Kamis, 29 Jul 2021,


syiar-islam-daarul-furqon-dari-bukit-sampahSantri Daarul Furqon menegakkan syiar Islam bagi masyarakat sekitar Piyungan Bantul. (rosihan anwar/koranbernas.id)


Rosihan Anwar
Syiar Islam Daarul Furqon dari Bukit Sampah

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) berdiri kokoh tak jauh dari Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul. Dengan luasan yang tidak seberapa serta baru berusia lima tahun, pondok pesantren tahfidzul Quran atau penghafal Quran Daarul Furqon ini didirikan oleh Kiai Ahmad Jauhari.


Putra dari Hadi Surahmat itu mendirikan ponpes setelah dirinya belasan tahun menimba ilmu di berbagai pesantren terkenal di Pulau Jawa. Berkat perintah alias dhawuh ayahandanya, Ahmad Jauhari memberanikan diri mendirikan Daarul Furqon.


“Dulu saya awalnya mondok di Kanggotan dan Wonokromo. Tahun 1993 di Banyuwangi sampai 1999. Kemudian 1999 - 2000 di Kesugihan Cilacap. Selanjutnya akhir 2000 - 2004 di Ponorogo, terus saya pulang. Diamanatkan Simbah untuk mulai (membangun) pondok,” tuturnya.

Dibantu sang istri dan beberapa orang guru, Ahmad Jauhari berupaya menghidupkan cahaya Islam di kampung Bendo Dusun Ngablak Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan. Banyak tantangan yang dia hadapi ketika mengurus pondok yang baru seumur jagung itu. Di antaranya lokasi yang dinilai kurang strategis dan berdekatan dengan tempat pembuangan sampah terbesar di Yogyakarta.


“Murid hanya sekian. Tapi sebelumnya, banyak yang mau daftar di sini, tapi alasannya karena dekat sampah malah tidak jadi,” ujar ulama kelahiran Dusun Ngablak 26 Juli 1972 itu.

Aroma dari bukit sampah itu memang sangat melekat di lingkungan pesantren. Tak hanya itu saja, jalan menuju pondok pun rusak berat akibat dilewati ratusan truk yang setiap hari bongkar muat sampah di Bukit Sampah Piyungan.

Belum lagi, debu yang berterbangan tertiup angin ketika musim kemarau mampu membawa serta bau menyengat hingga ratusan meter dari TPST Piyungan.

“Tempat yang saya punya memang hanya ini, sedangkan jalan untuk hilir mudik truk sampah dan juga truk urug, sehingga ruwet. Kami maklum, kalau ada santri yang memilih pondok pesantren yang lain,” papar Ahmad Jauhari.

Bekerja dan berilmu

Slamet Arifin, salah seorang santri Daarul Furqon asal Temanggung Jawa Tengah mengatakan, dirinya menikmati nyantri sembari menimba ilmu dan juga bekerja sebagai pengepul sampah di TPST Piyungan.

Awalnya, Arifin mengetahui keberadaan pondok dari salah satu temannya yang sudah lebih dahulu menimba ilmu kepada Kiai Ahmad Jauhari.

Kan ada teman saya di sini. Saya dapat kabar kalau di sini bisa cari ilmu sambil bekerja, supaya uang tidak menggantungkan orang tua,” ucapnya.

Bau yang tidak biasa menjadi aroma yang lumrah karena lokasi pondok yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Bukit Sampah Piyungan. Bagi Arifin, dirinya tetap bertekat menjadi penghafal Quran di Daarul Furqon. Dia pun menikmati mencari nafkah sembari belajar menjadi penghafal kalam Illahi. “Kendalanya banyak, Mas, tapi kita harus bisa menyisihkan waktu,” ungkapnya.

Sobirin, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Daarul Furqon menambahkan, selain karena lokasi yang dinilai kurang strategis, pandemi yang berlangsung lebih dari setahun juga mempengaruhi perkembangan pesantren yang berdiri Mei 2016 itu. Aktivitasnya sempat terhenti.

“Kendalanya salah satunya, jalan tiga tahun kemudian ada pandemi, segala kegiatan semuanya nggak bisa gerak. Sampai pernah dua bulan putus semua kegiatan. Ya, kita semua memang harus bersabar,” ujarnya.

Kiai Ahmad Jauhari. (rosihan anwar/koranbernas.id)

Butuh bantuan

Pandemi yang melanda dunia menyebabkan Daarul Furqon belum berhasil mencetak santri hafidz 30 juz. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Kiai Ahmad Jauhari dan beberapa pengajar untuk tetap mengajarkan ayat-ayat suci Al Quran, khususnya untuk warga Piyungan.

“Yang 30 juz memang belum ada, tapi yang juz 30 dan beberapa juz sudah ada. Kami juga ada santri tunanetra yang hafal 30 juz,” terangnya.

Di tengah keterbatasan yang ada saat ini, diakui Sobirin, Daarul Furqon masih sangat membutuhkan bantuan, khususnya dari pemerintah, untuk pengembangan pesantren. Fasilitas sederhana yang dibangun saat ini, bahkan lebih banyak berasal dari masyarakat yang merasa terbantu dengan syiar agama dari pondok pesantren tersebut.

“Bantuan dari pemerintah sebenarnya sudah ada. Misalnya dari kelurahan, tapi memang belum seperti yang kita harapkan. Misalnya ada pembuatan kamar mandi dan tempat wudhu, itu dari anggota dewan, cuma nggak seberapa. Sebenarnya bantuan paling banyak dari masyarakat,” sebut Sobirin.

Walaupun di tengah kekurangan dan kesederhanaan, ghirah atau semangat Kiai Ahmad Jauhari untuk membesarkan Pondok Pesantren Daarul Furqon tak pernah padam.

Lewat munajat kepada Yang Maha Kuasa, Ahmad Jauhari berharap, Daarul Furqon dapat menjadi cahaya pembeda yang menerangi  masyarakat untuk mendapat hidayah Ilahiyah. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini