Wisata Borobudur Tak Lagi Hanya Candi, Industri Slondok dan Yangko Rumahan Kini Jadi Destinasi Favorit Wisatawan
Industri slondok dan yangko rumahan di Borobudur kini berkembang menjadi destinasi wisata favorit. Didukung wisata VW klasik, sentra UMKM ini mampu menggerakkan ekonomi petani dan pelaku usaha lokal di Magelang
MAGELANG, KORANBERNAS.ID – Kawasan Borobudur terus menghadirkan warna baru dalam industri pariwisata. Jika selama ini wisatawan identik dengan kunjungan ke Candi Borobudur, kini industri makanan rumahan yang memproduksi slondok dan yangko mulai berkembang menjadi destinasi wisata alternatif yang diminati pengunjung.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya minat wisata berbasis pengalaman (experiential tourism) yang memungkinkan wisatawan tidak hanya melihat objek wisata, tetapi juga berinteraksi langsung dengan aktivitas masyarakat lokal.
Menariknya, sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke sentra industri makanan rumahan tersebut berasal dari luar Kabupaten Magelang dan menjadikan lokasi produksi makanan tradisional sebagai bagian dari paket wisata saat berada di kawasan Borobudur.
Perkembangan ini juga dipicu oleh meningkatnya biaya kunjungan ke Candi Borobudur dalam beberapa tahun terakhir, sehingga wisatawan mulai mencari alternatif destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda dengan biaya yang lebih terjangkau.
Salah satu faktor yang mendorong berkembangnya wisata industri rumahan di Borobudur adalah keberadaan wisata Volkswagen (VW) klasik yang sudah menjadi ikon pariwisata kawasan tersebut.
Armada mobil VW lawas yang berusia puluhan tahun kini tidak hanya mengantar wisatawan menikmati panorama pedesaan Borobudur, tetapi juga menjadi sarana promosi bagi pelaku usaha lokal.
Dalam paket wisata yang ditawarkan, pengunjung dapat memilih berbagai rute perjalanan, termasuk mengunjungi sentra produksi slondok dan yangko yang dikelola masyarakat setempat.
Konsep wisata yang ditawarkan cukup menarik. Wisatawan diajak melihat secara langsung proses produksi makanan tradisional mulai dari dapur hingga tahap pengemasan. Pengunjung juga dapat mencicipi berbagai varian rasa sebelum memutuskan membeli produk sebagai oleh-oleh.
Pengalaman tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan interaksi langsung antara wisatawan dan pelaku usaha lokal.
Karyawan Omah Slondok Borobudur (OSB) di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Nindya, mengatakan sebagian besar pengunjung datang dalam rombongan yang menggunakan paket wisata VW.
"Sebagian besar pengunjung datang bersama rombongan wisata VW. Kalau akhir pekan biasanya penuh," ujar Nindya, Kamis (11/6/2026).
Dongkrak Ekonomi Petani dan UMKM Lokal
Tidak hanya menjadi destinasi wisata baru, keberadaan industri makanan rumahan juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.
Omah Slondok Borobudur, misalnya, memanfaatkan hasil panen singkong dari petani lokal sebagai bahan baku utama produksi. Permintaan yang terus meningkat membuat harga jual singkong di tingkat petani ikut terdongkrak.
"Sebelum ada Omah Slondok, harga singkong hanya sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram. Sekarang kami membeli dari petani sekitar Rp3.500 per kilogram," jelas Nindya.
Kondisi tersebut memberi keuntungan bagi petani sekaligus menciptakan rantai ekonomi baru yang melibatkan masyarakat desa.
Dampak positif lainnya juga dirasakan pelaku usaha kecil yang menjual produk pendukung wisata, seperti kaos dan celana pendek produksi rumahan warga Magelang. Produk-produk tersebut banyak diburu wisatawan sebagai cendera mata dengan harga terjangkau, mulai Rp20 ribu per potong.
Berkembangnya wisata industri rumahan di Borobudur menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak hanya bertumpu pada destinasi utama seperti Candi Borobudur. Kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk lokal dan pengalaman wisata baru mampu menciptakan sumber ekonomi alternatif yang berkelanjutan.
Dengan semakin banyaknya wisatawan yang mencari pengalaman autentik, industri slondok dan yangko rumahan berpotensi menjadi salah satu ikon wisata berbasis ekonomi kreatif yang memperkuat daya tarik kawasan Borobudur di masa depan. (*)
Nanang W Hartono
