atas1

Saat Gareng Pegang Gagang Mikrofon
Pameran Lukisan Herjaka HS di Tembi Rumah Budaya Bantul

Selasa, 11 Des 2018 | 22:29:15 WIB, Dilihat 788 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Saat Gareng Pegang Gagang Mikrofon Gareng Jadi Ratu, karya pelukis Herjaka HS yang dipamerkan di Tembi Rumah Budaya. (istimewa)

Baca Juga : Sering Banjir, Gorong-gorong Jatinom Dibongkar


KORANBERNAS.ID – Gareng, satu dari empat tokoh Punakawan jagad pewayangan ini identik dengan perilaku cengengesan. Apa jadinya jika sosok yang jalannya pincang itu tiba-tiba macak berdasi kemudian berpidato di hadapan khalayak. Dia tampil percaya diri, tangannya memegang gagang mikrofon.

Tentu saja, kisah seperti itu tidak bisa ditemukan dalam pergelaran wayang kulit sesungguhnya yang penuh pakem dan aturan main. Akan tetapi, gambaran mengenai sosok Gareng Jadi Ratu ini secara menarik berhasil divisualisasikan oleh pelukis Herjaka HS.

Dengan kepiawaiannya, Herjaka mampu menangkap karakter Gareng yang bermata melolo dan kaki kirinya seperti setengah menginjak bumi itu. Di hadapannya terlihat para buta (raksasa) bersuka ria, seakan-akan menyambut gegap gempita isi pidatonya.

Gareng Jadi Ratu merupakan salah satu karya Herjaka yang dipamerkan di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Tembi Sewon Bantul mulai 14 Desember 2018 sampai 7 Januari 2019, bersamaan dengan diluncurkannya Novel Sawitri Oh Sawitri serta pameran patung karya Sebastianus Damar Pradipta (Adip) dengan tema Gonjang-ganjing Kesetiaan.

Aja Turu Sore Kaki, karya Herjaka HS. (istimewa)

Pembukaan pameran dijadwalkan Jumat (14/12/2018) malam, oleh Landung Simatupang. Dipandu Anissa Hertami, Landung terlebih dahulu membaca episode Novel Sawitri.

Selain Gareng Jadi Ratu, Herjaka juga memamerkan karyanya berjudul Nut Jaman Kelakone, Aja Turu Sore Kaki, Sabda Rahayu, dan lain-lain.

Mengenai novel Sawitri Oh Sawitri, N Nuranto dalam kata pengantarnya menuliskan, tokoh Sawitri dalam novel tersebut menggambarkan kesetiaan hidup yang utuh dan tuntas. Utuh artinya tidak mendua dan tuntas karena sampai selesai.

“Setiap orang dapat melakukan seperti yang dilakukan Sawitri. Seorang abdi negara, misalnya, dapat dikatakan setia jika mampu melayani dengan baik, adil dan tidak korupi sampai masa pensiun,” ucapnya.

Sabda Rahayu, karya Herjaka HS. (istimewa)

Kesetiaan ibarat kandungan emas yang dianugerahkan kepada manusia. Emas tetap kuning bercahaya walaupun berada di comberan. Tidak larut dalam air dan semakin bersinar dalam api.

Seorang manusia dikatakan setia ketika  sampai akhir hidupnya masih menyimpan dan menjaga kandungan emas yang dianugerahkan, tidak menukargadaikan dengan kenikmatan duniawi.

Menurut Nuranto, Gonjang-ganjing Kesetiaan adalah perjuangan mempertahankan kandungan emas. Emas itu anugerah yang paling bernilai dalam hidup manusia, maka tidak heran banyak godaan dengan seribu iming-iming yang menggiurkan untuk merebut emas dari tangan manusia.

Nut Jaman Kelakone, karya Herjaka HS. (istimewa)

Walaupun hidup manusia ada batasnya namun keesetiaan tidak ada batasnya. Kesetiaan tidak hanya hidup di masa lalu tetapi juga masa sekarang dan yang akan datang.

Artinya, manusia yang menghidupi kesetiaan sampai ujung hidupnya niscaya dia bersama kesetiaannya bakal menembus waktu, untuk hidup abadi dan bertemu Yang Empunya Kesetiaan. (sol)



Senin, 10 Des 2018, 22:29:15 WIB Oleh : Masal Gurusinga 540 View
Sering Banjir, Gorong-gorong Jatinom Dibongkar
Senin, 10 Des 2018, 22:29:15 WIB Oleh : Sholihul Hadi 548 View
ACT DIY Bekali Santri dengan Mitigasi Bencana
Sabtu, 08 Des 2018, 22:29:15 WIB Oleh : Sari Wijaya 505 View
Kelak, Wilayah Ini Tak Lagi Sulit Air

Tuliskan Komentar