atas

Arsitek Indonesia Hadapi Tantangan Makin Berat

Kamis, 11 Apr 2019 | 18:23:51 WIB, Dilihat 293 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Arsitek Indonesia Hadapi Tantangan Makin Berat Wisuda Profesi Arsitek, Pendidikan Profesi Arsitek (PPA) UII Yogyakarta Angkatan ke-3 Tahun 2017/2018, Kamis (11/4/2019) di Kampus UII Jalan Kaliurang. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Luar Biasa, Bantul Lima Kali Juara Pepaperda


KORANBERNAS.ID -- Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Fathul Wahid Ph D, menyatakan menghadapi era globalisasi tenaga kerja di lingkup regional ASEAN dan internasional, para arsitek Indonesia mau tidak mau harus menghadapi tantangan yang semakin berat.

Untuk dapat bertahan mereka harus meningkatkan daya saing dan kompetensi profesionalnya. “Salah satu solusinya adalah melalui sertif─▒kasi profesi lewat jenjang pendidikan,” ujarnya, Kamis (11/4/2019), di kampus UII Jalan Kaliurang Sleman.

Melalui sambutan tertulisnya pada Wisuda Profesi Arsitek, Pendidikan Profesi Arsitek (PPA) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Angkatan ke-3 Tahun 2017/2018, dia menyampaikan arsitek merupakan salah satu profesi yang memiliki andil tinggi di bidang jasa konstruksi.

Pengenalan pendidikan profesi bagi arsitek dinilai penting agar karya arsitek Indonesia dapat lebih diakui di kancah internasional.

“Apabila kita melihat peta persaingan tenaga ahli konstruksi di level regional dan global, negara kita masih harus berbenah. Sebuah bangsa yang ingin maju di sektor pembangunan, maka membutuhkan banyak tenaga ahli di bidang konstruksi,” jelasnya.

Kebutuhan akan arsitek yang andal dan kompeten mutlak harus dipenuhi guna menjamin keberlangsungan pembangunan Indonesia yang mandiri.

Di sinilah pentingnya pendidikan profesi arsitek berstandar global sebagai pendongkrak daya saing arsitek Indonesia. Hanya arsitek yang memiliki lisensi dan sertifikasi profesi, karyanya dapat diakui secara kredibel di kalangan jasa kontruksi.

Fathul Wahid berpesan, lulusan Program Studi Profesi Arsitektur UII diharapkan mempunyai perhatian dan kepedulian yang tinggi serta andil yang besar terhadap konsep green living dan green architecture.

Hal ini menginat pemanasan global menjadi ancaman dan perhatian serius seluruh penghuni bumi. Penghematan energi bisa dilakukan mulai dari hal-hal kecil, termasuk dari konsep desain rumah tinggal.

Seperti diketahui, rumah tinggal menyerap energi terbesar kedua setelah industri. Aktivitas di dalam rumah rata-rata selama 16 jam bahkan mungkin lebih, sehingga penggunaan listrik memakan energi cukup besar.

Menurut Fathul Wahid, konsep green living atau gaya hidup rampah lingkungan tampaknya sudah mulai disadari oleh masyarakat.

Penerapan konsep ramah lingkungan pada desain hunian bisa dilakukan dengan mengaplikasikan sustainable architecture atau arsitektur berkelanjutan.

Konsep green architecture untuk hunian memiliki keunggulan karena memiliki tiga poin yaitu keberlanjutan, ramah lingkungan  dan performa bangunan yang optimal.

Ketua Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) UII, Ahmad Saifudin Mutaqi MT IAI AA GP, menyampaikan mereka yang diwisuda kali ini sejumlah 23 mahasiswa terdiri dari 14 wisudawati dan 9 wisudawan. IP kumulatif rata-rata 3,62, terendah 3,23 dan tertinggi 3,98.

Para arsitek muda itu kini siap bekerja dan magang selama dua tahun menggunakan bekal kompetensinya untuk mencapai jenjang profesional mandiri.

“Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek Ull telah menjalani proses pembelajaran selama satu tahun dengan menempuh 36 SKS, berupa 9 Mata Kuliah wajib maupun mata kuliah pilihan,” ujarnya.

Adapun mata kuliah inti berupa Studio Profesional perancangan arsitektur bersama para arsitek profesional. Proses perkuliahan berlangsung di dalam dan luar kampus, bersama dosen pembimbing berkualifikasi profesi.

Mahasiswa juga melakukan praktik merancang bangunan dengan kompleksitas sedang hingga tinggi dan berisiko sedang hingga tinggi berbasis proyek nyata. ”Proyek yang dikerjakan berada di luar kota sebanyak 34 proyek dan di dalam kota Yogyakarta 32 proyek,” ungkapnya.

Rangkaian pembelajaran diakhiri seminar Desain Arsitek. Mahasiswa/mahasiswi melakukan riset desain, dipublikasikan serta dibawakan di forum publik Seminar Nasional Sustainability in Architecture. Ini dimaksudkan untuk mempertajam kemampuan analisis dan sintesis yang kelak bermanfaat bagi profesinya.

Selain itu, mahasiswa telah pula melakukan pelatihan Kode Etik Profesi dan Tata Laku Arsitek bersama Ikatan Arsitek Indonesia, dalam hal ini lAl DIY dan lulus Uji Kompetensi yang diselenggarakan LPJK DIY bersama para Asesor Arsitek IAI.

Pembacaan sumpah profesi arsitek. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Kawah Candradimuka

Ketua Jurusan Arsitektur UII Noor Cholis Idham Ph D IAI juga merasa bangga kampus ini berhasil mempersembahkan arsitek profesional muda Indonesia.

“Para arsitek muda ini telah digembleng dalam kawah Candradimuka dunia arsitek selama setahun melalui Program Profesi Arsitek (PPAr) setelah mereka menyelesaikan Sarjana (S Ars) dalam skema pendidikan 4 +1 tahun,” jelasnya.

Selama lima tahun mengikuti pendidikan arsitektur dan profesi arsitek, pengetahuan ilmu dan teknologi serta kemampuan keprofesian lapangan, mereka menjadi arsitek muda yang andal dan mumpuni serta siap terjun sebagai pemimpin proses pembangunan.

Jurusan Arsitektur UIl saat ini sudah bertaraf global, diakui oleh Canberra Accord melalui akreditasi internasional Korea Architectural Accrediting Board (KAAB).

Artinya, setiap lulusan pendidikan Jurusan Arsitektur Ull diakui dan setara secara internasional sehingga mereka dapat terjun di dunia praktik arsitek secara global.

“Komitmen ini akan senantiasa kita pegang teguh dalam upaya memajukan dunia profesi arsitek dan mendukung pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” ungkap Noor Cholis Idham.

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ahmad Djuhara IAI, menyatakan dengan diterbitkannya Undang-undang Nomo 06 Tahun 2017 tentang Arsitek, profesi arsitek sudah mendapat payung yang kuat. “Profesi arsitek akan selalu dikenali melalui hasil karyanya,” ucap dia.

Hanya saja dia berpesan para arsitek muda ini tetap berada di jalur etik. Ini yang kadang-kadang sulit karena harus berhadapan dengan permasalahan teknis maupun non-teknis.

Menurut Ahmad Djuhara, permasalahan teknis lebih mudah diatasi dengan cara tidak berhenti belajar, terbuka dan tidak arogan.

Sedangkan permasalahan non-teknis hanya dapat diatasi melalui hati nurani sesuai dengan landasan kode etik dan kaidah tata laku profesi arsitek. Seorang arsitek harus  mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah serta boleh dan jangan. “Selamat bagi arsitek muda. Indonesia menunggu karyamu,” kata dia. (sol)



Rabu, 10 Apr 2019, 18:23:51 WIB Oleh : Rosihan Anwar 171 View
Luar Biasa, Bantul Lima Kali Juara Pepaperda
Rabu, 10 Apr 2019, 18:23:51 WIB Oleh : Redaktur 132 View
Salut, Tentara Ini Bopong Lansia Turun dari Truk
Rabu, 10 Apr 2019, 18:23:51 WIB Oleh : Sari Wijaya 153 View
Pantai Parangtritis Aman untuk Surfing

Tuliskan Komentar