Senin, 02 Agu 2021,


smk-2-klaten-mengelola-sampah-organik-dengan-budidaya-lalat-tentara-hitamCamat Ngawen, Ir Anna Fajria Hidayati M.Si, saat meninjau budidaya maggot di kompleks SMK Negeri 2 Klaten. (masal gurusinga/koranbernas.id)


Masal Gurusinga
SMK 2 Klaten, Mengelola Sampah Organik dengan Budidaya Lalat Tentara Hitam

SHARE

KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang bertujuan mencerdaskan anak didik. Namun, sekolah juga harus bisa menciptakan inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan lingkungan sekitarnya.


Seperti yang dilakukan SMK Negeri 2 Klaten, misalnya. Sebagai Sekolah Adiwiyata dan menuju Adiwiyata Mandiri, sekolah ini memiliki tiga sekolah binaan, yakni SMA Negeri 1 Polanharjo, SMP Negeri 1 Karanganom dan SMP Negeri 2 Ceper.

  • Pasangan Noto Sepakat Tidak Akan Ada Kampanye Hitam dan SARA
  • Pensiunan Tentara Ngamuk, Dukuh Langsung Ambruk

  • Saat ini, sekolah yang beralamat di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten ini telah mengembangkan inovasi yang perlu diadopsi oleh banyak pihak, khususnya dalam hal pengelolaan sampah organik.

    Tentu muncul pertanyaan mengapa harus pengelolaan sampah? Sebab SMK Negeri 2 Klaten adalah sekolah favorit yang dikenal dengan program keahlian tehniknya.

  • Gunungan Sampah Dikeruk, TPST Piyungan Terus Ditata

  • Sebagai Sekolah Adiwiyata, SMK Negeri 2 Klaten telah mengembangkan inovasi pengelolaan sampah organik dengan Lalat Tentara Hitam (black soldier fly/Hermetia illucens). Tehnik ini cukup efektif karena selain bisa menangani permasalahan sampah organik, juga bisa mendatangkan nilai ekonomis. Oleh karenanya, tehnik ini bisa dikembangkan di lingkungan masing-masing sekolah.

    Terkait dengan permasalahan sampah, SMK Negeri 2 Klaten menggelar pelatihan pengelolaan sampah organik dengan Lalat Tentara Hitam, Selasa (20/10/2020).

    Acara yang berlangsung di salah satu ruang pertemuan sekolah dihadiri kepala sekolah binaan, perangkat atau kepala desa di wilayah Kecamatan Ngawen, Camat Ngawen Ir Anna Fajria Hidayati, tim adiwiyata SMK Negeri 2 Klaten dan Wakil Kepala SMK Negeri 2 Bidang Kesiswaan, Drs Purwoko.

    Selain menerima penjelasan dari tim adiwiyata SMK Negeri 2 tentang pengelolaan sampah organik dengan Lalat Tentara Hitam, peserta juga mengadakan kunjungan ke area pengelolaan sampah organik dan budidaya Lalat Tentara Hitam (maggot) di kompleks sekolah tersebut.

    Ketua Adiwiyata SMK Negeri 2 Klaten, Sri Martono S.Pd M.Eng, dalam paparannya menjelaskan Lalat Tentara Hitam memiliki karakteristik panjang sekitar 10 hingga 15 cm, umur lalat sekitar 8 hari, siklus sempurna sekitar 40 hari, umur maggot sekitar 21 hingga 28 hari, tidak membawa gen penyakit.

    Adapun manfaat yang bisa diambil dari budidaya Lalat Tentara Hitam yakni pupa-nya bisa dijadikan pakan ikan, pakan ternak ayam dan burung dan lain sebagainya, karena mengandung protein tinggi. Dan yang tak kalah penting, dikenal sebagai pemakan sampah organik seperti nasi basi, potongan sayuran, buah-buahan yang sudah busuk dan lain sebagainya.

    Wakil Kepala SMK Negeri 2 Klaten, Drs Purwoko, mengatakan kegiatan ini merupakan tanggungjawab SMK 2 Klaten sebagai Sekolah Adiwiyata, khususnya masalah pengelolaan sampah di sekolah binaan dan lingkungan masing-masing.

    "Bagi banyak orang, lalat itu menjijikkan. Tapi ini tidak. Justru sebaliknya, bisa mendatangkan nilai ekonomis seperti untuk pakan lele dan lain sebagainya," ujarnya.

    Camat Ngawen, Anna Fajria Hidayati, yang membuka acara pelatihan mengemukakan, sampah merupakan masalah besar yang harus ditangani bersama. Pengelolaan sampah organik dengan maggot menjadi tugas bersama yang harus disupport.

    "Maggot (larva) kemudian menjadi lalat. Ini yang dibudidayakan. Maggot berfungsi sebagai pengurai," kata mantan Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Klaten itu.

    Dia menambahkan, sampah hendaknya dipilah sebelum dibuang. Pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup juga telah memberikan bantuan pengolahan sampah ke desa-desa melalui bank sampah.

    Menanggapi acara tersebut, Anna Fajria Hidayati mengaku tertarik sekali dan berharap materi bisa ditularkan dalam forum pertemuan 13 desa di Kecamatan Ngawen. Juga kepada pengurus PKK, Karang Taruna, lembaga desa dan tokoh masyarakat. (*)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini