Lomba Panjat Pohon Pisang di Purworejo, Peserta Kesulitan Mencapai Puncak

Pohon pisang berlumuran air dan tanah becek sangat licin.

Lomba Panjat Pohon Pisang di Purworejo, Peserta Kesulitan Mencapai Puncak
Suasana lomba panjat batang pisang, peserta kesulitan mencapai puncak. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Warga Desa Besole Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo bersorak-sorai di lokasi persawahan desa tersebut guna menyaksikan lomba panjat pohon pisang. Warga penuh antusias meski berlumuran lumpur saat berusaha menaiki pohon tersebut.

Kerja sama tim untuk mencapai puncak diuji dengan ketidakberhasilan karena harus jatuh. Adapun syarat ketentuan lomba, peserta harus mampu meraih dua bendera merah putih.

Untuk mencapai titik puncak yang terdapat bendera tidaklah mudah. Pohon pisang berlumuran air dan tanah becek sangat licin, sehingga menyulitkan dua orang dalam satu tim berhasil mencapai puncaknya.

Ada 20 pasangan mengikuti lomba panjat pohon pisang tahap pertama. Setelah tidak ada satu pasangan pun yang mampu mencapai puncak, akhirnya panitia membuka pendaftaran dengan tim beranggotakan tiga orang. Setelah satu tim berisi tiga orang, ada yang berhasil mencapai puncaknya dan berhasil meraih dua bendera merah putih.

Ketua RT 02 RW 03 Besole Purworejo, Suroso. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

Ketua RT 02 RW 03 Besole, Suroso, mengatakan acara tersebut digelar untuk semua warga. "Setiap tahun kami selalu mengadakan lomba-lomba untuk memeriahkan HUT RI. Biasanya kami menggelar lomba tangkap lele, namun tahun ini warga menghendaki ditambah lomba panjat pohon pisang," jelas Suroso.

Dia berharap acara tersebut bisa membuat warga gembira. "Saya mengucapkan terima kasih kepada warga yang membantu acara ini. Anggaran untuk acara ini dari teman-teman di perantauan dan donatur serta dukungan semua warga. Alhamdulillah bisa terwujud, semoga tahun depat bisa digelar lebih meriah," ungkapnya.

Selain itu, acara tersebut juga bertujuan mempersatukan warga perantauan dan warga lainnya agar tetap terjaga tali silaturahminya.

Ketua panitia kegiatan, Fajar Iswanto, mengatakan pada lomba sesi kedua yaitu tangkap ikan lele melibatkan semua penonton panjat pisang alias semua warga.

Tangkap lele

"Semua warga baik muda, tua, kecil, besar turun ke sawah mengikuti lomba tangkap lele. Mereka berbaur dengan lumpur sawah demi mendapatkan ikan lele," jelas Fajar.

Lomba tangkap ikan lele sudah berlangsung sejak lama. Tahun 2025 ditambah dengan lomba panjat batang pisang. “Ada sekitar satu kuintal lele ukuran standar digoreng, 150 kg lele besar dan 40 ekor lele berpita ukuran jumbo, kami lepas di sawah diperebutkan warga,” kata Fajar Iswanto.

Disediakan pula lele berhadiah. Lele berpita kuning senilai Rp 10 ribu, pita putih Rp 50 ribu dan pita merah bernilai Rp 100 Ribu. Sedangkan ukuran ikan lele terbesar mencapai berat 7 kilogram.

“Ini bukti bahwa warga desa kami rukun selalu menjaga silaturahmi, kekerabatan dan sadar akan rasa kebangsaan, baik warga perantau dan warga yang tetap tinggal di desa," ujar Fajar.

Swadaya

Panitia dipercaya warga karena membuat anggaran penuh transparansi. “Kami senang bisa larut berbagi kegembiraan dalam gelaran tahunan ini, kami semua bersatu berswadaya untuk acara ini, yang punya sawah lahan boleh dipakai, yang punya apa saja pokoknya urunan secara sukarela demi acara tahunan ini,” kata salah seorang warga.

Banyak doorprize dibagikan kepada warga seperti sepeda gunung, kipas angin, TV, dispenser, kambing, menthok dan aneka hadiah hiburan lainnya dengan sistem kupon. Dia berharap suasana silaturahmi dan keakraban antar warga terus dijaga agar kompak. (*)