atas1

Ajaib, Batu Putih Ubah Sampah Jadi Pupuk Organik

Jumat, 19 Jul 2019 | 15:12:18 WIB, Dilihat 757 Kali - Oleh Nila Jalasutra

SHARE


Ajaib, Batu Putih Ubah Sampah Jadi Pupuk Organik Maryoto memperlihatkan bak sampah hasil karyanya untuk mengolah sampah organik. (nila jalasutra/koranbernas.id)

Baca Juga : Tour De Merapi 2019 Angkat Wisata Embung


KORANBERNAS.ID -- Keterampilan dasarnya adalah kerajinan kayu. Sejak 2000, Maryoto (45) menekuni usaha perajin batu. Keahliannya diperoleh di Wonosari Gunungkidul.

Berbahan dasar  batu, Maryoto mampu membuat patung, relief, ornamen, kaligrafi, pot, sampai bak sampah. Dia bekerja dibantu istrinya, Suratini (42), menggunakan peralatan manual untuk memahat ukiran di batu.

Berkat kecintaannya pada lingkungan dan kemampuan membuat kerajinan batu, Maryoto mampu menghasilkan sebuah produk istimewa, yaitu bak sampah organik yang artistik terbuat dari batu putih.

Maryoto dulunya pernah menjadi perintis sebuah bank sampah organik. Ayah dari tiga anak ini berpandangan, melarang orang tidak buang sampah sembarangan saja belum cukup, tetapi juga harus mau memfasilitasi.

“Mengapa bikin pengompos organik, karena saya melihat sampah organik belum terkelola. Sebagai seorang perintis, saya berusaha memberikan fasilitasi kepada warga,”  kata Maryoto di studionya Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman, Jumat (19/7/2019).

Yang istimewa, bak sampah organik ini berfungsi sekaligus sebagai pengompos. Di bak sampah berukuran 60 x 60 sentimeter dan tinggi 120 sentimeter itu, sampah organik dimasukkan lewat pintu atas.

Ajaibnya, sampah berubah menjadi pupuk kompos yang dipanen dari pintu bawah samping. Jadi, tidak perlu membongkar bak sampah yang seluruhnya terbuat dari batu putih.

Bagian bawah bak sampah organik ini langsung tersambung ke tanah. Untuk memanen hasilnya, untuk sampah sayur, makanan dan buah butuh waktu 1,5 bulan sampai 2 bulan. Sedangkan sampah dedaunan tiga bulan.

Untuk mengatasi bau selama sampah diproses, Maryoto menggunakan cairan dari buah pisang buatannya sendiri yang disebutnya mikro organik lokal.

Maryoto membutuhkan waktu empat hari untuk membuat bak sampah organik berukuran sedang dan 5-6 hari untuk yang berukuran besar.

Sebuah bak sampah berukuran 60 sentimeter dengan tinggi 120 sentimeter dijual seharga Rp 1,2 juta.

Bak sampah organik ini terlihat artistik. “Saya desain yang elegan, kalau dipasang di depan rumah tidak akan memalukan,” tuturnya.

Bak sampah organik karya Maryoto terpasang di sebelas titik sekeliling kampung, satu di Kantor Kecamatan Berbah dan satu lagi di Dusun Jasem, kampung sebelah.

Sedang pupuk yang dikumpulkan digunakan memupuk tanaman sekitar rumah warga maupun kebun gizi yang terdiri dari tiga kebun berisi sayur. Dua kebun lainnya berisi tanaman obat.

“Kebun gizi sudah ada sejak 2016 dan sekarang sudah menjadi kebun,” tambah Maryoto.

Selain bak sampah organik, Maryoto juga mengerjakan pesanan berupa relief, hiasan air mancur, pot, kaligrafi, dan patung.

Bahannya? Maryoto menggunakan batu putih dari Wonosari Gunungkidul yang disebutnya lebih ulet. “Kalau dibuat ukiran gambarnya terlihat lebih hidup,” kata dia. (sol)



Jumat, 19 Jul 2019, 15:12:18 WIB Oleh : Nila Jalasutra 429 View
Tour De Merapi 2019 Angkat Wisata Embung
Jumat, 19 Jul 2019, 15:12:18 WIB Oleh : W Asmani 723 View
Pertama Kali Purworejo Selenggarakan Porkab
Jumat, 19 Jul 2019, 15:12:18 WIB Oleh : Redaktur 2825 View
Prajurit Jangan Hanya Ahli Menyiapkan Kopi

Tuliskan Komentar