Rabu, 16 Jun 2021,


setelah-delapan-tahun-riuh-kustomfest-2020-dihelat-penuh-kekhusyukanSalah satu karya dalam Kustomfest 2020 di Jogja National Museum. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Setelah Delapan Tahun Riuh, Kustomfest 2020 Dihelat Penuh Kekhusyukan

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pandemi Covid-19 yang masih panjang dengan kondisi yang serba “terbatas” saat ini, tidak lantas menyurutkan semangat masyarakat untuk menikmati karya-karya pada KUSTOMFEST 2020 #UNRESTRICTED. Sejak digelar pada 15 Desember 2020 silam, ratusan orang secara terbatas setiap harinya memasuki area penyelenggaraan KUSTOMFEST 2020 di Jogja National Museum yang dibagi dalam beberapa sesi.

Pengunjung diajak menjelajahi gelaran KUSTOMFEST tahun ini yang disajikan dalam konsep galeri/museum. Area-area displai yang sudah ditata sedemikian artistik oleh Heri Pemad selaku Direktur Artistik Kustomfest 2020. Tangan dingin Pemad membuat pengunjung bisa menikmati karya dengan lebih khidmat.

Pengunjung dengan leluasa dapat menghayati beragam pajangan kreasi seni dan mengabadikan berbagai momen tanpa terganggu ingar bingar keramaian. Ini merupakan pengalaman baru dalam menikmati karya KUSTOMFEST.

“Pandemi membuat Kustomfest tahun ini spesial. Apresiasi terhadap karya kustom ditingkatkan, tidak hanya sekadar kreasi otomotif biasa, namun juga menjadi sebuah karya seni yang bisa jadi collectible item. Tidak hanya itu, ada juga unsur edukasi yang bisa dipelajari dan dapat ditularkan kepada orang biasa sekalipun,” terang Pemad dalam keterangan tertulisnya, Minggu (27/12/2020).

Pemad menambahkan, dirinya tidak terpatok pada konsep tertentu, hanya membayangkan sebuah karya 3 dimensi selayaknya patung yang bisa dilihat secara 360 derajat.

Layout display pada KUSTOMFEST 2020, lanjut Heri Pemad, dirancang berdasarkan style atau konsep motor yang kemudian ditata dalam satu ruangan. Hal ini bertujuan agar karya-karya motor ini lebih nyaman dipandang dengan fokus pada tata cahaya dan alur.

“Melalui penataan yang sesuai runutnya dan selayaknya benda seni, maka detil-detil pada motor bisa ditangkap dengan bagus, baik secara visual langsung atau pun direkam melalui kamera, bahkan hanya dengan kamera ponsel,” paparnya.

Sebagai bagian dari upaya pemahaman karya serta edukasi kepada pengunjung, dalam penataannya ditambahkan properti atau materi-materi pendukung. Penjabaran sebuah wujud berupa narasi berisi nama, konsep dan sejarah pembuatan serta video yang ditayangkan memperkuat karakternya sebagai hasil dari sebuah proses.

"Hal ini juga agar menjadi bukti bahwa kreasi tersebut bukan sekadar karya seni pajangan namun bisa dikendarai selayaknya motor pada umumnya. Tujuannya agar orang bisa mengoleksi karya tersebut sebagai kendaraan atau barang seni,” paparnya.

Director Kustomfest, Lulut Wahyudi, saat ditemui di Jogja National Museum menambahkan, bila selama 8 tahun sebelumnya Kustomfest selalu dibanjiri penonton dan banyak peserta dari seluruh di Indonesia bahkan dunia, kali ini berubah format.

"Hingar bingar suara otomotif dan dentuman musik yang riuh selama 8 tahun kita anggap perayaan bagi semua entitas kustom, builder hingga penonton. Kali ini, di tengah pandemi, perhelatan yang sunyi dan penuh kekhusyukan ini kita rasakan sebagai sebuah ibadah. Ibadah kustom," terangnya.

"KUSTOMFEST 2020 #UNRESTRICTED menyampaikan pesan tegas bahwa pandemi dengan segala keterbatasan saat ini bukan berarti pelarangan atau berhenti berkarya. Namun sebuah ajakan bagi setiap entitas kustom untuk terus berkarya," lanjutnya.

Dengan kondisi yang serba terbatas, lanjut Lulut, justru bagian sebagai sebuah langkah proses menuju level berikutnya, sekaligus menjadi inspirasi untuk karya mendatang. Setiap pengunjung bisa menjadi saksi sejarah yang tercatat dalam buku perjalanan KUSTOMFEST.

"Sejarah bahwa Kustomfest pernah hadir di tahun yang penuh dengan segala keterbatasan dan hampir menjadi senjakala dari sebuah harapan," imbuhnya.

Protokol kesehatan sesuai prosedur yang dicanangkan pemerintah tetap diterapkan secara ketat kepada seluruh pengunjung saat akan memasuki gerbang utama Jogja National Museum. Sebelum memasuki venue, setiap pengunjung diharuskan mencuci tangan yang dilanjutkan dengan pengukuran suhu tubuh.

Setelah itu mereka harus menunjukan identitas. Sedangkan yang berasal dari luar kota diwajibkan menunjukan hasil rapid test yang hasilnya negatif. Selanjutnya, setiap pengunjung diharuskan melalui UV Gate System, sebuah sistem untuk membunuh mikro organisme dan upaya sterilisasi.

Pencegahan lainnya, di ruangan displai juga dilakukan disinfeksi otomatis di setiap sesi kunjungan dengan menggunakan Pro Aircare. Semua aktivitas di atas dilakukan dengan meminimalisir kontak bagian tubuh secara langsung. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini