atas

Smart Phone Picu Disharmoni Keluarga

Sabtu, 08 Des 2018 | 00:36:06 WIB, Dilihat 601 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Smart Phone Picu Disharmoni Keluarga Nur Alvira SKM MPH. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Cagar Budaya Makin Tua Makin Seksi


KORANBERNAS.ID -- Penggunaan smart phone secara bijak memberikan kemudahan saat beraktivitas, meningkatkan produktivitas dan memudahkan komunikasi. Sebaliknya bila penggunaannya tidak terkendali akan muncul dampak-dampak negatif, salah satunya memicu disharmoni di keluarga.

Ini terjadi karena banyak orang menggunakan smart phone untuk berkomunikasi meskipun berada dalam satu rumah sehingga tatap muka tersisih. Masing-masing anggota keluarga sibuk dengan perangkat komunikasinya.

Hal itu bisa diantisipasi jika orang tua memanfaatkan aplikasi dalam waktu yang tepat dengan metode komunikasi yang benar. Misalnya, menggunakan video call atau memanfaatkan komunikasi dengan media lain.

Pertumbuhan penggunaan smart phone di kalangan remaja Yogyakarta cukup signifikan. Dalam setahun pertambahannya mencapai 700 persen.

Sayangnya banyak orang tua yang kurang bisa mengikuti perkembangan IT dibanding anak-anak remaja. Penggunaan smart phone  tidak terkontrol.

Dikhawatirkan anak menjadi kecanduan dan terjadi penyalahgunaan. Termasuk saat belajar mereka tidak fokus karena terganggu perangkat telepon.

Inilah hasil penelitian tim dari Universitas Respati Yogyakarta. Hasil penelitian yang dibiayai dengan dana BKKBN DIY tahun 2018 itu, disampaikan Nur Alvira SKM MPH, Jumat (07/12/2018) di kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Penelitian tersebut mengacu hasil penelitian serupa dari berbagai pihak. Adapun judulnya pola komunikasi keluarga melalui penggunaan smart phone berdasarkan paparan program BKR/PIK-R di Kabupaten Sleman.

Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan Ngemplak dan Kalasan, dengan latar belakang wilayah yang sudah terpapar program Bina Keluarga Remaja/Pusat Informasi dan Konseling Remaja (BKR /PIK-R)  dan wilayah yang belum tersentuh.

Tim yang terlibat dalam kemitraan antara BKKBN DIY dan berbagai perguruan tinggi foto bersama usai presentasi di UKDW, Jumat (07/12/2018). (arie giyarto/koranbernas.id)

Di kedua wilayah tersebut tim peneliti mendapatkan fakta yakni wilayah yang terpapar program BKR/PIK-R lebih baik dibanding yang belum.

Tim memberikan rekomendasi supaya program BKR/PIK-R perlu diintensifkan kembali di beberapa lokasi yang pernah terpapar program itu.

“Melalui program ini kemampuan remaja dapat dikembangkan untuk penyebaran informasi positif ke sesama  remaja baik kesehatan maupun kehidupan remaja secara positif,” kata dia.

Memang, program ini belum bisa menekan dampak negatif penggunaan smart phone pada remaja berdasar perspektif orang tua.

Pendekatan harus dilakukan pada orangtua yang memiliki remaja. Mengingat keluarga adalah lingkungan terdekat dan merupakan tempat pertama dan utama pembentukan karakter.

Pengelola kegiatan Lidwina Daru Andani dalam laporannya mengatakan, karena adanya keterbatasan maka penelitian melibatkan berbagai tim perguruan tinggi sebagai mitra.

Tujuannya membantu menemukan penyebab masalah di DIY dan mencarikan solusinya agar langsung bagi masyarakat.

Kemitraan kali ini terjalin dengan tim peneliti UKDW, Stikesyo, Universitas Alma Atta, Unriyo, UNY dan UAD. Presentasi dihadiri Kapusna BKKBN Pusat dan Wakil Rektor I UKDW Dr Kharis Amarantini MSi. (sol)



Sabtu, 08 Des 2018, 00:36:06 WIB Oleh : Sholihul Hadi 380 View
Cagar Budaya Makin Tua Makin Seksi
Jumat, 07 Des 2018, 00:36:06 WIB Oleh : W Asmani 344 View
Grebeg Silaturahmi Diikuti Peserta dari Enam Agama
Jumat, 07 Des 2018, 00:36:06 WIB Oleh : Sari Wijaya 420 View
Warga Dusun Colo Ditemukan Meninggal, Tercebur di Sungai Opak

Tuliskan Komentar