jadi-masalah-berkepanjangan-pengelolaan-tpst-piyungan-harus-seriusDirektur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Agung Wiharto (tengah), Direktur PT Waskita Beton Precast Tbk, Agus Wantoro dan pembicara lainnya pada diskusi “Membangun Infrastruktur DIY dan Jateng” di Fakultas Teknik UGM, Sabtu (18/1/2020). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)


yvesta

Jadi Masalah Berkepanjangan, Pengelolaan TPST Piyungan Harus Serius


SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Menumpuknya sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul sudah jadi masalah yang berkepanjangan selama ini. Saatnya Pemda DIY mengelola TPST secara serius.

Sebab saat ini setiap harinya sekitar 300-600 ton sampah dibawa ke TPST Piyungan. Tanpa penanganan yang tepat, maka berbagai persoalan akan terus muncul di kawasan tersebut.


Baca Lainnya :

Apalagi kebijakan bank sampah juga belum berjalan secara optimal. Karenanya pengolahan sampah menjadi bahan bakar bisa jadi alternatif mengatasi kapasitas TPST yang kini sudah tidak memadai. Pengolahan sampah jadi bahan bakar bisa dilakukan dengan konsep Refuse Derived Fuel (RDF).

Konsep yang juga dikembangkan Pemda Cilacap tersebut selama ini bisa mengatasi masalah penumpukan sampah. Dengan sistem RDF, sampah diubah menjadi sumber energi yang berfungsi sebagai briket dan dimanfaatkan sebagai subtitusi bahan bakar bagi pabrik salah satu perusahaan semen.


Baca Lainnya :

"Konsep ini dikembangkan Kementerian PUPR dengan Pemda Cilacap," ujar Agung Wiharto, Direktur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, dalam diskusi Membangun Infrastruktur DIY dan Jateng di Fakultas Teknik UGM, Sabtu (18/1/2020).

Menurut Agung, Pemda DIY perlu menginvestasikan anggaran untuk membangun pabrik pengolahan sampah terlebih dahulu. Pabrik tersebut nantinya berfungsi mengeringkan dan mencacah sampah sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Kerja sama dengan perguruan tinggi untuk pendirian fasilitas pengelolaan sampah juga dibutuhkan. Hal itu penting karena investasi yang dikeluarkan cukup besar. "Untuk operator atau ahli pengolahan sampah bisa melibatkan sumber daya manusia dari kami," jelasnya.

Dicontohkan Agung, Cilacap selama ini bisa mengolah sekitar 50 ton sampah per harinya melalui konsep RDF. Hal yang sama bisa dilakukan DIY dengan kapasitas yang lebih besar dengan menggunakan teknologi Mechanical Biological Treatment atau pemilahan-pencacahan-biodrying. "Sampah bisa diolah sebagai bahan bakar pengganti fosil," tandasnya.

Direktur PT Waskita Beton Precast Tbk, Agus Wantoro,  memaparkan rencana pembanguan infrastruktur di DIY pada tahun ini. Dia memperoleh informasi mengenai proyek pengembangan underpass Gejayan dan pembangunan Jembatan Kretek.

“Kami siap untuk suport material beton. Sekarang masih dalam evaluasi karena prosesnya masih panjang. Kami masih sebatas info,” kata dia. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini