Merawat Antusiasme pada Karawitan

Oleh: Sartini

Makna festival menjadi semakin penting ketika kita hidup dalam dunia yang semakin terbuka. Budaya populer dari berbagai negara hadir setiap hari melalui media digital dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi ini bukan sesuatu yang harus ditolak. Pertukaran budaya merupakan bagian dari kehidupan modern yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, keterbukaan terhadap budaya global perlu diimbangi dengan akar budaya lokal yang kuat. Masyarakat yang mengenal dan mencintai budayanya sendiri akan lebih siap berinteraksi dengan budaya lain tanpa kehilangan jati dirinya. Merawat seni karawitan adalah bagian dari menjaga jati diri.

Merawat Antusiasme pada Karawitan
Dr. Dra. Sartini, M.Hum. (Istimewa).

DI TENGAH gempuran musik digital yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, justru karawitan—musik yang menuntut kebersamaan, kesabaran, dan latihan bersama—masih mampu menarik minat masyarakat. Hal ini terbukti dari penyelenggaraan Festival Karawitan dalam rangka Dies Natalis Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada yang sudah dimulai sejak tahun 2017 sampai saat ini, selalu kebanjiran peserta. Bahkan seusai perhelatan Festival Karawitan Filsafat ke-8  pada tanggal 18-19 Juli 2026 lalu, antusiasme masyarakat pada karawitan  makin nampak. Saat ini sudah tercatat sekitar 55 grup yang antre untuk ikut festival karawitan tahun 2027. Tidak hanya dari komunitas karawitan di UGM, tetapi juga dari sanggar dan komunitas karawitan di seputar Yogya. Sudah tergabung kelompok-kelompok karawitan di bawah institusi seperti Kejati, Setda DIY, UNY, Telkom, sekolah-sekolah, alumni sekolah dan perguruan tinggi, juga kelompok karawitan dari Surakarta dan Jakarta. Tidak digelar lomba, ini hanya pentas bersama. Hal ini menunjukkan bahwa di balik modernitas, masyarakat Jawa dan Indonesia umumnya tetap membutuhkan ruang untuk membangun kebersamaan dan identitas budaya.

Dalam beberapa tahun terakhir, memang ruang-ruang kebudayaan kembali diramaikan oleh berbagai kegiatan karawitan. Festival digelar di berbagai daerah, sanggar-sanggar semakin aktif, sekolah dan perguruan tinggi mulai memberi ruang bagi pembelajaran karawitan, sementara masyarakat dari berbagai usia ikut terlibat sebagai penabuh maupun penikmat. Beberapa di antaranya bersifat kompetisi, ada yang bersifat lokal dan ada yang internasional. Kita kenali antara lain: Yogyakarta Gamelan Festival, Festival Karawitan Anak DIY, Festival Karawitan Antar Kapanewon Bantul, International Gamelan Festival Solo, Lawu International Gamelan Festival, juga festival karawitan di daerah-daerah lain. Fenomena ini tentu patut disambut dengan rasa syukur. Di tengah derasnya arus globalisasi, karawitan ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Apakah antusiasme tersebut akan bertahan lama, atau hanya menjadi euforia sesaat? Pertanyaan ini penting karena masa depan karawitan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya festival atau ramainya penonton, tetapi oleh kemampuan kita merawat semangat masyarakat untuk terus belajar, memainkan, dan menghidupi karawitan. Budaya hanya akan hidup dan berkembang kalau ada yang menjalankannya, ada yang hidup dan berinteraksi  di dalamnya.

Karawitan sesungguhnya lebih dari sekadar seni pertunjukan. Di balik bunyi gamelan tersimpan nilai-nilai yang semakin relevan bagi kehidupan saat ini. Setiap penabuh belajar mendengarkan orang lain, menjaga irama bersama, menahan diri agar tidak mendominasi, sekaligus menyadari bahwa keindahan hanya lahir ketika setiap instrumen menjalankan perannya secara harmonis. Karawitan mengajarkan bahwa kebersamaan bukanlah keseragaman, melainkan keselarasan dalam keberagaman. Gending yang bagus muncul karena antar pemain saling berinteraksi, saling memahami, saling merasakan, saling mengendalikan, mad-sinamadan, saling menjaga harmoni.

Karena itu, festival karawitan seharusnya tidak dipahami semata sebagai ajang perlombaan atau hiburan. Festival adalah ruang bertemunya generasi, tempat berlangsungnya pewarisan pengetahuan, sekaligus wahana untuk memperkuat ikatan antarkomunitas budaya. Di sana, anak-anak belajar dari para senior, kelompok-kelompok saling mengapresiasi, dan masyarakat menyaksikan bahwa tradisi tetap hidup karena terus dipraktikkan. Pada praktiknya, sebuah festival budaya, khususnya karawitan, membutuhkan pertimbangan komposisi ini. Tidak hanya kebutuhan para kelompok pensiunan atau orang tua yang perlu aktivitas untuk ngrabuk nyawa, tetapi juga ruang penyeimbang bagi mereka yang suntuk bekerja, para ibu rumah tangga yang perlu berekspresi dan refreshing, para muda-mudi yang perlu belajar menikmati dan melanjutkan tugas budaya, serta anak-anak yang membutuhkan contoh dan belajar memiliki budaya.

Makna festival menjadi semakin penting ketika kita hidup dalam dunia yang semakin terbuka. Budaya populer dari berbagai negara hadir setiap hari melalui media digital dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi ini bukan sesuatu yang harus ditolak. Pertukaran budaya merupakan bagian dari kehidupan modern yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, keterbukaan terhadap budaya global perlu diimbangi dengan akar budaya lokal yang kuat. Masyarakat yang mengenal dan mencintai budayanya sendiri akan lebih siap berinteraksi dengan budaya lain tanpa kehilangan jati dirinya. Merawat seni karawitan adalah bagian dari menjaga jati diri.

Dalam konteks itulah, festival karawitan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar peristiwa seni. Festival karawitan merupakan bentuk ketahanan budaya. Ketika masyarakat memilih belajar gamelan, melatih generasi muda, menyelenggarakan festival, atau sekadar hadir memberikan apresiasi, sesungguhnya mereka sedang memperkuat identitas budaya yang dimilikinya. Bukan untuk memusuhi budaya asing, melainkan untuk memastikan bahwa budaya lokal tetap hidup, berkembang, dan mampu berdialog secara percaya diri dengan budaya dunia.

Oleh sebab itu, antusiasme masyarakat terhadap karawitan tidak boleh dibiarkan tumbuh sendiri. Ia perlu dirawat melalui kebijakan yang berkelanjutan. Festival harus dipandang sebagai investasi kebudayaan, bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Sanggar perlu diperkuat sebagai ruang belajar lintas generasi. Instansi negeri atau swasta, sekolah, dan perguruan tinggi perlu memberi ruang lebih luas bagi pendidikan karawitan. Demikian pula, media digital perlu dimanfaatkan untuk memperluas apresiasi sekaligus mendokumentasikan kekayaan tradisi yang kita miliki. Ceremonial wisuda Universitas Gadjah Mada yang  kini selalu menghadirkan suara gamelan dengan menghadirkan kelompok-kelompok karawitan di lingkungan UGM  adalah bagian dari upaya ikut nguri-uri budaya.

Merawat antusiasme pada karawitan berarti merawat masa depan kebudayaan Indonesia. Tradisi tidak akan bertahan hanya karena dikenang, tetapi karena terus dipelajari, dimainkan, dan diwariskan. Selama masyarakat masih mau duduk bersama di depan seperangkat gamelan, mendengarkan satu sama lain, dan membangun harmoni melalui bunyi-bunyian yang diwariskan oleh leluhur, selama itu pula karawitan akan tetap menjadi bagian penting dari identitas bangsa. Dan di situlah festival karawitan memperoleh makna terdalamnya. Festival Karawitan bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang untuk menjaga jati diri kebudayaan Indonesia. ***

Dr. Dra. Sartini, M.Hum.

Kepala Laboratorium Filsafat Nusantara Fakultas Filsafat UGM

Ketua Panitia Festifal Karawitan Filsafat UGM