atas1

Sirih Itu Pahit Tapi Dinikmati..
Pameran Kelompok Termos’85 di Tembi Rumah Budaya

Minggu, 02 Jun 2019 | 21:43:29 WIB, Dilihat 14180 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Sirih Itu Pahit Tapi Dinikmati.. Nyirih bukan Nyinyir Karya Sarjianto Sekar. (istimewa)

Baca Juga : ACT DIY Bagikan Paket Ramadan untuk Para Ustad


KORANBERNAS.ID -- Seniman selalu memiliki cara untuk memotret keadaan, kemudian menyampaikannya dalam bahasa seni yang menarik, menggelitik serta sering bermuatan kritik.

Begitu pula 19 perupa Kelompok Termos’85 yang menggelar pameran 8-21 Juni 2019 di Galeri Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 18,4 Bantul.

Bertema Godhong Suruh (Daun Sirih), para perupa alumni Pendidikan Seni Rupa IKIP Yogyakarta, sekarang Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengeksplorasi banyak hal.

Ada yang mengekspresikannya lewat lukisan, patung, maupun cat minyak, akrilik, karyon, cat air serta media campuran (mixed media). Ada pula yang menghadirkan satu karya bahkan dua.

Walikota Yogyakarta 2001-2011 Herry Zudianto dijadwalkan membuka pameran ini, Sabtu (8/6/2019) pukul 19:00.

Pembukaan pameran dimeriahkan penampilan musik gamelan anak, binaan salah seorang peserta pameran, Fahrur Rozi.

Ketua Panitia Pameran Tri Wiyono Godhong Suruh dimaksudkan untuk merefleksi situasi aktualitas maupun kondisi kelompok Termos’85.

“Daun sirih mempunyai dua sisi yang berbeda. Di sisi atas berwarna hijau tua dengan permukaan glossy. Di sisi bawah hijau keputih-putihan dengan permukaan dof.  Walaupun kedua sisi lumah lan kurepe berbeda, godhong suruh tidak terbelah. Ia sepakat manunggal untuk memformulasikan kandungan rasa yang sama,” papar Tri Wiyono.

Keluarga Bahagia karya Wasis. (istimewa)

Guru seni SMK ini menambahkan godhong suruh juga dipakai menggambarkan hubungan antarsaudara sinara wedi, yakni hubungan saudara yang istimewa.

Jika yang satu dicubit, yang lain ikut merasa sakit, seperti hubungan istimewa antara Kresna dan Arjuna dalam pewayangan.

Godhong suruh juga dipakai untuk menggambarkan hubungan antara suami dan istri, yang berbeda latar belakang dan fisiknya, tapi saling melengkapi untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Tri Wiyono menjelaskan pameran ini digelar antara lain agar dapat udhu-udhu klungsu, walaupun sangat sedikit ikut urun-urun, untuk menjaga agar yang berbeda tidak terbelah, yang terluka tidak menganga dan yang susah sedikit terhibur. “Paling tidak mulai dari kelompok Termos’85,” tandasnya.

Pengamat seni budaya Ons Untoro mengatakan Kelompok Termos’85 memakai idiom lokal, godhong suruh untuk meneguhkan persahabatan di antara mereka.

Membelah dengan Suka Cita karya Herjaka. (istimewa)

“Usia mereka tidak lagi muda mungkin sudah di atas 50 tahun, saya tahu ada yang sudah lebih dari 60 tahun. Mereka mengalami pahit getirnya kehidupan, setidaknya seperti rasa suruh (sirih), tetapi terus menghasilkan karya,” kata dia.

Ons mencontohkan satu karya yang menyajikan visual seorang perempuan tua, sebagai satu konstruksi dari garis-garis, memberikan nuansa lokal dan alami.

Karya Sarjianto Sekar itu diberi judul Nyirih bukan Nyinyir. “Karya ini terasa kontekstual, kalau kita dekatkan kondisi sekarang, yang pahit dan nyinyir saling berseteru,” jelasnya.

Aktivitas nginang yang pahit meneguhkan rasa di lidah, dalam kontektualitas kehidupan hari-hari ini, yang dirasakan pahit membuatnya terus nyinyir untuk menolak rasa pahit, artinya tidak menerima kenyataan. Berbeda dengan orang nginang, rasa pahit dinikmati. Kenyataan itu diterima.

Karya Sarjianto Sekar tersebut, menurut Ons, bisa didekatkan dengan karya Erwan berjudul Sedulur Prihatin.

Erwan menggambarkan sejumlah perempuan ngobrol di tengah suasana rumah di kawasan kumuh yang mulai dipenuhi fondasi-fondasi beton.

“Karya Sarjiyanto dan Erwan ini, sama-sama bernuansa lokal dan alami. Keduanya sedang merasakan pahitnya hidup, tapi masing-masing tidak terpisah, dan tidak nyinyir. Pahitnya hidup, rupanya bisa diterima secara jenaka, dan ini terasa sangat Yogya,” tandas Ons.

Karya-karya perupa dari alumini IKIP Yogya ini temanya sederhana, mudah dicerna dan sangat komunikatif. Mungkin persis seperti kehidupan keseharian mereka.

Mereka masih saling bersapa, mungkin melalui WA atau bersapa melalui sosial media. Jika ingin bertemu bersama, tidak hanya sekadar tatap muka tetapi sekaligus menyajikan karya.

Sedulur Prihatin karya Erwan. (istimewa)

Maka pertemuan mereka tidak  hanya sekedar reuni, karena juga melibatkan orang lain yang bukan alumni, dan bertemu dalam pameran yang mereka selenggarakan.

Dalam kata lain, godhong suruh (daun sirih) yang merekatkan persabahatan mereka, seperti halnya godhog suruh yang memiliki manfaat, pameran mereka juga bermanfaat bagi orang lain.

Ini karena masing-masing saling bertemu, dari yang saling kenal atau malah tidak saling kenal, di ruang pameran Godhong Suruh ini.

Dalam pertemuan ini mereka tidak harus merasakan pahitnya kehidupan, tetapi saling mempererat dalam persahabatan. (sol)



Sabtu, 01 Jun 2019, 21:43:29 WIB Oleh : Sholihul Hadi 304 View
ACT DIY Bagikan Paket Ramadan untuk Para Ustad
Jumat, 31 Mei 2019, 21:43:29 WIB Oleh : Redaktur 311 View
Panglima TNI dan Kapolri Pantau Tol Brebes
Jumat, 31 Mei 2019, 21:43:29 WIB Oleh : Nanang WH 338 View
Ditangkap Setelah Tujuh Kali Jambret Handphone

Tuliskan Komentar