Kamis, 29 Jul 2021,


sengatan-matahari-dan-bau-sampah-tak-halangi-pemulung-tpst-piyungan-tetap-berpuasaAktivitas bongkar sampah di TPST Piyungan. Sebagian besar pemulung dan pengepul tetap menjalankan puasa Ramadan. (rosihan anwar/koranbernas.id)


Rosihan Anwar
Sengatan Matahari dan Bau Sampah Tak Halangi Pemulung TPST Piyungan Tetap Berpuasa

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu atau biasa disingkat TPST Piyungan Bantul memberi berkah sejak beroperasi pada 1996. Sebagai tempat pembuangan akhir sampah terbesar di DIY, ratusan pemulung dan pengepul bekerja mengais rezeki dari Bukit Sampah Piyungan yang berada di Dusun Ngablak dan Watugender.


Mayoritas dari mereka bahkan tetap menjalankan ibadah puasa, meski sengatan panas matahari begitu terik plus aroma khas sampah yang langsung menusuk hidung siapa pun yang berada di sana.


Nuri Hidayah, merupakan salah seorang pemulung yang mengais sampah di Piyungan. “Saya cari plastik, kardus, botol, apa pun yang bisa dijual,” ucapnya ditemui akhir April silam.

Kakek berusia 65 tahun itu tetap menjalankan ibadah puasa meski di tengah teriknya matahari. Baginya, panggilan hati menjalankan ibadah di bulan yang penuh keberkahan tak bisa ditanggalkan hanya demi mencari keduniawian. “Tapi kalau bulan puasa nggak bisa full, sekuatnya saja. Jadi, kerja lebih santai,” ungkap bapak tiga orang anak ini.


Setelah memulung sampah, Nuri dengan telaten memilah sampah di gubuk seluas 2x2 meter. Di dalam gubuk yang penuh sampah dan dikerubungi lalat itu, lelaki kelahiran Gunungkidul tersebut tak merasa terkungkung ketika bekerja.

Biasanya setiap hari dia berangkat pukul 06:00 sampai pukul 16:00. “Kalau capek ya istirahat, sekarang saya tinggal di bawah (dekat TPST). Nggak perlu terlalu ngoyo,” ujar dia.

Awalnya, Nuri berprofesi sebagai tukang kayu dan batu. Dirinya sering mengikuti proyek-proyek pembangunan di ibu kota Jakarta. Namun seiring usia, Nuri memilih memulung sampah di TPST Piyungan.

“Sudah tua, Mas. Dulu masih kuat, sekarang saya kerja santai saja. Seperti ini tidak capek, tapi memang kendalanya panas,” ungkapnya tanpa mengeluh.

Pemulung memilah sampah di gubuknya. (rosihan anwar/koranbernas.id)

Tak memaksakan diri

Hal yang sama juga dilakukan Sukardi warga Sitimulyo Piyungan. Selama 24 tahun memulung sampah, dirinya tak pernah mengabaikan kewajiban berpuasa meski ibadah itu tidaklah mudah. Demi menyiasatinya, Sukardi pun memperpendek waktu pekerjaannya ketika bulan Ramadan tiba.

“Kalau sekarang ya berangkat pukul 07:00 sampai pukul 11:00. Nanti saya pulang, dan kemudian jemput istri saya yang memulung di sini juga sekitar pukul 14:00,” paparnya.

Dengan pekerjaan yang lebih ringan, waktu luang ia manfaatkan untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang Khalik. “Sekuatnya saja, Mas, yang terpenting puasanya tidak batal,” kata Sukardi kepada koranbernas.id.

Tak hanya kaum pria, banyak juga wanita yang memulung sampah di TPST Piyungan tetap menjalankan ibadah puasa. Mayoritas mereka juga masih harus menjalankan kewajiban domestik sebagai ibu rumah tangga. Ny Bagus merupakan salah seorang di antaranya. Dirinya tetap menjalankan puasa, di tengah kesibukannya mencari dan memilah sampah di Bukit Sampah Piyungan.

Ya sehari paling tidak dapat Rp 50.000, terkadang lebih. Saya tetap puasa biasanya, tapi karena semalam tidak sahur, dan hari ini panas banget, saya tidak puasa. Tapi biasanya puasa, Mas,” katanya.

Walaupun di tengah kondisi yang tetap mengharuskan mereka mencari sesuap nasi, para pemulung dan pengepul sampah tetap menginginkan cahaya keimanan di bulan yang penuh ampunan, dapat merasuk ke dalam sanubari mereka. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini