atas1

Sejumlah SD Negeri di Klaten Tinggal Kenangan

Kamis, 18 Apr 2019 | 18:57:15 WIB, Dilihat 2964 Kali - Oleh Masal Gurusinga

SHARE


Sejumlah SD Negeri di Klaten Tinggal Kenangan Bangunan SD Negeri Karangdowo 2 yang kurang terawat. (masal gurusinga/koranbernas.id)

Baca Juga : Apnas Yogyakarta Minta KPU Netral dan Profesional


KORANBERNAS.ID -- Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kabupaten Klaten Jawa Tengah semakin berkurang menyusul terbitnya SK Bupati tentang regrouping 27 SD Negeri yang jumlah muridnya sedikit sekali.

Pasca disetujuinya regrouping tersebut maka 27 SD itu sudah tidak lagi menerima peserta didik baru pada tahun pelajaran 2019/2020. Dengan kata lain, sekolah itu nantinya hanya tinggal jadi kenangan.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana (Sarpras) Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Drajad, menyatakan benar digabungnya 27 SD Negeri oleh bupati. Regrouping sekolah tersebut telah diusulkan tahun 2018.

"Benar diregrouping. Tahun pelajaran ini sudah tidak menerima murid baru lagi," katanya kepada koranbernas.id, Kamis (18/4/2019).

Karena tidak lagi menerima peserta didik baru maka siswa dan guru dari sekolah yang diregrouping akan disalurkan ke sekolah negeri terdekat.

Di tempat terpisah, Koordinator Pendidikan Kecamatan Karangdowo, Gunawan, menjelaskan di wilayahnya ada 4 SD Negeri yang disetujui diregrouping.

Sekolah tersebut yakni SD Karangdowo 2 dengan jumlah murid 26, SD Negeri Pugeran 1 dengan 40 siswa, SD Negeri Ringin Putih 2 dengan 51 siswa dan SD Negeri Demangan 3 dengan 30 siswa.

"SD Karangdowo 2 digabung dengan SD Karangdowo 3. Sedangkan SD Ringin Putih 2 dengan SD Ringin Putih 1 dan SD Ringin Putih 3," ujarnya.

Mantan Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Gantiwarno itu menambahkan alasan lain mengapa SD Ringin Putih 2 diregrouping karena tidak ada kepala sekolah dan kondisi bangunan yang rusak.

Sungguh ironis memang keberadaan SD Karangdowo 2. Bangunan sekolah yang berdampingan dengan Kantor Kepala Desa Karangdowo ternyata tidak bisa mendongkrak jumlah murid.

Ke-27 SD Negeri yang diusulkan diregrouping tahun 2018 dan disetujui bupati pada awal 2019 menyebar di sejumlah kecamatan.

Di antaranya SD Kaligayam 2, SD Kalitengah 2 dan SD Pasung 2 di Kecamatan Wedi, SD Drono 1 Kecamatan Ngawen dan SD Kayumas Jatinom.

Kepala Desa Pasung Wedi, Sumarsono mengatakan minimnya jumlah murid di SD Pasung 2 dikarenakan berhasilnya program KB, munculnya sekolah swasta berbasis keagamaan di desa dan sikap orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta sekalipun dengan biaya lebih tinggi dibanding sekolah negeri. (sol)



Kamis, 18 Apr 2019, 18:57:15 WIB Oleh : Sholihul Hadi 841 View
Apnas Yogyakarta Minta KPU Netral dan Profesional
Kamis, 18 Apr 2019, 18:57:15 WIB Oleh : Sholihul Hadi 573 View
Muhammadiyah Serukan Rekonsiliasi Nasional
Rabu, 17 Apr 2019, 18:57:15 WIB Oleh : Nila Jalasutra 594 View
Ini Alasan Pangdam Pantau Pemilu di Sleman

Tuliskan Komentar