TNI-stipram

Langkah Kuda Calon Presiden

Senin, 03 Sep 2018 | 14:43:56 WIB, Dilihat 238 Kali - Oleh Redaktur

SHARE


Langkah Kuda Calon Presiden ilustrasi

Baca Juga : Isu Agama Belum Tentu Buruk


KORANBERNAS – Pengumuman capres dan cawapres, baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo, memunculkan kejutan. Ibarat bermain catur, Jokowi dan Prabowo sama-sama memainkan langkah kuda yang sulit ditebak. Munculnya nama KH Ma’ruf Amin di kubu Jokowi dan Sandiaga Uno di kubu Prabowo, telah meruntuhkan semua perhitungan politik yang merebak sebelum nama mereka resmi diumumkan.

Kejutan pertama datang dari kubu Jokowi yang akhirnya memilih KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Padahal, banyak pihak menduga Mahfud MD-lah yang akan dipilih Jokowi untuk mendampinginya pada Pilpres 2019 nanti. Mahfud MD bahkan sudah standby tak jauh dari lokasi Jokowi yang akan mengumumkan pasangannya.

Penjelasan resmi atas dipilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi adalah karena desakan parpol koalisi. Jika yang dipilih Mahfud MD, mereka khawatir jalan parpol untuk mengusung kadernya pada Pilpres 2024 akan tertutup. Sedangkan bila yang muncul KH Ma’ruf Amin, dinilai lebih aman karena faktor usia Ketua MUI itu tak mungkin mencalonkan diri pada Pilpres 2024 nanti.

Namun, ada juga yang menilai bahwa terpilihnya KH Ma’ruf Amin tersebut sebagai langkah strategis Jokowi untuk menangkal ancaman serangan isu keagamaan dari kubu lawan. Posisi KH Ma’ruf Amin sebagai Ketua MUI yang juga sosok yang mendorong aksi 411 dan 212 dianggap cukup ampuh untuk menangkal serangan berbau SARA dari kubu lawan. Benarkah alasan itu?

KH Abdul Muhaimin, Koordinator Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DIY, berpendapat bahwa digandengnya KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi tidak serta-mereta menghilangkan kemungkinan serangan SARA dari kubu lawan. “Tidak beralasan kalau Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin, kemudian isu SARA akan hilang. Jelas tidak,” tandas pengasuh Ponpes Nurul Ummahat, Kotagede, kepada KoranBernas, Selasa (14/8).

Menurut KH Abdul Muhaimin, isu agama adalah gejala global, termasuk di Indonesia. “Kenapa isu itu kembali menjadi kuat dan mendominasi media publik, karena isu itu paling mudah untuk memobilisasi kekuatan tanpa pusing dengan konsep dan memakan biaya besar,” kata Ketua Indonesia Conference on Religion and Peace itu.

Harusnya, lanjut KH Abdul Muhaimin, isu agama dielaborasi pada nilai-nilai yang universal. Bahwa agama itu membangun keanusiaan, meninggikan moral, perekat persaudaraan dan bukan justru agama digunakan untuk memprovokasi konflik sosial, segregasi sosial. Sementara di Indonesia saat ini, agama dijadikan isu-isu kecil yang menjadi sangat sektarian.

Dipilihnya KH Ma’ruf Amin juga dilandasi pemikiran untuk menggaet suara dari kalangan nahdliyyin, apalagi posisinya sebagai Rais Aam PBNU. Dugaan ini makin menguat karena sebelumnya muncul “serangan” terhadap Mahfud MD yang dikatakan sebagai bukan kader NU. 

Benarkah posisi KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam PBNU bisa menjadi jaminan meraup suara kalangan nahdliyyin? Sebab, sejarah mencatat pengalaman buruk Megawati-Hasyim Muzadi dan Wiranto-Solahuddin Wahid yang gagal total pada Pilpres 2014. Padahal, keduanya adalah tokoh sentral di kalangan NU.

"Saya tidak tahu duet Jokowi dengan Rais Aam PBNU, apakah juga akan mengulangi duet Mega-Hasyim Muzadi atau tidak. Namun banyak simpatisan dan masyarakat yang melihat sosok presiden incumbent, bukan sosok Ma'ruf Amin, karena siapapun wakil Jokowi tidak masalah," kata Titin Purwaningsih, pengamat politik sekaligus Dekan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), kepada KoranBernas, Sabtu (11/8).

Di sisi lain, munculnya nama KH Ma’ruf Amin juga berisiko kehilangan dukungan dari simpatisan Ahok. Sebab, KH Ma’ruf Amin diketahui sebagai sosok di balik terbitnya fatwa MUI yang menyebabkan Ahok mendekam di penjara hingga saat ini. Para pendukung Ahok yang kecewa itu bisa saja nantinya memilih golput pada Pilpres mendatang. "Persoalan itu juga perlu dipikirkan kubu Jokowi-Ma'ruf Amin kedepan," kata Titin.

Santri Milenial

Munculnya nama Sandiaga Uno di kubu Prabowo juga menjadi kejutan berikutnya. Boleh jadi, digandengnya Sandiaga Uno sebagai cawapres ini merupakan “langkah kuda” kubu Prabowo. Sebab, sebelumnya kubu Prabowo kental dengan “aroma” ulama.

Jauh sebelum pendaftaran Capres-Cawapres, kubu Prabowo selalu bermanuver di seputar isu agama, lewat Persaudaraan Alumni 212 serta Gerakan Pengawal Fatwa Ulama. Partai-partai koalisi kubu Prabowo bahkan pernah melansir pembentukan Koalisi Keumatan. Puncaknya, ada ijtima’ ulama yang merekomendasikan dua ulama, yakni Ustadz Abdul Somad dan Habib Salim Segaf Al-Jufri, sebagai cawapres Prabowo.

Kubu Prabowo yang kental dengan “aroma” agama itu ternyata memunculkan nama Sandiaga Uno sebagai cawapres. Wakil Gubernur DKI Jakarta ini sebelumnya tak pernah disebut-sebut bakal menduduki cawapres Prabowo. Namanya baru muncul pada detik-detik terakhir. Hasil ijtima’ ulama sama sekali tak dijalankan dengan berbagai argumen.

Prabowo tampaknya sadar bakal muncul pertanyaan mengapa wakilnya bukan dari kalangan ulama. Prabowo terpaksa memberikan pembelaan terhadap Sandiaga Uno. Prabowo menyebut Sandiaga Uno adalah santri post-Islamisme. Bahkan, ada juga yang menyebut Sandiaga Uno sebagai santri milenial.

“Aneh kalau ada sebutan santri milenial. Santri itu ya santri tradisional. Sekarang ini banyak terjadi distorsi-distorsi semantik, kekacauan bahasa. Dan itu juga dimulai dari eufimisme,” kata KH Abdul Muhaimin.

Dipilihnya Sandiaga Uno sebagai pasangan Prabowo tampaknya sengaja untuk meraup simpati pemilih pemula atau kaum milenial. Paling tidak, kehadiran Sandiaga Uno diharapkan bisa mendulang suara dari kalangan muda dibanding posisi KH Ma’ruf Amin yang sudah sepuh. Itu sebabnya muncul istilah santri milenial.

Namun, menurut Titin Purwaningsih, track record Sandiaga Uno yang masih baru di pemerintahan DKI Jakarta dan belum banyaknya kerja yang dihasilkan, juga bisa mengganjalnya. Perlu pembuktian dan strategi dari Prabowo-Uno untuk meyakinkan masyarakat memilih pasangan tersebut.

Apalagi isu SARA juga tak bisa dilepas dari sosok Sandiaga Uno saat pertarungan Pilkada DKI Jakarta. Masyarakat bisa saja berpikir ulang untuk memilih pasangan tersebut karena isu SARA akan kembali dimainkan demi kepentingan politik dan dukungan publik. “Dipilihnya Sandaga Uno bisa jadi test case yang perlu diperhatikan di kubu pasangan ini, perlu strategi politik untuk bisa mendapatkan dukungan publik,” kata Titin.

Lalu, bagaimana peta kekuatan kedua kubu saat pilpres nanti? Titin memprediksi dukungan ke Jokowi akan jauh lebih besar dibanding Prabowo. Dengan komposisi partai koalisi pendukung yang lebih besar serta kinerja Jokowi selama menjabat sejak 2014 lalu maka pasangan tersebut akan lebih dominan mendapatkan suara masyarakat.

“Namun itu juga tergantung strategi politik yang dimainkan Prabowo untuk bisa mengimbangi Jokowi,” ujarnya.

Kontestasi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2019-2024 memang baru memasuki babak awal. Masih sangat mungkin muncul langkah kuda berikutnya dari kedua kubu untuk memenangkan pertarungan. Tentunya banyak pihak berharap pesta demokrasi 2019 nanti berjalan cukup menyenangkan, bukan justru memunculkan ketakutan dan perpecahan.(eru/meg/yve)

 

 



Senin, 03 Sep 2018, 14:43:56 WIB Oleh : Redaktur 262 View
Isu Agama Belum Tentu Buruk
Minggu, 02 Sep 2018, 14:43:56 WIB Oleh : Nila Jalasutra 140 View
Ini Cara Ajarkan Rukun Islam
Minggu, 02 Sep 2018, 14:43:56 WIB Oleh : Nila Jalasutra 21 View
300 Ribu Mahasiswa Harus Dirangkul

Tuliskan Komentar