atas

Film 8 Stories Lembutkan Hati Penonton

Sabtu, 13 Apr 2019 | 02:28:31 WIB, Dilihat 451 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Film 8 Stories Lembutkan Hati Penonton Anggota Komisi 1 DPR RI, Sukamta, menyampaikan sambutan sebelum pemutaran film 8 Stories, Jumat (12/4/2019) malam, di Kantor DPW PKS DIY. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Triv Berbagi Ilmu Crypto Trading yang Aman


KORANBERNAS.ID – Sebuah film karya kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjudul 8 Stories diputar perdana di Ruang Ballroom Sunan Gunung Jati lantai tiga Kantor DPW PKS DIY Jalan Gambiran Yogyakarta, Jumat (12/4/2019) malam.

Pemutaran film yang digelar atas prakarsa DPP PKS dan anggota Komisi 1 DPR RI dari Fraksi PKS Dr H  Sukamta kali ini dimaksudkan untuk menciptakan pemilu yang sejuk dan menggembirakan.

Tak hanya menikmati film, ratusan penonton termasuk mahasiswa dari beberapa kampus ternama di Yogyakarta, juga menikmati suguhan makanan berupa pisang godhok, kacang godhok, nasi kucing dan aneka makanan tradisional lainnya.

Kepada wartawan di sela-sela acara, Sukamta, menyampaikan gelaran Malam Apresiasi Seni dan Budaya Nonton Bareng Film 8 Stories ini sengaja dihadiri anak-anak muda agar mereka mencintai budaya dan seni.

“Ini film yang sangat menarik. Supaya hidupnya lebih lengkap dan hatinya menjadi lembut. Jika tidak ada sentuhan seni dan budaya, hatinya jadi keras,” ungkap doktor lulusan Universitas Manchester Inggris itu.

Menurut dia, dari cerita dipetik banyak pelajaran tanpa ada kesan menggurui.

“Makanya Al Quran itu 80 persen berisi cerita. Coba kalau cerita Fir’aun diringkas satu paragraf selesai, kita mudah lupa. Cerita pertarungan Nabi Musa dengan Raja Fir’aun itu dramatis. Kita ingat, sejak saya SD sampai setua ini cerita itu masih sangat menarik dan saya selalu mendapat angle yang baru ketika membacanya,” kata Sukamta.

Kisah-kisah di dalam Kitab Suci Al Quran inilah yang menuntun langkah Wali Sanga saat berdakwah. Untuk pertama kalinya dibuat animasi pada tahun 1300 berupa wayang kulit.

 “Wayang kulit itu animasi pertama yang dibuat oleh Wali Sanga untuk dakwah agama Islam. Saking hebatnya karya itu sampai sekarang wayang kulit tidak bisa dikategorikan dalam satu ilmu seni, apakah seni rupa ataukah seni lainnya,” ungkap dia.

Mengingat wayang kulit sudah memenuhi kaidah-kaidah fikih dari para fuqaha atau ahli fikih, maka gambarannya pun sangat cermat.

Itu sebabnya wayang kulit sulit disebut makhluk hidup ataukah mati, manusia atau binatang, tiga dimensi ataukah dua dimensi? Artinya nenek moyang bangsa Indonesia sudah membuat wayang sangat menarik.

Bahkan, banyak pihak mengakui dunia perfilman Hollywood sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding hasil karya nenek moyang bangsa Indonesia itu. “Pertanyaannya kenapa kita sekarang tidak bisa membuat yang hebat,” ucap dia.

Melalui kegiatan ini Sukamta berharap Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional) yang juga mitra kerja Komisi 1 DPR RI agar mendorong insan perfilman Indonesia memproduksi film dengan genre cinta tanah air.

Film cinta tanah air sebenarnya tidak mesti bercerita tentang perang tetapi bisa dibuat lebih variatif. Dia kemudian membandingkan hampir semua film Hollywood memunculkan bendera Amerika.

“Tantangan nasionalisme di era 1945 dan 1965 sangat jelas karena musuhnya juga jelas. Sekarang ini tantangannya bukan fisik tetapi dunia digital. Negara seperti tidak ada batas. Antarnegara kayak antarkampung. Anak-anak muda pergi ke Malaysia seperti ke Malioboro,” ujarnya.

Karena itu, Lemhanas perlu didorong menanamkan cinta tanah air dengan cara-cara yang kreatif salah satunya melalui media film.

“Semua suka film kan. Mudah-mudahan dari sini muncul anak muda yang akan menjadi pelopor perfilman hebat di Indonesia,” kata dia.

Menurut Sukamta, take off ke arah itu sudah dimulai dari gelaran Yogyakarta Asian Film Festival pada Desember 2018. Event itu sepenuhnya ditangani oleh anak-anak muda yang menjadi produser, sutradara maupun penulis skenario.

Surat suara

Pada bagian lain menjawab pertanyaan seputar kasus surat suara tercoblos di Malaysia, Sukamta menyatakan Komisi 1 DPR RI sudah lama mengingatkan kedutaan, mengingat empat dari tujuh anggota PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) berasal dari kedutaan setempat.

Dari informasi yang diperoleh DPR RI, masalah surat suara di Malaysia bukan saja tercoblos untuk capres 01 tetapi juga tercoblos atas nama caleg dapil luar negeri yang kebetulan anak duta besar (dubes).

Menurut Sukamta, supaya tidak terjadi saling tuduh maka Komisi 1 DPR RI meminta Bawaslu segera memprosesnya. Siapa pun yang salah perlu ditindak sesuai hukum agar tidak menjadi isu liar.

Karena ada sangkut pautnya dengan dubes, DPR RI juga menyarankan Dubes Malaysia ditarik pulang ke Jakarta, untuk memberi keleluasaan Bawaslu melakukan pengusutan. Jika tidak ditarik maka panwas setempat dari unsur KBRI akan kesulitan karena merasa tertekan.

“Supaya semua berjalan dengan baik dan hukum menjadi tegak, akan sangat baik Pak Dubes pulang dulu ke Indonesia. Mudah-mudahan Pak Dubes tidak terlibat dalam peristiwa yang tidak terhormat itu. Jika terlibat, mohon maaf, perlu diganti,” paparnya.

Komisi 1 DPR RI juga sudah berkali-kali mengingatkan Menlu dan jajarannya mengenai panitia penyelenggara pemilu di luar negeri yang disii oleh orang-orang dari KBRI.

Sukamta berharap kasus yang terjadi di Malaysia jangan sampai muncul di negara lain yang banyak terdapat tenaga kerja Indonesia (TKI) seperti Jepang, Korea, Australia, Saudi Arabia.

Pemilihan di luar negeri memang minim pengawasan, ibarat hutan belantara. Yang diperlukan adalah integritas moral dan KBRI berlaku adil. “Kalau perlu keluarga dubes tidak nyalon di dapil luar negeri,” kata dia. (sol)



Sabtu, 13 Apr 2019, 02:28:31 WIB Oleh : Sholihul Hadi 358 View
Triv Berbagi Ilmu Crypto Trading yang Aman
Jumat, 12 Apr 2019, 02:28:31 WIB Oleh : Sholihul Hadi 221 View
DIY Peroleh Tambahan 45 Ribu Pemilih
Jumat, 12 Apr 2019, 02:28:31 WIB Oleh : Sholihul Hadi 391 View
Tak Hanya Bersih Masjid juga Harus Makmur

Tuliskan Komentar