atas

Ulama Sufi dari Berbagai Negara Berkumpul di Pekalongan

Selasa, 09 Apr 2019 | 11:19:30 WIB, Dilihat 4296 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Ulama Sufi dari Berbagai Negara Berkumpul di Pekalongan Pembukaan Konferensi Ulama Sufi Internasional di Pekalongan. (istimewa)

Baca Juga : Gara-gara SK Dirjen, KBIH se-Indonesia Galau


KORANBERNAS.ID – Sejumlah ulama sufi dari berbagai negara berkumpul di Pekalongan Jawa Tengah (Jateng). Mereka datang untuk mengikuti ajang Konferensi Internasional Ulama Thoriqoh atau Konferensi Ulama Sufi Internasional (World Sufi Forum)

Pertemuan itu dibuka Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Senin (8/4/2019), di Pendapa Bupati Pekalongan.

Mereka yang hadir di antaranya Syaikh Abdul Qadir Qattani dari Maroko, Syaikh Majid (Oman), Syaikh Muh Sahumi (Libya), Syaikh Muh Muhanna (Mesir),  Syaikh  Muh  Rajab  (Syuriah), Syaikh Adnan Mutfi (India) serta Wadi Abdullah selaku Duta Besar Maroko.

Menhan Ryamizard hadir didampingi Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Joni Supriyanto mewakili Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto SIP dan  Irjen Pol Suntana, Wakaba Intelkam Mabes Polri.

Bersama rombongan dia Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Drs Condro Kirono MM M Hum, Kasdam IV/Dip Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, Danrem 071/WK Kol Kav Dani Wardana S Sos MM M Tr (Han), Jenderal Purn Gatot Nurmantyo, Kolonel Kav Dedi Setiawan (Kabintaldan V/Bwj) serta Habib Lutfi bin Ali Bin Yahya selaku Rois Amm Jatman.

Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi SH MSi , Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan  SH SIK MSi, Dandim 0710/Pekalongan Letkol Inf Arfan Johan Wihananto SIp MMs,  Danlanal Tegal Letkol Laut (P) Agus Haryanto SE Mtr Hanla maupun para Dandim se-Wilayah Pantura dan para Kapolres se-Wilayah Pantura, juga hadir.

Di hadapan ribuan santri dan tamu undangan dari mancanegara, Ryamizard Ryacudu memaparkan peran penting para ulama tarekat yang tidak pernah surut melawan penjajahan Belanda waktu itu. Belanda kewalahan sampai-sampai mengirim tokoh ke Arab Saudi untuk membaca kitab-kitab suci. Artinya, perjalanan tarekat menjadi dasar semangat melawan penjajah.

Menurut Menhan, Kitab Toha yang dijadikan acuan sejak abad ke-17 memunculkan tokoh-tokoh pejuang abad ke-20. Sebut saja HOS Cokroaminito maupun Wahidin Sudirohusodo. Kegigihan mereka tidak sia sia. Pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Inilah pentingnya perjuangan tarekat harus dijaga karena kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari tarekat.

Habib Lutfi bin Ali bin Yahya. (istimewa)

Menhan pun meminta para ulama tasawuf berdoa untuk Indonesia. "Kami TNI dan Polri meminta doa semoga pemilu berjalan aman dan lancar,  serta suasana seperti ini bisa terus berjalan," ujarnya.

Menhan Ryamizard menambahkan, Indonesia merupakan negara besar dan kaya sekaligus rumah berbingkai Bhinneka Tungga Ika. "UUD 1945 landasan hukumnya. Demokrasi sistemnya dan Pancasila dasarnya. "Jangan sampai bangsa besar ini,  terpecah belah karena satu pihak saja, dan jangan ada satu negara pun berani memecah belah NKRI," tegasnya.

Di era globalisasi  semua elemen bangsa harus mewaspadai ancaman disintegrasi yang terstruktur dan masif. Banyak ideologi seperti Liberal dan Komunis. “Akan tetapi yang cocok bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Biarkan komunis di China  tetapi di sini tidak. Liberal di Amerika silakan tetapi di sini tidak boleh. Pancasila adalah alat mempersatukan berbagai ras, agama dan suku,” tambahnya.

Rois Amm Jatman,  Habib Lutfi Bin Ali Bin Yahya, merasakan kebahagiaan yang luar biasa. “Saya sangat senang bisa bertemu dengan para pewaris Rasulullah Muhammad SAW. Kita bisa bertatap muka. Sudah lama kita bekerja sama dengan Kemenhan, semoga di pertemuan ini dapat menambah rida dan berkah dari Allah SWT," ungkap Habib Lutfi bin Ali Bin Yahya. (sol)



Selasa, 09 Apr 2019, 11:19:30 WIB Oleh : Sholihul Hadi 7262 View
Gara-gara SK Dirjen, KBIH se-Indonesia Galau
Senin, 08 Apr 2019, 11:19:30 WIB Oleh : Sholihul Hadi 609 View
Prabowo Dihadiahi Ketela Saat Kampanye di Jogja
Minggu, 07 Apr 2019, 11:19:30 WIB Oleh : Nila Jalasutra 302 View
Dua Persen Penduduk DIY Derita Katarak

Tuliskan Komentar