tiga-perupa-pameran-di-tembi-rumah-budayaSalah satu lukisan karya Nanang Garuda. (istimewa)


arie-giyarto

Tiga Perupa Pameran di Tembi Rumah Budaya

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Tiga orang perupa, yakni Alex Luthfi R, Anugerah Eko T dan Nanang Garuda memamerkan karya-karya mereka di Tembi Rumah Budaya, 25 Oktober hingga 10 November 2018.

Pameran bertajuk Identity ini bisa dibilang seni rupa kontekstual, yang sangat lekat dengan situasi dan kondisi saat ini. Identity juga bisa dimaknai keragaman media, gaya ekspresi dan cara bertutur.


Baca Lainnya :

Alex Luthfi sejak 1998 menjelang reformasi hingga saat ini, konsisten mengolah tema-tema sosial politik yang mengritisi perilaku kesewenangan dan penyimpangan kekuasaan.

Media karya-karyanya variatif, berupa lukisan, photography art, serta karya seni berbasis durasi waktu yang mengolaborasikan video art, fotografi, lukisan dan performing teaterikal.


Baca Lainnya :

Instalasi karya Alex Luthfi. (istimewa)

Instalasi videonya menggambarkan tentang rasa percaya diri seorang koruptor. Sedangkan lukisannya antara lain merupakan ekspresi simpati kepada kaum perempuan Rohinghya.

Sedangkan Anugerah Eko konsisten berangkat dari problematika kehidupan dan lingkungan sebagai tema dasar lukisannya.

Kali ini Eko menampilkan bentuk-bentuk kepala/wajah sebagai simbol dan abstraksi sesuai identitas dan persoalan saat ini.

Menurut Eko, situasi sosial politik saat ini membuat banyak kepala atau wajah manusia menjadi complicated. Wajah adalah bentuk keprihatinan Eko untuk kembali kepada nilai ajar budaya Indonesia.

Sementara Nanang Garuda menciptakan Wayang Pulau sebagai figur-figur rekaan baru wayang kulit.

Lukisan karya Anugerah Eko. (istimewa)

Awalnya Nanang membuat eksperimen yang mentransformasikan Garuda Pancasila menjadi Kiai Garda (Garuda Pancasila) dari hasil pengamatan mendalam terhadap lambang negara sejak 2003.

Pada perkembangannya, lahirlah Wayang Pulau, yang dikreasikan dari bentuk lima pulau besar di Indonesia. Nanang berharap Wayang Pulau bisa sebagai media edukasi ideologi dan peneguh identitas bangsa Indonesia.

Ketiga perupa itu merupakan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain menjadi seniman, mereka juga dosen seni rupa. Nanang dikenal sebagai pendiri dan pemilik Museum Garuda.

Pameran yang merupakan kelanjutan serial pameran Mirror dibuka Kamis (25/10/2018) malam, oleh Sekretaris Dewan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Dr Sindung Tjahyadi. Pergelaran singkat Wayang Pulau oleh Nanang Garuda  turut memeriahkan acara. (sol)


TAGS: bantul 

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini