atas

Tak Perlu Panik Hadapi Gelombang Perubahan

Minggu, 31 Mar 2019 | 20:29:51 WIB, Dilihat 403 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Tak Perlu Panik Hadapi Gelombang Perubahan Derap Kebangsaan XXV yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta Sabtu (30/3/2019) di Cafe Cangkir. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Pejabat Ini Diarak ke Rumahnya Saat Pensiun


KORANBERNAS.ID – Gelombang perubahan sebagai dampak dari kemajuan teknologi yang ditandai bermunculannya media online tidak perlu membuat panik media cetak.

Yang penting untuk disikapi adalah menyesuaikan perkembangan teknologi. Sudah banyak media cetak yang kemudian melengkapi penerbitan cetaknya dengan edisi online.

Memang kemunculan banyak sekali media online berdampak besar terhadap oplah, jumlah pelanggan serta pemasang iklan di media mainstream. Bahkan ada beberapa yang sudah gulung tikar.

Hal ini terungkap pada acara Derap Kebangsaan (dulu bernama Diskusi Kebangsaan) XXV bertema Tantangan Media Mainstream di Era Industri 4.0 yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta di Cafe Cangkir Yogyakarta, Sabtu (30/3/2019).

Tampil sebagai narasumber praktisi media yang juga anggota DPR MPR RI Drs H Idham Samawi, Dr Imam Anshori Saleh SH MH, wartawan yang pernah menjadi Wakil Ketua Komisi Yudisial dan kini memimpin media Senayan Pos, Serta Dr Sugeng Bayu Wahyono MSi, dosen UNY.

Menurut Anshori Saleh, perubahan tidak terelakkan. Masyarakat ingin sesuatu yang mudah, praktis dan ada di genggaman tangan. Tak perlu menunggu informasi diolah dan baru bisa dinikmati dalam bentuk berita di koran pagi harinya seperti dulu.

Kini hanya dalam hitungan menit atau jam, dengan sangat cepat masyarakat sudah bisa mendapatkan informasi peristiwa yang terjadi bukan hanya dalam negeri tetapi juga di semua belahan dunia secara gratis. Meski awalnya baru sepotong, tetapi terus ada up dating yang dilakukan pihak pengelola.

Hanya saja yang perlu diwaspadai adalah akurasi dari berita yang disiarkan. Karena lebih dari seribu media online, banyak sekali di antaranya yang menabrak kaidah jurnalistik maupun kode etik jurnalistik.

Tetapi sebagian masih tetap dikelola dengan baik, berpegang teguh pada kaidah-kaidah yang harus dipatuhi sehingga kepada pembacanya mereka menyuguhkan berita yang benar, tidak mengelabui fakta serta dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Dia mengakui banyak berita online yang bercampur antara fakta dan opini, bahkan berupa hoax yang menghasut. Tetapi masyarakat memiliki naluri selektif sehingga bisa membedakan mana online yang bisa dipercaya dan mana yang tidak.

Meski di tangan pembaca awam, hoax bisa mendatangkan dampak negatif dan bisa membahayakan kesatuan, kerukunan berbangsa dan bernegara.

"Pancasila harus tetap dipertahankan sebagai landasan bagi semua pengelola baik media mainstream maupun online. Karena hanya Pancasila lah yang sudah terbukti mampu melahirkan kejujuran serta menjadi pemersatu bangsa dan negara dari Sabang sampai Merauke," kata Idham Samawi.

Pada kesempatan itu muncul pertanyaan dari Iwan, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, bagaimana cara "membungkus"  Pancasila agar bisa diterima oleh kalangan generasi muda atau milenial.

Sebagai dasar negara, menurut Bayu, menanamkan kesadaran pentingnya Pancasila harus dilakukan secara terus menerus tanpa terputus.

Berdasarkan penelitian, dia membagi generasi milenial menjadi empat. Yakni mereka yang bertipe rekreatif, disusul pragmatis, ideologis dan generasi milenial yang skeptis kritis.

Mereka tidak bisa digeneralisasi dalam satu kelompok dengan menyimpulkan generasi muda apatis dan tidak peduli.

Mukijab, wartawan dan kandidat doktor tampil sebagai penanggap. (arie giyarto/koranbernas.id)

Minat baca rendah

Bagaimana mengaitkan kondisi minat baca  sekarang ini, Bayu mengatakan ada semacam kegagalan dalam menanamkan dasar literasi di kalangan generasi muda secara berlanjut.

Ini juga dikaitkan dengan penelitian, belanja kalangan anak muda pertama adalah pulsa. Disusul fashion, rokok (bagi yang nerokok) baru ranking ke empat belanja buku.

Tidak heran bila minat baca memang rendah. Untuk membenahinya harus dimulai dari dasar. Karena mereka lebih tahu mal dibanding perpustakaan.

Mukijab, seorang wartawan yang juga kandidat doktor menyampaikan ada kolaborasi antara pengelola media dengan sejumlah pemda kabupaten/kota di luar Jawa.

Koran diterbitkan sebagai media informasi dan komunikasi antara pemda dan warganya, meskipun ada yang hilang di antaranya fungsi kontrol pers.

Derap Kebangsaan dihadiri berbagai kalangan terutama anak muda calon pemimpin bangsa dari berbagai perguruan tinggi, calon legislatif serta pemerhati politik dan sosial. (sol)



Sabtu, 30 Mar 2019, 20:29:51 WIB Oleh : Nila Jalasutra 239 View
Pejabat Ini Diarak ke Rumahnya Saat Pensiun
Sabtu, 30 Mar 2019, 20:29:51 WIB Oleh : Masal Gurusinga 256 View
Jalan Pasar Cokro Kembang Semakin Rusak
Sabtu, 30 Mar 2019, 20:29:51 WIB Oleh : Sholihul Hadi 238 View
Komisi 1 DPR RI Dorong Pembuatan Film Heroik

Tuliskan Komentar