saya-lihat-merapi-sangat-dekat-sekaliDelegasi Kota Kagoshima Jepang ketika mengunjungi Museum Gunungapi Merapi di Pakem Sleman,  Rabu (31/7/2019). (istimewa)


bid-jalasutra

Saya Lihat Merapi Sangat Dekat Sekali..

Kesan Delegasi Kagoshima Jepang Saat Kunjungi Sleman
SHARE

KORANBERNAS.ID – Selama tiga hari 29-31 Juli 2019, delegasi Kota Kagoshima Jepang kembali mengunjungi Sleman. Tujuannya untuk belajar sekaligus bertukar pengalaman terkait mitigasi bencana gunung api.

Rombongan itu terdiri dari Kepala Seksi Manajemen Krisis Kota Kagoshima, Takashi Kofuku, Staf Seksi Manajemen Krisi Kagoshima, Takahiro Kambayashi, Direktur Jenderal Organisasi Mitigasi Bencana Gunung Api, Kenji Niihora serta didampingi Direktur Pusat Riset Gunung Api Sakurajima, Prof Masato Iguchi.


Baca Lainnya :

Kagoshima merupakan ibukota prefektur di ujung pulau Kyushu Kepulauan Jepang. Di Kota itu terdapat salah satu gunung api teraktif di dunia  yaitu Gunung Sakurajima yang hanya berjarak empat kilometer dari Kota Kagoshima.

Selama berada di Sleman mereka mengunjungi sejumlah tempat di antaranya Museum Gunung Merapi serta berdialog dengan relawan pencegahan bencana di Dusun Kinahrejo.


Baca Lainnya :

“Dalam perjalanan ke sini saya melihat Gunung Merapi terlihat sangat dekat sekali, masyarakat pasti was-was. Kesiapsiagaan yang dibutuhkan pasti banyak sekali,” ujar Takashi Kofuku.

Takashi Kofuku sempat bercerita mengenai Gunungapi Sakurajima yang hanya berjarak 4 kilometer dari Kota Kagoshima, dipisahkan oleh Teluk Kinko.

Gunungapi Sakurajima juga merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia, yang menurut Takashi pernah mencatat 1.000 letusan setahun.

Selain berdialog, delegasi Kota Kagoshima di Dusun Kinahrejo juga terkesan saat disuguhi simulasi penanganan korban bencana oleh relawan Desa Tanggap Bencana (Destana) Umbulharjo yang didampingi oleh Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto.

Kunjungan delegasi Kota Kagoshima di Kabupaten Sleman diakhiri berdialog dan tukar pendapat dengan jajaran Pejabat Pemerintah Kabupaten Sleman beserta staf pemangku kepentingan mitigasi dan penanganan bencana.

Surat walikota

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menerima langsung delegasi Kota Kagoshima di Ruang Praja I Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman,  Rabu (31/7/2019).

Takashi Kofuku menyampaikan surat yang ditulis Walikota Kagoshima untuk Bupati Sleman berisi ucapan terima kasih atas penerimaan kunjungan tim Kota Kagashima.

Dia menyampaikan, penandatanganan memorandum pada Oktober 2017 terkait dengan pertukaran promosi mengenai pencegahan bencana kegunungapian, pihaknya sangat mengharapkan untuk memperdalam persahabatan Kota Kagoshima dengan Kabupaten Sleman.

“Kami telah mengembangkan berbagai macam tindakan pencegahan bencana kegunungapian dengan hidup berdampingan dengan gunung aktif Sakurajima selama lebih dari 60 tahun. Ketika kami datang berkunjung, kami ingin menggunakan Program Kerja Sama JICA (Japan International Cooperation Agency) dalam memberikan informasi tersebut kepada Anda," ujar Takashi membacakan surat Walikota Kagoshima.

Sri Muslimatun menyampaikan secara geografis, Kagoshima dan Sleman memiliki cukup banyak kesamaan terkait potensi bencana yang mungkin terjadi.

“Kerja sama ini merupakan kesempatan bagi kami untuk menggali informasi dan bertukar pengalaman dari Kota Kagoshima yang memiliki teknologi pencegahan dan sistem peringatan dini yang cukup maju sehingga dapat meminimalisasi korban jiwa maupun material ketika terjadi bencana," katanya.

Sebagai daerah yang berada di lereng gunung berapi, Sleman merupakan salah satu laboratorium bencana karena memiliki sejumlah risiko bencana seperti erupsi gunung berapi, angin topan, tanah longsor dan kekeringan.

Pemkab Sleman menyadari di samping upaya penanggulangan, juga perlu melaksanakan pencegahan bencana serta membangun budaya sadar bencana untuk membangun kesiapsiagaan saat terjadi bencana.

“Kami secara berkelanjutan membangun budaya sadar bencana dengan pelaksanaan gladi lapang penanggulangan bencana, wajib latih bagi kelompok masyarakat dan pelatihan mitigasi bencana. Hingga bulan Juni 2019 telah terbentuk 48 desa siaga bencana dan 63 satuan pendidikan yang telah dinyatakan sebagai sekolah siaga bencana," jelas Sri Muslimatun. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini