atas1

Doa dan Tahlil Berkumandang di KPU DIY

Selasa, 14 Mei 2019 | 22:26:14 WIB, Dilihat 462 Kali - Oleh Rosihan Anwar

SHARE


Doa dan Tahlil Berkumandang di KPU DIY Peserta aksi memanjatkan doa dan tahlil di Kantor KPU DIY, Senin (14/5/2019). (rosihan anwar/koranbernas.id)

Baca Juga : Emak-emak Turun Jalan Sambil Bawa Panci


KORANBERNAS.ID -- Aksi dukungan terhadap kinerja penyelenggara pemilu khususnya KPU (Komisi Pemilihan Umum) disuarakan oleh Aliansi Rakyat untuk KPU (Aruk).

Aksi yang digelar, Selasa (14/5/2019) siang, di kantor KPU DIY Jalan Ipda Tut Harsono kali ini berbeda dari aksi demonstrasi lainnya.

Para peserta dikomando oleh koordinator lapangan (korlap) menggemakan doa dan tahlil untuk arwah para petugas pemilu yang gugur.

Sekitar 20 menit, puluhan peserta aksi berdoa dipimpin korlap dan Ketua Aruk, Muhammad Fahmi Sidik.

Usai berdoa, Muhammad Fahmi menyebutkan, Aruk mendatangi kantor KPU DIY sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih atas kinerja KPU, Bawaslu, DKPP dan pelaksana pemilu lainnya.

“Kami memberi dorongan moral kepada KPU. Ketika kami melihat ternyata banyak yang meninggal dunia, sampai 500-an petugas, sebagai sesama manusia, kami merasakan sakit mereka dan kami memberikan doa,” katanya.

Aliansi Rakyat untuk KPU (Aruk) memberikan dukungan sekaligus doa kepada KPU DIY, Selasa (14/5/2019) siang, di Kantor KPU Jalan Ipda Tut Harsono Kota Yogyakarta. (rosihan anwar/koranbernas.id)

Muhammad Fahmi juga meminta agar masyarakat tidak menghakimi KPU, Bawaslu, KPPS dan pelaksana pemilu lainnya yang dengan jerih payah luar biasa menggelar pemilu serentak yang terbilang berat.

“Kami melihat misalnya di kampung kami sendiri, pekerjaan (KPU dan KPPS) luar biasa, tetapi mengapa banyak yang tidak percaya terhadap pekerjaan mereka? Betul-betul melelahkan, maka kami hanya memberikan dorongan moral dan doa,” kata Fahmi kepada koranbernas.id.

Aruk juga menolak tuduhan penyelenggara pemilu tidak independen dan berintegritas.

Muhammad Fahmi lantas menyontohkan beberapa komisioner KPU dan Bawaslu di sejumlah daerah yang dipecat atau diberhentikan dengan tidak hormat akibat melanggar kode etik.

Hal itu menandakan anggota KPU dan Bawaslu tidak bisa bermain-main dengan jabatan yang diembannya.

“Tarwinto dari KPU Provinsi Papua, RM Nufrianto Aris Munandar dari KPU Kota Yogyakarta, Edy Waluyo Ketua PPK Kajen Pekalongan dan Sepriadison selaku Ketua Bawaslu Kota Pematangsiantar terbukti diberikan sanksi pemberhentian oleh DKPP saat melanggar kode etik,” ungkapnya. (sol)



Selasa, 14 Mei 2019, 22:26:14 WIB Oleh : Rosihan Anwar 1699 View
Emak-emak Turun Jalan Sambil Bawa Panci
Selasa, 14 Mei 2019, 22:26:14 WIB Oleh : Arie Giyarto 84158 View
Kejadian Aneh Saat Tarawih di Masjidil Haram
Selasa, 14 Mei 2019, 22:26:14 WIB Oleh : Sholihul Hadi 1016 View
Dulu Legenda, Kini Penyuluh KB Harus Siap Mental

Tuliskan Komentar