atas

Tashoora, Band Lokal yang Konsisten Mengkritik

Sabtu, 06 Okt 2018 | 10:48:31 WIB, Dilihat 2075 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Tashoora, Band Lokal yang Konsisten Mengkritik Aksi band Tashoora saat rekaman langsung mini album mereka selasa (2/10) di Padepokan Bagong Kussudiardja, Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Ada Pengantin Menikah Diatas Crane 20 Meter


Goresan tangan pada lembar dari tahta
Menginjak dan memaksa, membawa sengketa
Hamba jaring cahaya, hamba bela gelapnya
Pagar tinggi tanahnya, lindungi darahnya

Hari ini mereka, pasal beralas warna
Angka jadi perkara, esok siapa?

Penggalan lirik lagu "Sabda" diatas membawa kenangan kita kembali perjuangan Pedagang Kali Lima (PKL) di Jalan Brigjen Katamso, Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Yogyakarta 2015 lampau.

Meski akhirnya kalah dalam putusan hakim, perjuangan mereka, solidaritas sesama PKL, dan dukungan masyarakat terhadap kelima PKL membekas dalam ingatan warga Yogyakarta.

Kelima PKL itu adalah Budiono pemilik kios duplikat kunci, Agung penjual stiker, Sutinah dan Suwarni pemilik warung nasi, dan Sugiyadi penjual Bakmi Jawa. Mereka yang berdagang secara bergantian di sebidang tanah berukuran 5x5,6 meter, justru menjadi tergugat senilai Rp1,12 miliar karena dianggap menempati lahan Eka Aryawan. Lahan tersebut merupakan tanah milik keraton yang lantas disewa oleh Eka. Namun, di lahan sewa itu telah berdiri lima lapak PKL sejak puluhan tahun.

Kritik sosial lewat lagu itu coba ditampilkan grub band indie asal Yogyakarta yang menamakan diri Tashoora. Grub besutan Dita Permatas (vokal, akordion dan kibor), Danang Joedodarmo (vokal, gitar akustik), Gusti Arirang (vokal, bass), Danu Wardhana (violin, vokal), Sasi Kirono (gitar, vokal) dan Mahesa Santoso (drum) mereka menamakan diri Tashoora ini menyuarakan persoalan-persoalan sosial yang banyak terjadi kota ini lewat lagu-lagu yang dibawakan.

Meski dibawakan dengan menghentak tajam dan mistis terkadang juga riang, Lirik-lirik Tashoora konsisten menyenandungkan tentang kritik sosial, hingga penistaan agama.

"Itulah salah satu alasan kami bermusik, menyuarakan kritik tanpa harus demo berjilid-jilid, Banyak hal-hal disekitar kita, terutama jogja, yang sebenarnya kelihatan tapi kita diamkan disudut mata saja, seolah gak ada, gak terlihat, padahal ya ada", ujar Danang disela konser mini sekaligus rekaman langsung pembuatan mini album. Acara ini Bertajuk 'Ruang Pertama Tatap Muka' di Tashoora bersama Kua Etnika di Pendapa Padepokan Seni Bagong Kussudiarja, Selasa (2/10).

Grub band yang terbentuk September 2016 memang memiliki mimpi menciptakan karya seni yang berbeda dari lainnya. Pernah mengaransemen lagu untuk band Efek Rumah Kaca dan FTVLST, Danang mengaku menikmati proses, mengulik lirik, workshop musik, dan melakukan latihan-latihan.

Hingga akhirnya kami merasa harus keluar membawakan musik kami kepada orang banyak,” tandasnya.

Anggota grup musik Tashoora berdialog dengan penonton dalam rekaman langsung pembuatan mini album. Acara ini Bertajuk 'Ruang Pertama Tatap Muka' di Pendapa Padepokan Seni Bagong Kussudiarja, Selasa (2/10). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Hampir tiga tahun bermusik akhirnya Tashoora membuat album. EP (Extended Play-red), atau mini album ini rencananya akan dirilis akhir tahun 2018 dalam bentuk cakram padat (CD : Compact Disk-red), meski mengaku belum tau cara memasarkannya, Danang mengatakan pasti nanti distribusikan lewat platform musik digital seperti spotify, joox dan lain sejenisnya.

"Tatap" adalah judul single pertama yang mereka bawakan, Lagu enerjik sempurna mereka lantunkan dibalik tirai pendapa yang sudah disulap menjadi pangggung konser sore itu. Lima lagu dibawakan beruntun, sesekali jeda dialog pengantar untuk lagu berikutnya.

"Dasar negara kita ini Pancasila, iya kan? Tapi suka berhenti pada sila pertama saja," kata Gusti Arirang.

Tashoora sesungguhnya diambil dari nama studio musik didaerah Maguwoharjo tempat mereka biasa berkumpul dan latihan yaitu Tasura. Meskipun banyak yang mengira nama itu berasal dari bahasa Arab atau Jepang.

Dita menambahkan, Gusti dan Danang memang piawai membuat diksi dalam penulisan lagu, puitis tapi tetap kritis. terbukti saat kita menyimak bait demi bait kelima lagu mereka.

Tashoora pertama kali tampil di hadapan public pada acara Island In the Sun yang digelar oleh DIG project, 26 Agustus 2017. Setelah panggung pertamanya itu, Tashoora terus konsisten memperkenalkan musiknya kepada khalayak, terhitung diantaranya mereka pernah tampil di Ngayogjazz 2017, Land of Leisure 2017, Java Jazz 2018 dan Artjog 2018.(yve)
 


Video Terkait:



Kamis, 06 Sep 2018, 10:48:31 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 0 View
Ada Pengantin Menikah Diatas Crane 20 Meter
Senin, 03 Sep 2018, 10:48:31 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 228 View
Kolaborasi Progresif Lintas Genre
Minggu, 29 Jul 2018, 10:48:31 WIB Oleh : Arie Giyarto 246 View
Tiga Perempuan Penyair Luncurkan Antologi

Tuliskan Komentar