bahasa merupakan hal mutlak yang dialami Yenni, sama seperti orang Indonesia yang tinggal di Prancis lainnya. Menurutnya, bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa yang sulit untuk dipelajari. "Tidak lebih mudah dari bahasa inggris," terang Yenni saat ditemui Rabu (4/3/2020) lalu di Phoenix Hotel Yogyakarta.

"Dengan anak, saya berbicara dua bahasa, yaitu Prancis dan Indonesia. Walau tidak memiliki pengalaman tinggal lama di Indonesia, keempat anak saya bisa mengerti bahasa (Indonesia), terutama jika saya sedang marah," kelakarnya.

Kecintaan Yenni pada dunia tarik suara tak kunjung padam. Penyuka krupuk ini rajin meng-cover lagu-lagu daerah dan karya musik milik artis lain, kemudian di unggah ke akun platform video streaming dan media sosial miliknya. Selain itu, ia juga kerap menciptakan lagu sendiri dengan iringan gitar akustik.

Ternyata salah satu karya Yenni mendapat respon dari sahabat-sahabatnya. Salah satunya adalah komposer yang tinggal di Cirebon, Alexolela. Alex lalu menggarap lagu tersebut dengan musik lengkap dan video klip sederhana lalu dikirim ke Yenni sebagai hadiah ulang tahun. Kejutan ini sangat menyenangkan, sekaligus menyadarkan Yenni, ternyata dirinya masih mampu bernyanyi seperti ketika masih remaja.

Single "Menanti" yang dipilihnya ini pun digarap serius. Yenni menyempatkan pulang ke Indonesia, khususnya Yogyakarta, untuk menggarap video klip. Tak butuh waktu lama, video klip yang mengambil lokasi pembuatan di sebuah villa di kaki Gunung Sumbing ini hanya memakan waktu sehari.

Video klip yang disutradarai oleh Latief Noor Rochmans ini sudah bisa dinikmati melalui kanal video streaming Yenni Djafar Day sejak Rabu, (4/3/2020). Noe dan Bayu Seruny yang dilibatkan dalam penggarapan video klip ini mengaku tidak ada kesulitan dalam pengerjaannya. "Cuaca yang mendukung serta arahan sutradara yang jelas, membuat semaunya lancar," papar Bayu.

"Memang agak khawatir hujan karena sedang musimnya. Apalagi setelah lewat tengah hari, kabut yang turun ternyata justru membuat feel lagu ini dapet," ungkapnya.

Seperti halnya artis-artis di era sekarang, Yenni hanya akan merilis single Menanti di media sosial Facebook/Instagram/Youtube/Smule: Yenni Djafar Day. Yenni menambahkan, ia tidak memburu penjualan cakram padat (CD, Compact Disk-red). Single ini merupakan awal yang akan bermuara pada pembuatan mini album, sekaligus menegaskan bahwa dirinya tetap berkarya meski usia tidak lagi muda. (eru)



Sabtu, 07 Mar 2020, 12:06:41 WIB Oleh : Nanang WH 469 View
Perajin Gula Merah Keluhkan Kelangkaan Gula Rafinasi
Sabtu, 07 Mar 2020, 12:06:41 WIB Oleh : Redaktur 326 View
Malio Hotel Group Yogyakarta Menggelar Travel Agent Gathering di Cirebon
Sabtu, 07 Mar 2020, 12:06:41 WIB Oleh : Redaktur 515 View
Wartawati Senior Arie Giyarto Terbitkan Buku Catatan Kecil Seorang Jurnalis

Tuliskan Komentar