Kamis, 29 Jul 2021,


taman-mini-riwayatmu-kiniAnjungan DIY TMII Jakarta masih terawat saat anjungan milik provinsi lain mangkrak. (sholikul hadi/koranbernas.id)


Siaran Pers
Taman Mini Riwayatmu Kini...
Anggota Dewan Bangga Anjungan DIY TMII Tetap Eksis
SHARE

KORANBERNAS.ID, JAKARTA – Sebuah baliho bertuliskan Taman Mini Indonesia Indah dalam Penguasaan dan Pengelolaan Kemensetneg Sejak 1 April 2021 (Perpres No 19/2021) terpasang di area pintu masuk Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.


Ibarat maklumat, salah satu legenda pariwisata Indonesia itu resmi dikelola Kementerian Sekretariat Negara menyusul terbitnya perpres tersebut. Kurang lebih 44 tahun dikelola Yayasan Harapan Kita, nama TMII sangat identik dengan keluarga Cendana.

  • Menjadi Guru Milenial
  • Wakaf Sumur Bikin Warga Dusun Lega

  • Taman Mini tak hanya memiliki riwayat panjang tetapi juga menyimpan beraneka kenangan. Sekilas tersisa kemegahan masa lalu berbalut realita masa kini yang memprihatinkan. Fasilitas-fasilitas yang ada terkesan dibiarkan rusak. Tidak terawat.

    Banyak anjungan mangkrak. Semak belukar seperti menutupi sejumlah bangunan. Suasana terkesan sepi. Nyaris tidak ada aktivitas seni. Bahkan ada yang menyebut mirip kuburan. Ini terjadi karena tidak ada support dana lagi dari pemda masing-masing.


    “Saya waktu SMP datang ke TMII. Ramai sekali. Setiap anjungan dikunjungi. Sekarang rusak seperti ini,” kenang Suparman, seorang awak media dari Yogyakarta saat mengikuti press tour bersama DPRD DIY, Senin dan Selasa (7-8/6/2021).

    Sambil bercanda dia mengatakan mungkin saja sekarang ini Taman Mini banyak dihuni makhluk halus. “Dulu anjungan ada 27 sesuai jumlah provinsi di Indonesia. Mestinya jumlah anjungan bertambah, namun sebagian justru mangkrak,” ungkapnya.

    Pengalaman lucu juga diungkapkan Wakil Ketua DPRD DIY, Suharwanta, di sela-sela meninjau Anjungan DIY. Mungkin hal serupa dialami banyak orang yang sama sekali belum pernah pelesir ke TMII. Politisi asal Bantul ini terus terang mengakui baru kali ini dirinya berkunjung ke Taman Mini.

    “Saya saat kecil hanya bisa melihat TMII dari sampul buku. Buku yang ada gambarnya Chica Koeswoyo. Hari ini saya bisa hadir di sini maka patut kita syukuri. Saya dengar ada makhluk halus di sini,” ucapnya berkelakar.

    Anjungan DIY

    Suharwanta bersyukur sekaligus merasa bangga Anjungan DIY tetap eksis. Beragam kegiatan seni dan budaya rutin digelar. Bagi Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata dan Budaya, keberadaan anjungan tersebut sangat penting untuk promosi.

    Diakui, pilar pokok ekonomi DIY adalah sektor pariwisata dan pendidikan. Berdasarkan kajian Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Juni 2020, akibat pandemi mahasiswa dan pelajar dari luar Yogyakarta pulang ke daerah masing-masing. Pengaruhnya langsung mengguncang sektor ekonomi. Belanja mahasiswa total Rp 623 miliar setiap bulannya melayang. Angka ini sangat signifikan bagi DIY.

    Suharwanta mendorong sinergi media massa dengan Pemda DIY  untuk menyebarkan informasi-informasi yang positif, agar animo wisatawan dan pelajar ke DIY kembali pulih. “Suarakan hal yang baik-baik. Demi Yogyakarta, hal-hal yang buruk cukup menjadi bisik-bisik saja. Mikul dhuwur mendhem jero,” ucapnya.

    Sependapat, Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Suwardi, menyatakan hilangnya perputaran uang ratusan miliar rupiah setiap bulan merupakan malapateka yang sesungguhnya. Sesuai tugas pokok dan fungsinya dia berharap Badan Penghubung Daerah (Banhubda) DIY sungguh-sungguh menggalang promosi menyasar semua kalangan.

    Kepala Banhubda DIY, Nugrohoningsih, menegaskan Pemda DIY tetap memiliki komitmen mempertahankan Anjungan DIY TMII yang dibangun pada 1974 dengan candra sengkala Warna Sapta Kusumaning Bawana.

    “Anjungan ini berdiri bersamaan dengan berdirinya 27 anjungan provinsi lain yang digagas oleh Ibu Tien Suharto, untuk memberi informasi tentang kekayaan keragaman Indonesia dalam bentuk Indonesia Mini,” ungkapnya.

    Anjungan DIY TMII berdiri di atas tanah seluas 8.165 m2 dengan bangunan seluas 2.694,45 m2. Pengelolaannya berdasarkan Perjanjian Pinjam Pakai antara Kementerian Sekretariat Negara RI dengan Pemerintah DIY. Terakhir, perjanjian itu secara resmi ditandatangani 16 Juli 2018 dengan Nomor : Perj 19/Kemensetneg/Ses/07/2018, Nomor  : 44/Perj/Sekda/VII/2018.

    Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta TMII mengadopsi arsitektur tradisional khas rumah pangeran Keraton Yogyakarta, nDalem Notoprajan.

    Pohon sawo kecik tumbuh di halaman. Terdapat regol menghadap utara, berikut bangunan arsitektur tradisional Tajuk Lawakan. Semua bagian bangunan memiliki fungsi beserta kandungan filosofinya.

    Bangunan kecil mushala, misalnya, filosofinya bermakna apabila seseorang memasuki regol agar betul-betul bersih suci lahir batin. Sebelum sampai bangunan utama dibersihkan oleh simbol dua raksasa kembar, gupala. Ada juga Kuncungan. Bagian bangunan yang berada pada posisi paling depan itu terdapat tulisan huruf Jawa candra sengkala.

    Sedangkan Pendapa Agung sering digunakan untuk pementasan kesenian, pelatihan, diklat seni, resepsi pernikahan dan sebagainya. Terdapat Longkangan berfungsi sebagai batas tempat persiapan para peraga seni saat hendak pentas di pendapa, sekaligus jadi area penonton.

    Khusus Pringgitan digunakan untuk pergelaran wayang kulit. Tertata seperangkat gamelan Slendro dan Pelog. Di tempat ini juga berlangsung diklat karawitan.

    Wakil Ketua DPRD DIY Suharwanta mengamati koleksi Anjungan DIY TMII. (sholikul hadi/koranbernas.id)

    Benda bersejarah

    Masuk ke ruangan dalam, tersimpan beragam benda bersejarah. Satu yang menarik perhatian adalah Pesareyan Tedeng. Di ranjang inilah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilahirkan. Wakil Presiden RI ke-2 itu tercatat lahir 12 April 1912.

    Tempat tidur tersebut diberikan oleh Yayasan Guntur Madu yang didirikan Sri Sultan HB IX. Meski sudah berusia ratusan tahun, dipan yang tersimpan di dalam kamar khusus dengan pencahayaan redup itu terlihat masih kokoh. Tidak setiap orang diperbolehkan masuk ruangan kecuali atas izin dari pengelola.

    Tersimpan pula pasareyan Pangeran Diponegoro dan pasareyan berbahan marmer peninggalan Sultan HB V. Sedangkan koleksi keris tahun 1840 tersimpan rapi di dalam kotak kaca.

    Pada bangunan Ndalem Ageng terdapat senthong tengah (krobongan), senthong tengen dan kiwa  (kanan dan kiri). Bangunan Gadri dipergunakan untuk pameran dan seting gamelan Slendro dan Pelog.

    Satu lagi, Gandhok Tengen. Bangunan Limasan Pacul itu difungsikan sebagai ruang kantor Anjungan DIY TMII maupun ruang rapat. Gandhok Kiwa (kiri) terdapat ruangan rias dan persiapan busana bagi para seniman, dilengkapi art shop dan kafetaria yang disewakan.

    Nugrohoningsih menjelaskan, anjungan DIY TMII  dibangun oleh Yayasan Guntur Madu yang dibentuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Puluhan tahun dikelola yayasan tersebut, akhirnya pada 2001 Anjungan DIY TMII resmi diserahkan pengelolaannya ke Pemda DIY.

    “Anjungan mengemban fungsi sebagai pusat pelestarian dan promosi budaya, pendidikan wawasan kebangsaan serta cinta tanah air serta sarana promosi dan informasi produk unggulan ekonomi daerah yang diselenggarakan Badan Penghubung Daerah DIY,” jelasnya.

    Berbagai pentas seni diselenggarakan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY,  Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Dinas Kebudayaan kabupaten/kota, paguyuban warga DIY di Jakarta serta seniman dan seniwati gagrak Yogyakarta di Jakarta.

    Pentas seni itu antara lain Ketoprak Mataram, wayang kulit, joget Mataraman, ekspresi seni tradisi di RRI/bandara, ekspresi seni karawitan malam Sukrokasih, Diklat Karawitan, Tari dan Ketoprak, pentas tari, lomba tari, upacara Bregada Prajurit, workshop karawitan internasional, campursari, drama Tari Menak maupun paket khusus Pesona Budaya Nusantara. (*)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini